Senin, 25 April 2011

Kisah ASAL USUL IKAN PATIN

Ikan patin adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini banyak dijumpai di sungai-sungai di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Bentuk ikan patin cukup unik. Badannya panjang dan berwarna putih dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Selain itu, ikan patin juga mengandung protein hewani yang cukup tinggi dan rasanya pun gurih. Meski demikian, tidak semua masyarakat Kalimantan Tengah mau memakannya. Mengapa demikian? Temukan jawabannya dalam cerita Asal-Usul Ikan Patin berikut ini.



Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Si Suami bernama Labih, sedangkan istrinya bernama Manyang. Walau hidup miskin, mereka senantiasa hidup rukun, damai dan bahagia. Keduanya saling menyayangi. Ke mana saja pergi, mereka selalu berdua dan saling membantu dalam setiap pekerjaan. Ketika Labih ke hutan mencari kayu atau mencari ikan di sungai, istrinya selalu menyertainya. Sudah hampir sepuluh tahun mereka menjalani hidup berdua tanpa kehadiran seorang anak. Mereka setiap hari berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang untuk mengisi hari-hari mereka. Namun, sebelum mendapatkan anak, Manyang meninggal dunia karena sakit. Maka tinggallah Labih seorang diri. Hidupnya pun semakin terasa sepi.
Labih adalah seorang suami yang sabar. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Meski demikian, ia tetap tekun dan rajin bekerja. Sejak ditinggal mati istrinya, ia tetap menjalani hidupnya seperti biasanya. Setiap pulang dari hutan mencari kayu bakar, ia selalu meluangkan waktunya mencari ikan di sungai untuk dijadikan lauk. Begitulah kegiatan Labih setiap hari hingga ia menjadi seorang kakek.
Pada suatu hari, Labih pergi memancing ikan di Sungai. Setelah memasang kailnya, ia duduk sambil menunggu ikan memakan umpannya. Hari itu, ia sangat berharap bisa mendapatkan ikan, karena persediaan lauk untuk makan malam sudah habis. Dengan penuh harap, ia bersiul-siul sambil memegang gagang kailnya. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba gagang kailnya bergetar. Ia pun segera menyentakkan dan menarik kailnya ke tepi. Alangkah kecewanya kakek itu saat melihat benda yang menggantung di ujung kailnya.
�Wah! Aku kira ikan besar, ternyata hanya ranting kayu,� gumam Labih seraya melepas ranting kayu itu dari mata kailnya.
Setelah itu, Labih kembali memasang kailnya dengan umpan yang lebih besar dengan harapan bisa mendapatkan ikan yang besar pula. Sudah berjam-jam ia memancing, namun belum seekor ikan pun yang memakan umpannya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus menunggu pancingnya. Ia menyadari bahwa pekerjaan memancing membutuhkan kesabaran.
�Ah, aku tidak boleh putus asa. Aku harus menunggu sampai mendapatkan ikan,� gumam Labih seraya melemparkan kailnya ke tengah sungai.
Ternyata benar, kesabaran Labih membuahkan hasil. Tidak berapa lama setelah ia melemparkan kailnya, tiba-tiba seekor ikan besar melahap umpannya. Ikan itu menarik kailnya ke sana kemari hendak melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga, ia pun segera menarik dan mengangkat kailnya ke tepi sungai. Betapa gembiranya hati Labih saat melihat seekor ikan terkail di ujung kailnya. Ia sangat takjub, karena selama bertahun-tahun memancing di sungai itu baru kali ini ia memperoleh ikan sebesar itu. Setelah ia amati secara seksama, ternyata ikan itu adalah ikan patin.
�Waaah, besar sekali ikan patin ini! Dagingnya pasti gurih dan lezat,� ucapnya dengan takjub.
Setelah itu, Labih pun memutuskan untuk berhenti memancing, karena merasa ikan itu sudah cukup untuk dimakan selama beberapa hari. Begitulah setiap kali Labih memancing, ia tidak pernah mengambil ikan di sungai itu lebih dari cukup. Sebab, ia menyadari bahwa besok atau lusa ia akan kembali lagi memancing di sungai itu. Akhirnya, dengan perasaan gembira, Labih membawa pulang ikan patin itu ke rumahnya lalu meletakkannya di dapur. Kemudian ia segera mencari pisau hendak membelah ikan itu. Namun, pisau yang biasa ia gunakan membelah ikan ternyata sudah tumpul. Ia pun segera mengasah pisau itu di atas batu yang berada di samping rumahnya.
Alangkah terkejutnya Labih setelah kembali ke dapurnya. Ia mendapati seorang bayi perempuan mungil dan cantik. Wajah bayi itu tampak kemerah-merahan. Bulu matanya lentik dan rambutnya sangat hitam dan ikal. Melihat bayi itu, Labih menjadi bingung dan gugup ingin menyetuhnya, karena selama hidupnya belum pernah mengurus bayi. Ia berusaha untuk menepis perasaan gugup itu dan meyakinkan dirinya bahwa bayi itu adalah titipan Tuhan yang diamanatkan kepadanya untuk dirawat yang harus ia syukuri. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk merawat bayi itu dan memberinya nama Leniri.
Ketika Labih hendak mengangkat dan menimang-menimangnya untuk dimandikan, Leniri tersenyum. Labih pun membalasnya dengan senyuman kasih sayang. Namun, ketika Labih memandikannya, Leniri tiba-tiba menangis dengan keras.
�Oaaa... oaaa... oaaa...!�
Labih pun segera menghiburnya sambil mengusap-usap keningnya.
�Cup, cup, cup! Leniri anakku, diamlah!�
Leniri pun terdiam dan kembali tersenyum. Usai memandikannya, Labih menghangatkan tubuh Leniri dengan sehelai kain, lalu membuatkannya bubur dan menyuapinya sesuap demi sesuap. Setelah Leniri kenyang, kakek itu membuatkannya ayunan di tengah-tengah rumah. Perlahan-lahan, ia mengayun Leniri sambil bersenandung.
�Leniri sayang, anakku seorang... Cepatlah besar menjadi gadis dambaan...�
Tak berapa lama Leniri pun tertidur pulas dalam ayunan mendengar senandung Labih.  Sejak itu, Labih merawat dan membesarkan Leniri dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang melimpah. Saat Leniri beranjak remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Tak lupa pula ia menanamkan budi pekerti kepada putri kesangannya itu. Bahkan, seringkali ia mengajaknya mencari kayu bakar di hutan dan memancing ikan di sungai untuk mengenalkan alam secara lebih dekat kepadanya.
Waktu terus berjalan. Leniri tumbuh menjadi gadis cantik dan berbudi, penurut, dan rajin membantu ayahnya. Ia juga pandai bergaul dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya. Ia pun menjadi dambaan semua pemuda di kampung itu. 

