Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Cerita Dongeng Legenda Putri Limaran Lengkap

Cerita Dongeng Legenda dari Jawa Tengah Putri Limaran
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Legenda dari Jawa Tengah Putri Limaran, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Putri Limaran adalah permaisuri raja yang cantik jelita. Walaupun berpenampilan sederhana namun tetap memiliki kecantikan yang luar biasa. Ia memiliki kegemaran membatik dan menyulam.

Pada suatu hari ketika Limaran sedang mengandung, raja berpamitan untuk pergi berburu. berhari-hari sang raja tidak kunjung pulang dari hutan. Untuk mengisi kekosongan waktu Limaran melakukan kegiatan sesuai kegemarannya. Ia sangat suka membatik di tempat yang tenang.

Saat itu ketika limaran sedang asyik membatik diatas pohon ditepian telaga, seorang peri buruk rupa sedang berkaca di air telaga tepat dibawah tempat Limaran membatik. Si peri Buruk rupa tampak tersenyum-senyum melihat bayangan cantik di air telaga. Ia menyangka bayangan itu adalah wajahnya "Alangkah cantiknya aku" gumamnya.

Baca Cerita Dongeng Ini Selengkapnya :
Namun apa yang terjadi ketika iatertawa lebar-lebar dan bayangan itu tetap membisu, ia dongakkan kepalanya keatas. dilihatny6a putri cantik sedang duduk diatas papan yang terpasang diatas pohon, ia menyadarai bahwa bayangan itu bukan dirinya. Bersamaan dengan itu sang putri melihat ke bawah. Sang putri sangat terkejut melihat peri yang buruk rupa berada dibawahnya, sehingga canting yang dipegangnya jatuh ke tanah.

Limaran berkata "hai peri, bila engkai mau menolongku mangambilkan canting itu, engkau akan aku ajak ke istana menjadi pelayanku". Mendengar kata Limaran sang peri buruk rupa merasa sangat gembira, lalu diambilnya canting yang jatuh dan diberikannya pada Limaran.

Sesuai dengan janji Limaran, maka si Buruk menjadi pembantu Limaran.Karena siburuk mampu menunjukan perangai yang baik, maka ia dangat dipercaya oleh sang putri. Namun dibalik itu semuahati si Buruk diliputi rasa iri dengan kecantikan dan kebahagiaan sang Putri. Ia berfikir, "Alangakah bahagianya bila aku dapat menjadi permaisuri seperti sang Putri." Maka ia selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan Limaran.

Kesempatan itu akhirnya tiba, ketika limaran hamil tua. Raja pergi berburu di jutan yang jauh dari kerajaan, karena itu pada saat Limaran melahirkan Raja tidak ada di istana. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh si Buruk. Dengan berdalih menolong, Limaran dapat diperdaya. Limaran mati saat melahirkan. Tubuhnya dikubur di halaman istana dan bayi limaran disusui oleh si Buruk.

Setelah sebulan lamanya, Raja kembali ke istana dengan hati bangga karena mendengar putranya telah lahir, namun betapa terkejutnya ketika raja mengetahui bahwa permaisurinya telah tiada. seketika wajahnya menjadi muram, si Buruk berusaha menghibur namun tidak berhasil.

Hari demi hari keadaan raja semakin memburuk. Dia sudah tidak mempedulikan lagi keadaan sekelilingnya. Kerjanya hanya termenung menunggui pusara permaisuri yang kini ditumbuhi bunga melati yang harum. hati si buruk semakin jengkel, maka ketika sang Raja tidak ada disana bunga melati itu dicabut dan dibuang jauh-jauh. Raja semakin kehilangan.

Ajaib, ditempat pembuangan bunga melati itu tumbuh pohon maja yang berbuah hanya satu. ketika buah itu matang mengundang selera seorang juru masak untuk memetiknya lalu dibawanya pulang. Aneh, buah itu dapat berbicara dan menjelma menjadi seorang putri cantik jelita. Juru masak dapat mengenalinya, ia dalah Limaran permaisuri Raja. Limaran meminta ijin juru masak untuk boleh tinggak di rumahnya. Juru masak yang kebetukan adalah seorang janda tidak merasa keberatan bahkan dengan senang hati ia menerimanya. -Selama tinggal di rumah juru masak, sang Putri selalu memperhatikan keperluan putranya. Ia membuat baju-baju bayi yang disulam indah serta membuat makanan kesukaan Raja. tentu sang raja menjadi bertanya-tanya siapakah gerangan yang mampu membuat makanan kegemarannya. Rupanya tidak mudah untuk mengetahui karena juru masak tidak mau berterus terang ketika ditanya. namun akhirnya rahasia itu terbongkar ketika sang Raja diam-diam mengikuti juru masak yang pulang kerumahnya. Pertemuan sang Raja dengan permaisuri sangat mengharukan. Sang putri lalu menceritakan semua peristiwa yang telah menimpanya. sang raja berjanji akan menghukum si Buruk setimpal dengan kesalahannya.