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan yang bernama Simbun hendak melamar Leniri.
�Permisi! Bolehkah saya masuk?� seru Simbun dari depan rumah.
�Silahkan, Anak Muda!� jawab Labih yang sedang duduk bersantai bersama Leniri.
Setelah anak muda itu duduk, Leniri pun segera masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman. Sementara itu, Labih segera mempersilahkan pemuda yang belum dikenalnya itu untuk duduk.
�Anak Muda, Engkau ini siapa?� tanya Labih.
�Maaf, apabila kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan. Nama saya Simbun. Saya berasal dari kampung sebelah,� jawab Simbun.
�Ada yang bisa kubantu, Simbun?� Labih kembali bertanya.
�Sebenarnya, maksud kedatang saya kemari ingin melamar putri Tuan yang bernama Leniri itu. Jika diperkenankan, saya berjanji akan membahagiakannnya, Tuan,� ungkap Simbun.
Mengetahui maksud kedatangan Simbun, Labih terdiam sejenak. Ia ragu untuk memberikan jawaban, karena putrinya adalah keturunan ikan patin. Ia tidak ingin asal-usul putrinya yang selama ini dirahasiakannya diketahui oleh orang banyak. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya Labih memberi jawaban.
�Baiklah, Simbun! Aku bersedia menikahkanmu dengan Leniri, tapi kamu harus memenuhi satu syarat,� kata kakek itu.
�Apakah syarat itu, Tuan?� tanya Simbun penasaran.  
�Begini, Simbun! Sebenarnya, Leniri itu adalah keturunan ikan patin. Kakek menemukannya saat Kakek sedang memancing di Sungai dua puluh tahun yang lalu. Jika kamu berjanji untuk tidak menyakiti hati Leniri dengan mengungkap asal-usulnya, maka kamu boleh menikahinya,� jawab Labih.
�Baiklah, Kek! Saya berjanji tidak akan menyakiti hati Leniri. Saya akan menyayanginya sepenuh hati,� ucap Simbun.
Akhirnya, Labih pun menerima lamaran Simbun. Tak berapa lama kemudian, Leniri pun keluar dari dapur sambil membawa minum untuk ayah dan tamunya. Usai menyuguhkan minuman, Leniri duduk di samping ayahnya sambil tertunduk malu-malu.
�Leniri, Anakku! Kenalkan anak muda ini, namanya Simbun. Kedatangannya kemari hendak melamarmu,� kata Labih.
�Iya, Ayah! Niri sudah mendengarkan semua pembicaraan ayah dengan Simbun. Niri yakin, semua keputusan Ayah adalah demi kebahagiaan Niri juga,� jawab Leniri.
Labih pun mengerti maksud jawaban dari putrinya bahwa ia pun menerima lamaran itu dan bersedia mengarungi kehidupan rumah tangga bersama Simbun. Akhirnya, Simbun dan Leniri pun menikah. Mereka hidup rukun dan berbahagia. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Ari.
Suatu hari, ketika Simbun akan berangkat bekerja, Leniri memintanya untuk menunggui Ari yang sedang tertidur di ayunan. Leniri  akan pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Hari itu, cucian Leniri cukup banyak, sehingga memakan waktu lama untuk mencuci dan menjemurnya. Hari menjelang siang, Leniri belum juga pulang dari sungai. Simbun pun mulai kesal menunggu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul istrinya. Namun, ketika ia hendak berangkat, tiba-tiba anaknya terbangun dan menangis keras. Ia pun bertambah kesal dan marah. Tanpa disadarinya, tiba-tiba ia berucap:
�Dasar! Ibumu memang keturunan ikan! Jika bertemu dengan air, pasti ia tidak mau berhenti!�
Tanpa sepengetahuannya, Leniri telah kembali dari sungai dan mendengar ucapannya itu. Leniri pun tidak sanggup menahan air matanya, karena sedih. Ia tidak pernah menyangka kalau suaminya akan melanggar janji yang telah diucapkan ketika akan menikahinya.
�Tidak ada lagi gunanya aku tinggal di sini. Suamiku sudah tidak sayang lagi kepadaku,� gumam Leniri.
Usai bergumam, Leniri masuk ke dalam rumah dan mendekati putranya yang sedang menangis. Setelah menyusuinya, ia menghampiri suaminya.
�Bang! Jagalah anak kita baik-baik. Adik harus kembali ke tempat asal Adik di sungai. Abang telah melanggar janji Abang sendiri,� kata Leniri.
Simbun tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa bersalah dan sangat menyesal, karena telah menyakiti hati istrinya. Ketika ia hendak meminta maaf, Leniri sudah keburu pergi. Ia berusaha mengejarnya hingga ke tepi sungai, namun Leniri telah menjadi seekor ikan patin.
�Istriku! Kembalilah...!� teriak Simbun dari tepi sungai.
Namun teriakannya sia-sia. Leniri sudah berenang hingga ke tengah sungai dan menghilang. Sejak itu, Simbun harus merawat dan membesarkan anaknya seorang diri.
* * *
Demikian cerita Asal-Usul Ikan Patin dari daerah Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang hingga kini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat setempat. Cerita di atas mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu: keutamaan sifat sabar dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat mengikari janji.
Pertama, keutamaan sifat sabar. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat sabar adalah hal yang penting dan diutamakan. Orang yang selalu bersabar dalam menghadapi berbagai masalah, maka kebaikan akan selalu bersamanya. Tuhan akan memberinya nikmat yang lebih baik dan lebih luas. Hal ini digambarkan oleh sifat dan perilaku Labih yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala permasalahan. Berkat kesabarannya tersebut, Tuhan pun memberinya seorang anak perempuan yang cantik bernama Leniri.
Kedua, akibat buruk dari sifat ingkar janji. Sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Orang yang ingkar janji, tidak hanya menyakiti dan mengecewakan hati orang lain, tetapi juga menyikiti hati sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengucapkan janji agar terhindar dari hal-hal yang dapat menyakiti hati sendiri dan hati orang lain. Hal ini terlihat dalam cerita di atas ketika Simbun mengingkari janjinya untuk tidak menyakiti hati Leniri. Akibatnya, Leniri pun pergi meninggalkannya, karena sakit hati.
Selain itu, sifat ini juga dipantangkan karena termasuk salah satu ciri orang munafik. Salah satu petuah amanah tentang sifat munafik ini disebutkan dalam ungkapan Melayu seperti berikut: 

apa tanda orang munafik,
lidah bercabang, akal berbalik
Baca selengkapnya

Kisah DOHONG DAN T INGANG

Dohong adalah seorang pemuda kampung yang sehari-harinya menangkap burung di hutan di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Suatu hari, sepulang dari menangkap burung, Dohong dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis cantik jelita di pondoknya. Siapakah gadis cantik itu? Lalu apa yang akan dilakukan Dohong terhadap gadis cantik itu? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Dohong dan Tingang berikut ini.



Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Kalimantan Tengah ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kalang. Raja yang memerintah kerajaan tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Intan. Selain cantik, Putri Intan adalah seorang gadis yang berperangai baik, santun dalam berbicara, sopan dalam bergaul, dan hormat kepada yang tua. Tak heran, jika seluruh rakyat negeri itu sayang dan hormat kepadanya, kecuali seorang dayang istana. Setiap kali Putri Intan mendapat pujian dari rakyatnya, dayang yang satu ini selalu menunjukkan sikap tidak senang dan iri hati kepada sang Putri.
�Awas kau Putri! Suatu saat nanti aku akan menyingkirkanmu dari istana ini!� ucap dayang itu geram.
�Tapi, bagaimana caranya?� gumamnya bingung.
Setelah sekian lama berpikir, dayang itu pun menemukan sebuah cara untuk menyingkirkan Putri Intan dari istana.
�Hmmm... aku tahu caranya. Aku akan menyebarkan fitnah dengan menceritakan kepada semua orang bahwa Putri Intan selalu memperlakukanku secara semena-semana. Aku juga akan melaporkan kepada Raja bahwa ia selalu memeras rakyat,� pikirnya.
Keesokan harinya, dayang itu melaksanakan tipu muslihatnya. Dalam waktu tidak terlalu lama, fitnah tersebut telah menyebar hingga ke seluruh penjuru negeri. Seluruh rakyat pun terhasut oleh cerita yang dibuat-buat oleh dayang tersebut, sehingga mereka berubah sikap terhadap Putri Intan. Setelah berhasil menghasut seluruh rakyat negeri, dayang itu pun mencoba untuk menghasut sang Raja.
�Ampun, Baginda Raja! Perilaku putri Baginda benar-benar sudah keterlaluan. Ia telah membuat aib bagi keluarga istana. Sebagai seorang putri Raja, tidak sepantasnya ia berperilaku demikian. Untuk menjaga martabat kerajaan ini, sebaiknya Putri Intan dikeluarkan dari istana,� hasut dayang itu.
Tipu muslihat dan hasutan dayang itu berhasil memengaruhi Raja, sehingga ia pun menjadi benci kepada putrinya sendiri. Putri Intan pun mulai bingung melihat sikap orang-orang di sekitarnya, termasuk ayahandanya, yang tiba-tiba membencinya. Suatu hari, Putri Intan bertanya kepada ibundanya.
�Bunda! Apa salah Ananda hingga orang-orang membenci Ananda?�
�Putriku, barangkali ada ucapan atau perilaku Nanda yang kurang baik terhadap orang lain yang tidak Nanda sadari. Mulai sekarang, Nanda harus lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak,� ujar permaisuri.
Putri Intan semakin bingung, karena ia merasa bahwa selama ini tidak pernah menghina apalagi menganiaya orang lain. Oleh karena penasaran ingin mengetahui penyebabnya, ia pun bertanya kepada dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Namun, tak satu pun di antara mereka yang mengetahuinya.
Sementara itu, si dayang yang iri hati tersebut terus menghasut sang Raja, sehingga kebencian sang Raja semakin menjadi-jadi. Berkali-kali sang Putri menghadap untuk menanyakan kesalahannya, namun sang Raja tidak menghiraukannya. Ia lebih percaya pada ucapan dayangnya tersebut. Akhirnya, suatu ketika sang Raja pun mengusir putrinya dari istana.
�Dasar, anak tidak tahu diri! Kamu tidak pantas menjadi putri kerajaan ini. Pergi dari istana ini!� usir sang Raja.
Dengan perasaan sedih dan deraian air mata, Putri Intan pergi meninggalkan istana. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil berdoa kepada Tuhan.
�Ya Tuhan Yang Maha Adil tunjukkanlah keadilan-Mu kepada hamba! Siapakah yang menyebarkan fitnah ini?� ucap Putri Intan.
Sejak itu, Putri Intan menjadi rakyat biasa. Ia tinggal di pinggir hutan seorang diri karena semua warga telah membencinya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mencari buah-buahan dan berburu binatang di hutan sekitarnya. Ia menjalani hidupnya dengan pasrah dan tidak dendam kepada orang yang telah memfitnahnya. Namun, ia yakin bahwa cepat atau lambat keadilan pasti akan datang.
Suatu hari, Putri Intan sedang berburu binatang di hutan itu. Sudah setengah hari ia berburu namun belum juga mendapatkan binatang buruan. Ia pun memutuskan untuk berburu hingga ke tengah-tengah hutan. Setelah beberapa jauh berjalan, sampailah ia di tengah hutan yang sangat lebat. Di sekelilingnya terdapat banyak pohon besar yang daunnya sangat rindang. Suasana tempat itu agak gelap karena sinar matahari terlindung oleh lebatnya dedaunan. Saat mengamati keadaan di sekitarnya, tiba-tiba Putri Intan dikejutkan oleh suara tawa yang sangat menyeramkan.
�Hi... hi... hi... hi....!!!�
Mendengar suara itu, jantung Putri Intan tiba-tiba berdebar kencang. Ia pun mundur beberapa langkah sambil mengelus-elus dadanya karena ketakutan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya sedang memegang sebuah tongkat. Wajah nenek itu sangat mengerikan dan rambutnya panjang acak-acakan. Rupanya nenek itu baru saja menyelesaikan pertapaannya.
�Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan kenapa berada di tengah hutan ini?� tanya nenek sihir itu.
�Aku Putri Intan. Aku diusir oleh ayahandaku dari istana,� jawab Putri Intan.
�Wah... kebetulan sekali aku bertemu dengan gadis yang terbuang. Aku ingin mencoba ilmu yang baru kuperoleh dari pertapaanku. Aku akan menyihirmu menjadi seeokor binatang,� kata nenek itu.
�Ampun, Nek! Jangan sihir aku!� pinta Putri Intan mengiba.
Berkali-kali Putri Intan mengiba, namun nenek sihir itu tidak menghiraukannya. Nenek itu kemudian membaca mantra sambil mengacung-acungkan tongkatnya. Tak pelak lagi, Putri Intan pun terkena sihir nenek itu dan serta merta berubah menjadi seekor burung tingang.
�Sihir di tubuhmu akan hilang jika kamu bertemu dengan pemuda yang akan membawamu kembali ke istana,� kata nenek itu.