Si buruk rupa pun kemudian dihukum mati, mayatnya dikubur di belajang istana. Karena kejahatannya, maka diatas kuburnya tumbuh bunga bangkai yang berbau busuk.

Pesan moral Dongeng : Orang yang rendah hati tentu akan mendapat pertolongan Tuhan. Sebaliknya, orang yang iri dengki terhadap orang lain akan celaka.
Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik yaitu meliputi Tema, Amanat/Pesan Moral, Alur Cerita/Plot, Perwatakan/Penokohan, Latar/Setting, dan Sudut pandang. dan kadang disertai unsur Ekstrinsik Cerita. Untuk belajar memahami itu semua, coba adik-adik tebak dari cerita diatas temanya apa, tokohnya siapa dan settingnya dimana, ayo siapa yang tahu?.


Baca selengkapnya

Rabu, 21 Oktober 2015

Full Cerita Gadis Landak

Dahulu kala, hidup sepasang suami isteri di sebuah rumah kecil. Adik lelaki sang suami juga tinggal bersama mereka.

Pada suatu hari sang isteri berkata, �Adikmu sudah dewasa. Sudah waktunya menikah. Berikan saja setengah harta kita dan suruh dia mencari tempat tinggal sendiri.� Suaminya tidak tega menyuruh adiknya pergi, tapi isterinya mendesaknya terus. Akhirnya ia setuju.

http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/
Landak
Esok harinya , ia menyuruh adiknya memakai pakaian baru lalu mengajaknya berjalan-jalan.
Mereka berjalan mendaki bukit dan ketika tiba di hutan, sang kakak memberikan sejumlah uang dan mengatakan bahwa sudah waktunya sang adik memulai hidup sendiri. Walaupun sedih, sang kakak menyuruh adiknya pergi dan ia sendiri pulang ke rumahnya.

Sang adik terus berjalan walaupun ia tidak punya tujuan. Malam tiba. Ia melihat sebuah gubuk. Ia meminta ijin kepada pemburu pemilik gubuk itu untuk tinggal semalam.

Malam itu, pemuda itu melihat seekor landak terikat pada tiang. Landak itu terus memandanginya.

�Tuan,� katanya kepada pemburu, �Mengapa kau mengikat landak itu di tiang?�

�Aku akan mengambil kulitnya dan memakan dagingnya.�

�Tapi tuan, lihatlah, landak itu sedih sekali. Tolong lepaskan dia.�

�Aku lelah sekali berburu hari ini, dan hanya landak itu yang kudapat. Tidak, aku tak mau melepaskannya.�

�Kalau begitu, biarlah aku membelinya!� kata pemuda itu sambil menunjukkan uang pemberian kakaknya.

Pemburu menjual landak itu kepada pemuda itu. Pemuda itu membawa landak pergi. Setelah cukup jauh dari gubuk pemburu, ia melepaskan tali pengikat landak dan berkata. �Pergilah jauh-jauh. Kalau kau tertangkap lagi, belum tentu ada yang menolongmu.�

Landak itu memandangi sang pemuda lama sekali. Lalu ia pergi ke semak-semak dan menghilang.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dan ilalang di dekatnya bergerak-gerak. Alangkah terkejutnya pemuda itu, seorang gadis muda muncul. Gadis itu cantik sekali. Ia membawa sehelai selimut tebal.

�Tuan,� kata gadis itu, �Kau tentu kedinginan.� Ia memberikan selimut yang dibawanya kepada pemuda itu.

�Terima kasih, Nona. Kau baik sekali,� kata pemuda.

�Apakah kau tidak punya rumah?� tanya gadis itu.

�Tentu saja aku punya rumah.�

�Lalu mengapa kau ada di sini?�

Pemuda itu menceritakan perpisahannya dengan kakaknya.

�Apakah kau tidak rindu kepada rumahmu?� tanya gadis itu.

"Aku rindu kepada kakakku, tapi aku tidak berani kembali ke rumah."

�Jangan kuatir, aku akan membawamu ke rumahmu sendiri. Tapi kau harus menikahiku dulu.�

Walaupun agak bingung, pemuda itu setuju. Malam itu mereka mengucapkan sumpah pernikahan dan menjadi pasangan suami isteri.