Usai menyihir Putri Intan, nenek itu tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan burung tingang jelmaan Putri Intan terbang ke sana kemari sambil berkicau merdu. Sejak itu, burung tingang hidup di tengah hutan tersebut. Ia terbang dari satu pohon ke pohon lainnya mencari makanan.
Pada suatu hari, burung tingang itu hinggap di sebuah pohon yang berbuah lebat.  Betapa terkejutnya ia ketika akan meninggalkan pohon itu, kakinya terikat oleh perangkap sehingga tidak dapat bergerak. Berkali-kali ia meronta-ronta sambil mengepak-ngepakkan sayapnya hendak melepaskan diri, namun usahanya tetap gagal. Akhirnya, ia pun pasrah sambil berharap ada orang yang akan menolongnya.
Tak berapa lama kemudian, burung tingang mendengar langkah seseorang yang mendekat. Ia pun cepat-cepat berkicau merdu sambil meronta-ronta untuk menarik perhatian orang yang lewat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang pemuda tampan bernama Dohong. Ia bermaksud memeriksa perangkap yang dipasangnya kemarin. Rupanya, perangkap yang menjerat kaki burung tingang itu adalah miliknya.
Pemuda itu sangat gembira saat melihat seekor burung tingang meronta-ronta terkena perangkapnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera naik ke atas pohon untuk mengambil burung tangkapannya. Setelah memasang kembali perangkapnya, pemuda itu mengamati burung itu secara seksama.
�Wah, cantik sekali burung ini! Bulunya indah dan halus, matanya bening berbinar, kicauannya pun sangat merdu. Selama hidupku, baru kali ini aku memperoleh burung secantik ini,� ucap Dohong dengan kagum.
Dengan perasaan senang, Dohong segera membawa pulang burung itu untuk dipelihara. Setibanya di pondok, ia pun memasukkannya ke dalam sebuah sangkar yang terbuat dari rotan. Setiap hari ia merawat burung tingang itu dengan sangat teliti.
Keesokan harinya, Dohong kembali ke tengah hutan untuk memeriksa perangkapnya. Namun, sial nasib Dohong hari itu, karena tak seekor pun burung yang diperolehnya. Ketika hari menjelang siang, ia pun memutuskan untuk kembali ke pondoknya, karena tidak kuat lagi menahan rasa lapar.
Betapa terkejutnya ketika Dohong sampai di pondoknya. Ia melihat makanan lezat telah tersaji dan siap untuk disantap. Makanan tersebut benar-benar membangkitkan seleranya, apalagi perutnya dalam keadaan lapar, sehingga Dohong tidak memikirkan lagi siapa orang yang telah menyiapkan makanan tersebut. Ia pun segera menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.
Keesokan harinya, sepulang dari hutan, Dohong kembali mendapati makanan lezat telah tersaji di pondoknya. Kejadian aneh tersebut terulang hingga tiga hari berturut-turut. Dohong pun mulai penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan semua itu.
Pada hari berikutnya, pemuda tampan itu berpura-pura hendak memeriksa perangkapnya. Sebelum hari menjelang siang, ia masuk ke pondoknya dengan langkah hati-hati. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat asap tebal keluar dari sangkar burungnya. Dalam sekejap, tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari asap itu. Ia sangat terpana melihat kencantikan gadis itu, dan kemudian menghampirinya.
�Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan dari mana asalmu?� tanya Dohong.
�Ampun, Tuan! Aku adalah Putri Intan dari Kerajaan Kalang. Keberadaanku di sini karena nasib buruk telah menimpaku. Ayahandaku mengusirku dari istana. Setelah itu, seorang nenek menyihirku menjadi burung tingang saat aku berada di tengah hutan,� jelas Putri Intan.
�Maaf, Tuan Putri! Mengapa Tuan Putri diusir dari istana?� tanya Dohong ingin tahu.
Putri Intan pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai ia berada di pondok pemuda itu. Setelah itu, ia meminta kepada Dohong agar mengantarnya kembali ke istana. Jika Dohong memenuhi permintaannya, maka sihir nenek itu akan hilang dengan sendirinya.
�Baiklah, Tuan Putri! Saya bersedia mengantar Tuan Putri ke istana,� kata Dohong.
Keesokan harinya, keduanya pun berangkat ke istana. Selama dalam perjalanan, Putri Intan pun tidak pernah lagi berubah wujud menjadi burung tingang. Pengaruh sihir nenek itu benar-benar telah hilang.
Sesampainya di istana, Dohong pun menceritakan semua yang dialami Putri Intan kepada Raja Kalang dan permaisuri. Akhirnya, Raja Kalang pun mengerti bahwa putrinya difitnah oleh seorang dayang istana. Seketika itu pula, ia mengumpulkan seluruh dayang-dayangnya. Setelah menanyai mereka satu persatu, akhirnya ia menemukan dayang yang telah memfitnah putrinya. Raja Kalang sangat menyesal karena lebih percaya pada kata-kata dayang itu daripada kata-kata putrinya.
�Maafkan Ayah, Putriku! Ayah telah membuatmu menderita, karena mengusirmu dari istana,� ucap Raja Kalang.
Setelah itu, Raja Kalang pun menghukum dayang itu dengan memasukkannya ke dalam penjara. Kemudian ia menikahkan Dohong dengan putrinya dan menobatkannya menjadi pewaris tahta Kerajaan Kalang. Dohong dan Putri Intan pun hidup berbahagia.
* * *
Demikian cerita Dohong dan Tingang dari daerah Kalimantan Tengah. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu buah dari sifat suka menolong dan ganjaran yang diterima dari sifat suka memfitnah.
Pertama, buah dari sifat suka menolong. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Dohong yang telah membantu menghilangkan pengaruh sihir yang mengenai Putri Intan dengan cara mengantarnya kembali ke istana. Akhirnya, ia pun dinikahkan dengan Putri Intan dan dinobatkan menjadi Raja Kalang. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadikan azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh rahmat

Kedua, ganjaran yang diterima dari sifat suka memfitnah. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku seorang dayang istana yang telah memfitnah Putri Intan. Akibatnya, ia pun dihukum setelah perbuatannya diketahui oleh Raja Kalang. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
kalau suka fitnah memfitnah,
diri hina, marwah pun punah
kalau suka memfitnah orang,
alamat hidup menjadi arang
Baca selengkapnya

Kisah PALUI

Palui adalah seorang remaja laki-laki yang tinggal di sebuah desa di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Pada suatu hari, ia pergi menangkap kawanan burung yang banyak terdapat di atas pohon beringin di tepi sungai. Tanpa disadarinya, kawanan burung tersebut membawanya terbang tinggi ke udara. Bagaimana kawanan tersebut membawa terbang si Palui? Berhasilkah Palui menyelamatkan diri? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Palui berikut ini.



Alkisah, di sebuah kampung di daerah Kalimantan Tengah, hiduplah sepasang suami-istri bersama empat orang anaknya yang masih berumur belasan tahun. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sang Suami mencari ikan di sungai. Dalam mencari ikan, Sang Ayah biasanya dibantu oleh anak sulungnya yang bernama Palui.
Pada suatu hari, sang Ayah sakit, sehingga untuk mencari ikan Palui harus berangkat sendiri ke sungai. Sesampainya di sungai, Palui segera memasang jaringnya. Setelah itu, ia duduk di tepi sungai sambil menunggu ikan-ikan terperangkap jaringnya. Setelah beberapa lama menunggu, ia turun ke sungai untuk memeriksa jaringnya. Usai diperiksa, ternyata jaringnya masih tetap kosong. Palui memasang kembali jaringnya dan kemudian duduk di tepi sungai sambil bersiul-siul. Kali ini, ia membiarkan jaringnya terpasang agak lama dengan harapan bisa memperoleh ikan yang banyak. Namun, Palui benar-benar sial hari itu, di jaringnya tak seekor ikan pun yang terperangkap.
�Aneh, kenapa tak seekor ikan pun yang terperangkap? Jangan-jangan jaring ini robek,� pikirnya.
Setelah diteliti secara seksama, tak satu pun lubang yang ia temukan. Oleh karena kesal dan kecewa, akhirnya Palui memutuskan untuk berhenti memancing dan ingin beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon beringin yang berada di tepi sungai. Tengah asyik menikmati sejuknya hawa dingin di bawah pohon itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda kecil berwarna merah menimpa dirinya. Ketika menengadahkan wajahnya ke atas pohon, ia melihat buah beringin yang sangat lebat. Ada yang berwarna kuning dan ada pula yang merah. Saat akan mengalihkan pandangannya, tiba-tiba ranting-ranting pohon itu bergerak-gerak.
�Hai, ada apa di balik ranting itu?� gumamnya.
Setelah diamati dengan seksama, ia melihat beraneka ragam burung seperti baliang, tingang, punai dan murai sedang makan buah beringin. Melihat kawanan burung itu, rasa sedih dan kecewanya sedikit terobati dan berniat untuk menangkapnya. Pohon beringin itu cukup tinggi. Namun hal itu tidak membuat Palui mengurungkan niatnya untuk menangkap burung-burung tersebut. Ketika akan naik ke atas pohon, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
�Ah, tidak mungkin aku bisa menangkap kawanan burung itu dengan tangan kosong. Tapi, dengan apa aku bisa menangkap mereka?� tanya Palui dalam hati bingung.
Setelah berpikir sejenak, Palui langsung teringat pada jaring ikannya.
�Ahah, kalau begitu, jaring ini akan kugunakan sebagai perangkap untuk menangkap kawanan burung itu,� gumamnya.
Dengan penuh semangat, Palui pun segera memanjat pohon itu sambil membawa jaring ikannya. Melihat kedatangan Palui, kawanan burung yang sedang berpesta makan itu merasa terusik dan langsung beterbangan meninggalkan pohon. Sementara Palui terus saja naik tinggi ke atas pohon dan segera memasang jaringnya mengintari ranting-ranting yang berbuah lebat. Ia mengingkatkan tali jaringnya pada batang bohon beringin dengan kuat. Setelah yakin benar bahwa jaring yang telah dipasangnya sudah kuat, ia pun segera turun dari pohon dan segera menuju ke jukungnya yang sedang ditambatkan di tepi sungai. Palui bermaksud pulang ke rumahnya dan membiarkan jaringnya di atas pohon itu. Ia mengayuh jukungnya sambil bersiul-siul membayangkan burung-burung itu terperangkap di dalam jaringnya.
Setelah dua hari, ia pergi memeriksa jaring perangkapnya. Dengan penuh harapan, ia mengayuh perahunya dengan cepat ke arah tepi sungai tempat pohon beringin itu berada. Sesampainya di bawah pohon beringin, ia pun menambatkan jukungnya pada sebuah batang kayu dan segera melompat ke darat. Dari bawah pohon beringin itu, ia melihat jaring perangkapnya sedang bergerak-gerak. Setelah diamati, ternyata banyak sekali burung yang terperangkap di dalam jaringnya. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung naik ke atas pohon. Sesampainya di atas, ia berdecak kagum melihat beraneka burung yang bulunya berwarna-warni, berukuran besar mapun kecil menggelepar-gelepar di dalam jaringnya.
�Waaah, indah sekali warna bulu burung-burung ini,� ucapnya.
Usai mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba Palui dihinggapi rasa bingung.
�Mau diapakan burung sebanyak ini?� gumam Palui.
Pada mulanya, Palui berniat untuk membunuh kawanan burung itu. Tapi karena sayang pada burung-burung tersebut, akhirnya ia  mengurungkan niatnya. Setelah itu, ia kembali berpikir bahwa seandainya burung-burung itu dibawa pulang, ia akan kesulitan membawanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memeliharanya. Ia kemudian memotong-motong tali panjang yang dibawanya dari rumah, lalu mengikat kaki burung-burung tersebut satu per satu dan mengikatkannya pada pinggangnya. Setelah sekeliling pinggangnya penuh, ia mengikatkannya pada anggota badannya yang lain.
Sementara mengikat burung yang lain, beberapa burung yang sudah terikat mulai mengepak-ngepakkan sayapnya hendak terbang. Ketika sedang mengikat burung yang terakhir, tiba-tiba Palui merasa tubuhnya menjadi ringan. Makin lama makin ringan. Tubuhnya kian mengambang dan terus  meninggi. Ia baru sadar bahwa dirinya diterbangkan burung ketika tubuhnya sedang melayang-layang di udara. Kawanan burung tersebut terbang menuju ke arah kampung tempat tinggal Palui.
Betapa senang dan gembiranya hati Palui. Ia tertawa bangga diterbangkan oleh kawanan burung tersebut.
�Kalian baik sekali, burung! Aku tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga untuk mengayuh jukungku pulang ke rumah,� kata Palui kepada burung-burung itu.
Semakin lama, Palu bersama kawanan burung itu terbang semakin tinggi. Palui sangat gembira bisa melihat pemandangan baru. Ia bisa melihat danau dan sungai yang terbentang dan berliku-liku.
Tidak jauh dari depannya, Palui melihat kampung tempat tinggalnya.
�Hai, itu kampungku!� seru Palui.
Saat berada di atas perkampungan, Palui kembali berteriak, �Itu rumahku!�
Dalam hati, Palui berkata bahwa pasti ayah, ibu, dan adik-adiknya akan senang melihat dirinya terbang bersama burung-burung itu. Ketika kawanan burung itu terbang mendekat ke atas rumahnya, Palui melihat adik-adiknya sedang bermain-main di halaman rumah.
�Adik! Aku Terbang!� teriak Palui menarik perhatian adik-adiknya.
Melihat kakaknya terbang bersama kawanan burung itu, salah seorang adiknya berteriak, �Kak Palui! Aku ikut terbang!�
�Tidak usah adikku! Kakak sudah mau turun!� teriak Palui.
Palui kemudian menyuruh kawanan burung itu agar menurunkannya di halaman rumah. Namun kawanan burung itu tetap membawanya terbang berputar-putar di atas rumah-rumah penduduk. Palui pun mulai panik dan takut kalau-kalau kawanan burung itu membawanya terbang ke mana-mana.
�Tolong... Tolong...! Tolong aku, Ibu!� teriak Palui ketakutan.
Ibunya yang mendengar terikannya itu segera keluar dari rumah. Alangkah terkejutnya saat ia melihat Palui diterbangkan burung dan berteriak meminta tolong.
�Ibu... Tolong aku!� Palui kembali berteriak.
�Palui! Lepaskan ikatan burung itu satu-satu!� teriak Ibunya.
Palui pun menuruti saran ibunya. Ia segera melepaskan ikatan burung itu dari pinggangnya satu per satu. Setelah melepaskan ikatan beberapa ekor burung, ia pun mulai terbang merendah. Melihat hal itu, hati Pulai mulai lega. Kemudian ia melepaskan lagi ikatan beberapa ekor burung yang terikat pada anggota badannya. Akhirnya, Palui beserta beberapa burung yang masih tersisa jatuh di halaman rumahnya. Meskipun dirinya selamat, tapi jantung Palui masih berdetak kencang karena panik. Adik-adiknya pun segera menghampirinya.
�Hore... Hore... Kak Palui selamat!� teriak adik-adiknya dengan riang gembira.
Tak berapa lama, ibunya pun datang dan mendekatinya.
�Palui... Palui...! Kamu ini aneh-aneh saja kelakuanmu. Untuk apa burung-burung itu kamu ikatkan di tubuhmu. Untungnya kamu tidak dibawa pergi jauh oleh burung-burung itu. Makanya, kalau mau bertindak dipikir dulu akibatnya!� ujar ibunya.
Palui hanya diam sambil menunduk, karena merasa ia memang bersalah dan telah bertindak ceroboh.
�Maafkan Palui, Bu! Palui sangat menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi,� kata Palui.
Setelah itu, Palui minta minum karena merasa haus sekali setelah dilanda kepanikan. Usai minum, Palui meminta izin kepada ibunya untuk memanggang beberapa ekor burung hasil tangkapannya yang masih tersisa. Kemudian, ia segera menyembelih dan membersihkan burung-burung itu, sedangkan ketiga adiknya sibuk menyiapkan perapian. Setelah bersih dan perapian siap, Palui dibantu adiknya segera memanggang burung-burung itu. Beberapa saat kemudian, terciumlah aroma sedap yang membangkitkan selera makan.
Burung panggang pun siap untuk disantap. Palui bersama adik-adiknya segera menggelar lampit. Keluarga Palui duduk melingkar. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menikmati lezatnya burung panggang. Sang Ibu pun segera menghidangkan burung pangang itu bersama sambal terong asam dan nasi hangat. Mereka makan dengan lahap sekali. Meski demikian, tidak serta merta lauk lezat itu langsung habis. Burung panggang itu masih banyak yang tersisa, sehingga selama tiga hari Palui bersama keluarganya masih makan lauk yang sama, yakni burung panggang.
* * *
Demikian cerita Palui dari daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ganjaran yang diterima dari perbuatan ceroboh, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Palui yang bertindak tanpa memikirkan terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatannya.
Baca selengkapnya

Kamis, 14 April 2011

Inilah CHARLES DARWIN 1809-1882

The same is true with the birth of Abraham Lincoln, February 12, 1809 in Shrewsbury, England. Charles Darwin was the inventor of the theory of organic evolution in the sense that natural selection is at the age of sixteen entered the University of Edinburgh to study medicine, but both the medical and anatomical science that makes it deems bored. Soon he moved to Cambridge to study elements of office administration. Even so, hunt and ride horses in Cambridge digemarinya far more than the learning of science. And even so, she's still able to attract the attention of one of the Grand Masters are encouraged to participate in a voyage on board HMS investigation Beagle as a naturalist. At first her father objected to this appointment. She thought the trip like that is just an excuse just reluctant to make Darwin a serious job. Fortunately, later the father could be persuaded, and bless the journey which ultimately proved to be a journey of the most valuable in the history of European science.
Darwin began to go sailing on board the Beagle in 1831. At that time he was only twenty-two years. Within five years of shipping, ship Beagle sailed the world, scour the coast of South America in an exciting pace, explore the Galapagos Islands a quiet secluded, mengambah islands in the Pacific, the Ocean Indonesia and the southern Atlantic Ocean. In perkelanaan it, Darwin witnessed many miracles of nature, visiting primitive tribes, found a large number of fossils, examine the various kinds of plants and animal species. Furthermore, he made many notes about anything that passes in front of her eyes. These records are the basic ingredient for almost all of his work in the future. From these records are just ideas, and events and experiences to be supporting his theories.
Darwin returned to his country in 1836 and twenty years afterwards he published a line of books, which made him a famous biologist in the UK. Commencing from the year 1837 Darwin convinced that animals and plants are not fixed, but changes in the course of geological history. At that time he was not aware of what causes the occurrence of evolution. In 1838 he read an essay "Concerning the principles of population" Thomas Malthus. Malthus's book is menyuguhkannya the facts that led more convinced of natural selection through competition to sustain life. Even after Darwin succeeded in formulating the principles of natural selection, he was in no hurry to print and publish it. He was conscious, his theory would invite challenges. Therefore, he takes a long time carefully preparing the evidence and put the horses to maintain the hypothesis if there are attacks.
The outline of the theory written in 1842 and in 1844 he began compiling his book at length. In June 1858, when Darwin was still being added to increase and improve the book by size, he received a manuscript from Alfred Russel Wallace (a British naturalist who was located in the East) outlined his own theory of evolution. In each of the basic problems, along with Wallace's theory Darwin's theory! Wallace was developing his theory is really standing on his own mind and send the manuscript to Darwin's writings to ask for opinions and commentary from prominent scientists signed it before printing. The situation was bad because it is easy to grow so the fight is not desired to scramble priorities. Way out, both Wallace's script and the outlines of Darwin's theory simultaneously addressed by a scientific body in the next month.
Simply amazing, preposing this problem is not so neglected people. Darwin's book The Origin of Species published in the following year, causing much controversy. It is in fact probably never have published a book of science that is so widespread and so so so warm conversation material, both within the scientists or laymen, such as occurs in the book On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Strugle for Life. They put forward an argument remain exciting in 1871 when Darwin published The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. This book, put forward the idea that human beings originated from a type of monkey, adding the thrill of debate opinions.
Darwin himself did not take part in debates in public about the theories say. It could be because health is so because after perkelanaannya parrjang with the ship Beagle (most likely due to fever, due to insect bites Chaga disease in Latin America). And it could be because she felt quite have such a staunch supporter of Thomas H. Huxley a debate champion and defender of Darwin's theory, most scientists agree the basics of Darwin's theory of truth when the relevant niati 1882.
Actually - if you want to talk to a real or not real - not the first inventor of Darwin's theory of evolution. Some people have menyuarakannya before him, including the French naturalist Jean Lamarek and Darwin's own grandfather, Erasmus Darwin.
However, their hypothesis is never accepted by the scientific world because it was unable to give assurance of how and in what way evolution occurs. Darwin's greatest contribution is its ability not only present the mechanism of natural selection that resulted in the occurrence of natural evolution, but he is also capable of presenting a lot of evidence to support the hypothesis.
Worthy of note, Darwin's theory was formulated without any backrest genetic theory or in fact he did not know anything about that knowledge. In Darwin's time, no one would understand how a particular matter of the next generation. Although Gregor Mendel's laws were completed descendants in those years coincided with the time Darwin wrote and published his book which makes history, Mendel's work that support Darwin's theory is so perfect, almost entirely ignored Mendel people until 1900, when Darwin's theory is so well-established and steady. So, our modern understanding about evolution - which is a combination of genetic science to the law of natural selection descent - more complete than Darwin's theories proffered.
Darwin's influence on human thought in sekah. In terms of pure science, of course, he was committing a revolutionary all aspects of biology. Natural selection really have a very broad principles and fundamental, and various attempts had been made its application in various areas such as anthropology, sociology, political science and economics.
Perhaps even more important influence on Darwin's thinking in terms of religion rather than on science or sociology. In Darwin's time and for years afterward, many loyal followers of Christianity believe that accepting Darwin's theory mean lower degree of confidence in religion. Their concern is probably unfounded because although clearly many other factors that be because the dilution of religious belief. (Darwin himself became a secular).
Even on the basis of secular, Darwinian theory lead to major changes in the way people think about happenings in their world they (the human race it seems) as a whole no longer occupy a central position in the natural scheme of things, as was their nature akukan. Now we should see ourselves as one part only of the many creatures and we acknowledge the possibility that once a date will be shifted. As a result of the investigation results of Darwin, the view of Heraclitus who said, "Nothing is permanent except change" becomes more widely accepted. Successful theory of evolution as a general explanation of the origin of humans have more solidified confidence in the ability of science to answer any questions the physical world (although not all human problems and human). Glossary Darwin, "The strong defeating the weak" and "Struggle for life" had become a part of our dictionary.
Indeed, Darwin's theory will be explained as well though such as Darwin had never lived in the world. Moreover, the measure of what has been produced by Wallace, it is quite contain the truth, more than any particulars contained in this book list. However, it is Darwin's writings that has revolutionized biology and antropolgi and it was he who changed our view on the position of humans in the world.
Baca selengkapnya

Inilah Constantine the Great 250-337

This figure first Roman emperor who embraced Christian Religion. Through convert it and various ways by which this development, he held prominent role in this change of religion Christian Religion which are pursued and threatened with punishment became the dominant religion in Europe.
Constantine was born about the year 280 in the city Naissus (now named Nis) in the country which is now Yugoslavia. His father was a high-ranking officers, and Constantine spent his youth in Nicomedia, where the court of Emperor Diocletian located.
Diocletian ascended the throne in 305 and father of Constantine - Constantius - became ruler in the western part of the Roman Empire. When Constantius died in the following year, Constantine declared emperor by his soldiers. However, other generals at odds with each other about this coronation and civil war was inevitable. This new war ended in 312 when Constantine defeated by opponents who still survive - Maxentius - in a battle at Milvian bridge near the city of Rome.
Not certain when Constantine entered Christian Religion. The stories commonly heard saying, at times before the battle at the bridge Milvian, Constantine saw a cross burning in the sky and says "By this sign you will be able to conquer." No matter when he entered the Christians, Constantine did much for the progress of Christian Religion. Pemulanya One step is to make the Act Milan. With this law is The Christian religion is legal and tolerated religion. The law also allows the return of Church property that was seized during the chase and ransacked in the past. Also declared Sunday as a day of worship.
Milan Law is not based solely by the attitude of religious tolerance. Instead, the government Constantine can be considered as a sign bermulanya oppression against the Jews who continued to take place in Christian Europe in the coming centuries.
Constantine was never made Christianity as the official state religion. However, through legislation and political steps he is clearly driving the development of this religion. In his reign it was obvious, anyone who entered the open door of Christianity means to him in terms of ease up a career ladder in administration. And decisions issued by Constantine also provides immunity and privileges of the church. Similarly, he built the famous churches in the world - such as the birth of Jesus Church in Bethlehem and the Tomb of Jesus church in Darussalam. All of this church was built at the time of Constantine.
The role of the Roman Emperor Constantine as a Christian religion by itself make him eligible list in the order listed in this book. However, some actions contain the effects of distant futures. For example, he is renovating and expanding the city of Byzantium, and replaced with the name of Constantinople (now Istanbul) is one of the largest cities in the world and still be the capital of the Byzantine Empire until 1453 and several centuries later became the capital of the Ottoman Empire.
Constantine also played an important role in the internal history of the church. Involve themselves in disputes between the followers of Arius and Athonius (two Christian theologians who propose different doctrine), Constantine called the Council meeting Nicola (at 325), the first church council proceedings. Council where Constantine took part actively, to resolve disputes with the accepted doctrine of the Nicene, which later became the orthodox doctrine of the church.
Another important thing is its role in relation to the preparation of civil regulations. Constantine make the legislation governing companies down through the generations (like Joqal, baker). The issuance of the decree which it also set the "colony" (peasant class) are forbidden to leave the ground garapannya. In the modern sense of this decree means to change the "colony" (sharecroppers), a slave, bound with the soil. This decree and other rules are the foundation stone of the whole social structure in medieval Europe.
Constatine not baptized until he lay in bed in a state of dying, though obviously he had entered The Christian long before that. However, concurrent with it is also true that the soul kenasraniannya faded completely. Although the size of the time, he was so violent and cruel. This attitude is not directed to his opponents only. The causes are not clear, he punishes his wife and son in 326.
Can be questioned, the acceptance of The Christian Constantine previously not alter the course of history, but only endorse things that can not be inevitable. In addition, although Biocletian Emperor (reigned from 284-305) has done a great gencetan of Christian Religion, his efforts to make religion that does not work because it was Christian Religion is much more powerful than the power that will be hit even by acts of cruel however. Tarolah people regard the failure of an experiment gone Biocletian quell Religion Christianity and religion could win even without interfering Constantine altogether. Supposition and speculation like that is interesting, but not convincing and uncertain. It's hard to imagine what would happen without Constantine. It is very clear, with encouragement, Religion Christianity is widespread both in number and size following regional influence. From a small group that does not mean only in a period of one century become an established religion and have a great influence in the world.
Evidently so, Constantine is a pivot figures in European history. Place in the order list is higher than the figures of Alexander the Great, Napoleon and Hitler because the effect of a long range.
Baca selengkapnya

Inilah NICCOLO MACHIAVELLI 1469-1527

Italian political philosopher, Niccolo Machiavelli, famous for the frank advice that a ruler who wanted to remain in power and strengthen his power must use guile, cunning and deceit, coupled with the use of cruel use of force.

Condemned many people as the bastard did not bennoral, revered by others as genuine realist who dared to expose to the world as it is, Machiavelli was one of the few authors whose work is so close to the study of both philosophers and politicians.

Machiavelli was born in 1469 in Florence, Italy. His father, a lawyer, considered a leading member of the family, but not so located.

During Machiavelli's lifetime - at the peak-peak Renaissance Italy - Italy is divided in small countries, in contrast to a united country such as France, Spain or England. Because it is not surprising that in his time Italy was militarily weak but brilliant in terms of culture.

At the time the young Machiavelli, Florence was ruled by the famous Medici ruler, Lorenzo is commendable. But Lorenzo died in 1492, and several years later expelled the Medici rulers of Florence, Florence became a republic (Florentine Republic) and in 1498, Machiavelli who was twenty-nine years obtained a higher rank in the civil administration Florence. Over the past fourteen years after that he served the Florentine Republic and engage in various diplomatic missions on his behalf, to travel to France, Germany, and Italy in the country.

In 1512, the Florentine Republic was overthrown and the Medici rulers re-hold the reins of power, Machiavelli was dismissed from his position, and the following year he was arrested for alleged involvement in a plot against the Medici rulers. He was tortured but survived declared not guilty and was released in that year. After that he retired and lived on a small farm in San Casciano not far from Florence.

Over the past fourteen years after that, he wrote several books, two of the most famous is The Prince, (The Prince) was written in 1513, and The Discourses upon the First Ten Books of Titus Livius (Discussion of the first ten books of Titus Livius). Among other works are The art of war (the art of war), A History of Florence (Florentine history) and La Mandragola (a good drama, sometimes people are still staged.) But essentially the work of the famous is The Prince (The Prince), perhaps the most brilliant ever written and is most easily read of all philosophical writings. Machiavelli married and had six children. He died in 1527 at the age of fifty-eight.

The Prince may be considered the most important practical advice for one to the state. The basic mind this book is, for a success, a prince should ignore moral considerations entirely and rely on all, things on the strength and cunning. Machiavelli emphasized above all else the most important is a country must be well armed. He argues the only armies that are required from citizens themselves who can be trusted; countries that rely on mercenaries or soldiers of other countries is weak and dangerous.

Machiavelli advises the Prince for to support the population, because if not, he does not have a source of trouble. Of course, Machiavelli understood that sometimes a new ruler, to strengthen his power, must do something to secure his power, was forced to do unpleasant citizens. He suggested, though so to win something the state, the conqueror must arrange cruelty step at a time so no need they experience every day leeway should be given little by little so that they can feel happy. "

To achieve success, a prince must be surrounded by ministers who are able and faithful: Machiavelli's Prince warned to stay away from sycophants and asked what opinion is worth doing.

In chapter 17 of The Prince, Machiavelli discuss whether a prince that's better be hated or loved.

Machiavelli writes: "... The answer is that people should be feared and loved at the same time. ... But safer feared than loved, if we must choose one. The reason, love is bound by obligations that makes a person selfish, and bond It will end when dealing with their interests. ... But the fear is driven by fear punishment, never missed ... "

Chapter 18, entitled "The way how a prince holding the belief." Here Machiavelli said: "... a ruler who must be careful not to hold beliefs if the work was contrary to its interests ..." He added, "Since there is no official basis blaming a prince who apologized because he did not fulfill his promise," because "... man it was so simple and easy to comply with the requirements needed at the time, and that one who cheats will always find people who allow themselves deceived. " As a natural result of that view, Machiavelli advises the Prince to be constantly vigilant against the promises of others.

The Prince (The Prince) is often dubbed the "user's guide to the dictator." Machiavelli's career and various writings indicate that in general he tends to the republican form of government than dictatorship. But he was anxious and worried about the political and military weakness of Italy, and longs for a Prince of a powerful country that can manage and drive foreign troops destructive and despised his country. Interesting to note, though a Prince Machiavelli advocated for such actions cruel and cynical, he is himself an idealist and a patriot, and not so able to practice it himself what he is proposing.

Few political philosophers such diganyang acutely experienced by Machiavelli. For years, he cursed like a derivative of the devil, and his name is used as a synonym for duplicity and cunning. (Not infrequently, the bitterest curse to come from those who actually practice the teachings of Machiavelli, a hypocrisy which may principally be approved also by Machiavelli)!

These criticisms are thrown into the face of Machiavelli than moral grounds is not, of course, shows that he has no effect at all. A more direct criticism is alleged objection that his idea was not specifically out of his own head. Not original! It's a bit much have a point. Machiavelli repeatedly asked that he did not propose anything new, but merely shows the techniques that have been implemented by the Princes earlier with great success. Reality show Machiavelli unrelenting while describing his proposal to sample the greatness-greatness that never happened in the days past, or from events in Italy are somewhat renewal. Cesare Borgia (which is being touted by Machiavelli in The Prince) is not to learn the tactics of Machiavelli, on the contrary, Machiavelli who learned from him.

Although Benito Mussolini was one of the few political leaders who had publicly praised Machiavelli, because it is no doubt a large number of prominent political figures have never read The Prince carefully. It is said that Napoleon always sleep on the pillow tucked beneath her book The Prince, as well as they say carried out by Hitler and Stalin. However, it is not apparent that Machiavelli is more commonly used tactic in modern politics than in the period before The Prince was published. This is the main reason why Machiavelli is not placed higher than the place now in this book.

However, if effect, Machiavelli's thought in political practice is not so clear, its influence in political theory does not need to be debated. Previous writers such as Plato and St. Augustine, has linked politics with ethics and theology. Machiavelli discussed the history and politics entirely in terms of human and ignore moral considerations. The central problem, he says, is not how people should behave, rather than who should be in power, but how real people can gain power. Political theory is discussed today in a way more realistic than ever before without minimize the significance of the influence of Machiavelli. This person can properly be considered one of the important founders of modern political thinkers.
Baca selengkapnya

Senin, 11 April 2011

Inilah ABRAHAM LINCOLN 1809-1865

ABRAHAM LINCOLN 1809-1865

President of the United States into the 16th, Abraham Lincoln, one of the most famous and impressive political figure who once owned the United States - or any country as well. Well, if it does, because what he is not included in the list of the main sequence? Do not release 3.5 million bondsman a masterpiece?
Indeed so. But if we look back, will be seen that strength around the world are struggling irresistible by any force to eliminate all forms of slavery. Many countries had abolished the system of slavery even before Lincoln's reign, and within fifty-five years after his death, most countries do so. The most can be appreciated from the work of Lincoln is to accelerate the process in a country, the United States.
ABRAHAM LINCOLN 1809-1865
However, the work of Lincoln's greatest service is to maintain the unity of the United States faced attempt secession states south of the country. For this act alone he is entitled to be included in the list order this book.
However, through Lincoln's election was the one who so because the separation of the states south of it. And certainly not the North would also failed to win a civil war if people other than Lincoln became president. And above all, the North opened the battle with the superior of capital, looking from the corner of the population and also greater in the industry.
Even if the North did not win the war, on the whole course of history will not experience major changes. The link language, religion, culture and trade between North and South is so tightly they would unite also. If the split lasted for twenty years, or put, fifty years, it was only a minor event in world history. (Worthy of note that even without the South, the United States now remains the fourth largest populated country in the world, and will remain the most leading industrial countries).
Does this mean that Lincoln did not figure at all important? Absolutely not. His career has profound influence on millions of people in one generation. However, he has not been equal importance as Mahavira whose influence continued for centuries.
Baca selengkapnya

Inilah Penemu Listrik THOMAS EDISON 1847-1931

Versatile inventor Thomas Alva Edison was born in 1847 in Milan, Ohio, United States. Just three years he received formal education, after it kicked out of school because the teacher thought the child was incredible stupid.
THOMAS EDISON 1847-1931
 His first creation, electronic voice recorder dibikinnya when he was twenty one years. Her work did not sell. After that he earned expectation fabrication equipment can be sold in the market, shortly after he managed to make an electronic voice recorder, he discovered and perfected telegraph machines that automatically print the letter, which sold for 40,000 dollars, a huge amount at that time. After that, as he queued to find new work and in a short time Edison was not only famous but also the rich. Perhaps, the most original invention is a patented machine LPs in 1877. However, more famous in the world than it is the development of a practical incandescent light bulb in 1879.
Edison was not the first to create a system of electric lighting. A few years earlier bersinarkan light electric current has been used for street lighting in Paris. However, the ball follows Edison incandescent electric power distribution system which enables the development of practical electric lighting for the home. In 1882, his company began producing electricity for homes in New York, and in a short time had spread throughout the world.
With the establishment of the first electricity for lighting homes, Edison is already laying the groundwork for the development of big industry. The use of electric power is not just for lighting but for all aspects of their household needs, ranging from televisions to washing machines. Furthermore, the use of electricity through the distribution networks established Edison in itself encourage the use of electricity for the industrial sector.
Edison also gave large donations made remarkable progress film cameras and projectors. He made important improvements pertilponan (carbon transmitter increase the clarity of hearing), improvements in the field telegraph, and typewriter. Among other findings, among others, dictation machines, coffee machines and battery-driven storage. Arguably, Edison designed more than 1000 inventions, a number that really does not make sense.
One reason for its productivity is very surprising because in the beginning of his career he built a laboratory investigation in Menlo Park, New Jersey. That's where he called for the group which enabled makers to help him. This is the embryo of a laboratory investigation that later imitated by so many industries. Edison beginner modern laboratories, a fully equipped central inquiry where so many people working together is a team, is also the result of his work is important, though, of course, something she could not patented.
Edison was not only an inventor, he also engaged in fabrication and organizing various industrial companies. The most important of which eventually transformed into the General Electric Company.
Although the traits he's not a pure scientist, Edison make a scientific discovery. In 1882 he found that in a state of near vacuum, electric current can flow between the two wires are not touching each other. This phenomenon - called Edison's invention - not just have an important theoretical purpose, but also have practical use meaningful sense. This leads to the development of vacuum tubes and laying the basis of the electronics industry.
Almost all his lifetime, Edison suffered from weak hearing. But, even so, he is more than able to overcome it with hard work are amazing. Edison married twice (his first wife died young), has three children from each wife. He died in 1931 in West Orange, New Jersey.
There was no disagreement about the talent Edison. Everyone agreed that he was the inventor of the genius who ever lived. Rows of his findings are very helpful considered appalling and raise a knee chills, although perhaps only partly developed by another person within thirty years. However, if we consider his personal discoveries, would seem to us that none of it has a decisive significance. For example, incandescent ball, although widely used, is not an irreplaceable items in the modern world. The fact is, lighting that comes from the radiation and the outgoing scattered in the form of light, which works on the basis of scientific principles are entirely different, also used by people at large, and in our daily lives does not make any difference if we do not use incandescent light bulbs altogether. Indeed, prior to use electric lighting, candles, oil lamps, and gas lamps are generally regarded as satisfactory levels of illumination.
LPs tool is a clever invention, but nobody thought the device was able to change our daily lives as well as the role that served the radio, television or telephone. Furthermore, in recent years, has to be created a voice recording device with an entirely different method, such as magnetic tape cassettes. And if there is no machine record, it did not feel anything. Many of Edison's patents relating to the improvement of tools, have actually been found by other people first, even in a form that can be utilized. These improvements - although much help - can not be regarded as an important meaning in the series of historical movements in general.
But, although none of Edison's inventions have an appalling significance, useful also to remember that he did not just create a single tool, but more than a thousand. On the basis of these considerations I put Edison higher than such famous inventor Guglielmo Marconi and Alexander Graham Bell.
Baca selengkapnya

Inilah Wilhelm Conrad Rontgen tools that created the famous X-ray

Wilhelm Conrad Rontgen
November 8, 1895 X-ray again to make the experiment with the "cathode rays." Cathode rays consist of electron flow. Diprodusir flow by using high voltage between electrodes placed at each end of the glass tube where the air is almost entirely emptied. Cathode rays themselves are not specific and has stopped seeping by several centimeters of air. In this incident X-rays has been completely shut down his cathode ray tube with thick black paper, so that even electric light lit, no light can be seen from the tube. However, when X-rays turned on the electric current in the cathode ray tube, he was surprised to see that the light began to anneal on the screen that is located near the bench as stimulated by light. He put out the tube and screen (which is wrapped by a barium platino cyanide) stop light anneal. Because the cathode ray tube is fully closed, X-rays immediately aware that something invisible form of radiation that must come from the tube when the electric light turned on. Because this is a mysterious thing, he calls it visible radiation "X-rays" The "X" is a common mathematical symbol for something unknown.

Tempted by an accidental discovery, the X-ray investigations of other aside and concentrate on a review of things contained in the "X-rays" After several weeks of hard work, he found other evidence such as this: (1) X-ray beam can make various chemical objects in addition to "barium platinocyanide." (2) X-rays can break through the various objects that do not penetrate the normal light. Special X-rays found that X rays can penetrate the meat directly but stopped on his bones. By putting his hand between the cathode ray tube and the glowing screen, X-rays can see on the screen image of hand bones. (3) X-ray running vertically; not like electrically charged particles, X-ray did not terbelokkan by magnetic fields.

X-rays give a big contribution and advancement of world dentistry

Month December 1895 Rontgen wrote his first paper on X-rays Report in a short time arouse attention and uproar. Within a few months, hundreds of scientists to investigate X-rays, and within a year about 1000 papers published about it! One of the scientists who rely directly investigation of X-ray findings is Antoine Henri Becquerel. This man, although its main purpose to investigate X-rays, it is important to find the phenomenon of radioactivity.

In general, X-ray work when high energy electrons on target. X-rays themselves do not contain electrons, but electron magnetic waves. Therefore, he is basically similar to the radiation that can be seen the eye (ie light waves), except X-ray wavelengths much shorter.

The use of X-rays of the best known - of course - in the field of medical and dental diagnosis. Another use is in the field of radiotherapy, in which X-rays used to destroy malignant tumors or prevent their growth.

X-rays are also widely used in various industrial purposes. For example, can be used for measuring thickness of object or find something hidden damage. X-rays are also useful in many areas of scientific investigation, ranging from biology to astronomy. In particular, X-ray scientists presenting large amounts of information relating to atomic and molecular structure.

Nevertheless, one should not exaggerate the significance of X-ray rate. It is true, the use of X-ray brings many benefits, but one can not say he has revolutionized the whole of our technology, like Faraday's discovery of electro-magnetic proof. Similarly, one can not say the discovery of X-ray is truly a fundamental importance in the theory of science. Ultraviolet light (a wavelength shorter than visible light by the eye) has been known nearly a century earlier. The existence of X-rays - which have similarities with ultraviolet waves, but still much shorter wavelength - still within the framework of classical physics. Above all, I think the significance of X-ray proper place under the discovery Becquerel have more fundamental significance.

X-rays do not have children, so he and his wife raised the child was a girl. In 1901 R�ntgen received the Nobel Prize for physics, which for the first time be given to the field. He died in Munich, Germany in 1923.
Baca selengkapnya