Esoknya, pagi-pagi sekali, wanita muda itu berkata, �Tutuplah punggungku dengan selimut itu. Lalu naiklah ke punggungku. Berpeganganlah erat-erat dan tutup matamu sampai aku menyuruhmu membukanya.�

Suaminya mengikuti semua perkataan sang isteri. Dan pemuda itu merasa ia sedang terbang. Angin bertiup kencang di telinganya. Tapi dengan patuh ia tetap menutup kedua matanya.

Akhirnya, ia mendengar isterinya berkata, �Sekarang kau boleh membuka matamu.� Pemuda itu membuka matanya dan melihat mereka berada di tepi desanya sendiri.

�Suamiku,� kata sang isteri, �Jangan kembali ke rumah kakakmu dulu, ayo kita mencari tempat tinggal kita sendiri.�

Pemuda itu mengajak isterinya ke sebuah kedai. Ia mengenal pemilik kedai itu. Ia mengenalkan isterinya kepada pemilik kedai dan mereka bercakap-cakap.

�Paman,� kata wanita muda itu, �Kami ingin menetap di desa ini. Dapatkah paman mencarikan sebidang tanah yang akan dijual?�

�Baiklah, aku akan mencarikan tanah yang baik untukmu,� kata paman.

Esok harinya, paman menunjukkan sebidang tanah yang akan dijual, tapi pemiliknya memasang harga yang sangat tinggi. �Kalau kalian sabar, aku akan mencarikan tanah yang lain,� kata paman.

Tapi wanita muda itu berkata, �Tidak usah, paman. Kami punya cukup uang untuk membeli tanah itu.� Wanita itu mengeluarkan uang dan meminta suaminya membeli tanah itu.

Malam itu suami isteri itu melihat tanah yang baru mereka beli. Sang isteri mencabut jepit rambutnya dan membuat gambar rumah di tanah. Ketika ia menarik kembali jepit rambutnya, terdengar suara gemuruh dan bumi bergetar. Sekarang di depan mereka berdiri sebuah rumah besar yang indah dan megah.

�Ini rumah kita,� kata sang isteri, � Ayo kita masuk.�

Rumah itu sudah lengkap dengan perabotan yang indah. Di belakang rumah ada gudang besar yang penuh bahan makanan . Di sampingnya berdiri sebuah kandang berisi belasan kuda. Mereka tinggal di sana dengan tenang dan bahagia.

Tiga tahun berlalu. Pada suatu hari, sang isteri berkata kepada suaminya. �Kita sudah lama menikah, tapi kita tidak dikaruniai anak. Kurasa kau harus mengambil seorang isteri lagi.�

Suaminya tidak setuju. �Aku bahagia hidup denganmu, walaupun kita tidak punya anak.�

�Kau tidak mengerti,� kata isterinya. �Aku tak akan lama hidup bersamamu.�

Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa ia adalah landak yang dulu diselamatkan pemuda itu dari pemburu. Ia mengubah dirinya menjadi manusia untuk membalas budi. Ia mendesak suaminya untuk mencari calon isteri.

Pemuda itu pergi mencari calon isteri yang baik. Ia telah bertemu banyak sekali gadis namun tak ada yang menurutnya sebaik gadis landak, isterinya.

Pada suatu hari ia melihat seorang gadis yang menarik hatinya. Pemuda itu menemui ayah sang gadis untuk melamar. Ayah gadis itu seorang pedagang kaya. Ia setuju anak gadisnya dipersunting sang pemuda, dengan satu syarat. Ia minta pemuda membawa tujuh kereta penuh uang perak.

Pemuda itu kembali ke rumahnya dan menceritakan perjalanannya hingga menemukan seorang gadis. Ia menjelaskan syarat yang diminta ayah gadis itu. �Hanya itu syaratnya?� tanya gadis landak.

Esok harinya gadis landak meminta suaminya pergi ke rumah calon isteri barunya. Di halaman rumah sudah menunggu tujuh kereta lengkap dengan kuda dan kusir.

Setelah menikah dengan puteri pedagang, pemuda itu membawa isteri barunya pulang. Mereka disambut hangat oleh gadis landak.

Esok harinya, gadis landak sudah tidak ada. Pemuda itu tidak pernah lagi melihat isteri pertamanya.

Setahun kemudian, isteri keduanya melahirkan sepasang anak kembar seperti yang diinginkan gadis landak.

***

Jika Anda menyukai Cerita Gadis Landak, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Kisah Ande - Ande Lumut

Dahulu kala, ada dua buah kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali.

http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/
Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.
Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala. Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.

Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang. Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut. Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Randa Dadapan. Mbok Randa mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Randa.

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri. Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Tak seorangpun ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji. Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur. Pada suatu hari karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar. Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, �Jangan takut, aku datang untuk membantumu.�

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih. Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning. Pada suatu hari bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan. Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai. Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Di perjalanan mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan. Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.

�Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan?�

Mereka tentu saja mau.

�Tentu saja kalian harus memberiku imbalan.�

�Kau mau uang? Berapa?� tanya ibu janda.

�Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.�

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Randa, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.
Mbok Randa mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya, �Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu. Pilihlah satu sebagai isterimu.�

�Ibu,� sahut Ande-Ande Lumut, �Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.�

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut.
Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu? Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib. Bangau itu memberinya sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali Klething Kuning sekali lagi meminta ijin untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut. Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai.

�Gadis cantik, kau mau ke seberang? Mari kuantarkan,� kata Yuyu Kangkang

�Tidak usah, terima kasih� kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

�Ayolah, kau tak perlu membayar,� Yuyu Kangkang mengejarnya.�Cukup sebuah ci... Aduh!�

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau. Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan.

Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi. Air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Randa. Mbok Randa menerimanya sambil mengernyitkan hidung karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam. Ia pun menyilakan gadis itu masuk lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

�Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam. Biar kusuruh ia pulang saja.�

�Aku akan menemuinya, Ibu,� kata Ande-Ande Lumut.

�Tetapi... ia...,� sahut Mbok Randa.

�Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu. Ialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.�

Mbok Randa pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu.

Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut adalah tunangannya, Raden Panji Asmarabangun.

�Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi,� kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Randa Dadapan ke Jenggala. Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kediri dan Jenggala pun dipersatukan kembali.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Kisah Ande - Ande Lumut, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Tiga Pangeran dan Peri Air

Dahulu kala hiduplah seorang raja dengan tiga putera. Yang tertua bernama Pangeran Bintang, adiknya bernama Pangeran Bulan dan yang bungsu Pangeran Matahari. Sang raja begitu gembira dengan kelahiran pengeran ketiga sehingga ia berjanji kepada sang ratu akan memenuhi apapun yang dimintanya. Sang ratu mengingat janji raja kepadanya, namun ia menunggu hingga putera ketiganya dewasa.

Pada ulang tahun Pangeran Matahari yang ke duapuluh satu, sang ratu berkata kepada raja,�Yang mulia, ketika anak ketiga kita lahir dulu, kau berjanji akan memberiku hadiah. Sekarang aku minta Yang Mulia menyerahkan kerajaan ini kepada Pangeran Matahari.�

Sang raja menolak, dan mengatakan bahwa kerajaan harus diserahkan putera tertua, karena itu sudah menjadi haknya. Kemudian bila putera pertama tidak dapat menjadi raja, kerajaan menjadi hak putera kedua. Hanya bila kedua kakaknya meninggal, putera ketiga berhak memerintah kerajaan.

Ratu pergi, namun raja dapat melihat bahwa ratu tidak puas dengan jawabannya. Raja khawatir ratu akan melakukan sesnatu untuk menyingkirkan putera pertama dan kedua.

Maka ia memanggil pangeran pertama dan kedua. Ia menyuruh mereka pergi dan tinggal di hutan hingga ia wafat. �Kemudian kembalilah dan memerintah di kerajaan ini sesuai dengan hakmu.�

Ketika mereka berjalan ke luar istana, Pangeran Matahari melihat mereka dan bertanya, �Kak, ke mana kalian pergi?�

Ketika mendengar kemana dan mengapa mereka pergi, Pangeran Matahari berkata, �Aku ikut bersama kalian, Kak.�

Mereka terus berjalan hingga masuk ke hutan. Di sana mereka menemukan sebuah kolam dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. �Pergilah ke kolam, Dik,� kata pangeran tertua kepada Pangeran Matahari. �Mandi dan minumlah. Kemudian bawakan sedikit air, kami menunggu di sini.�

Raja peri telah memberikan kolam itu kepada seorang peri air. �Kau berkuasa di kolam ini,� kata raja peri. �dan kau boleh melakukan apa saja kepada siapa pun yang datang ke kolam ini, kecuali bila ia dapat menjawab pertanyaanku.� Peri air mendengarkan dengan seksama. Pertanyaan itu adalah,�Seperti apa peri yang baik itu?�

Ketika Pangeran Matahari masuk ke dalam kolam, peri air betanya kepadanya,�Seperti apa peri yang baik itu?�

�Peri yang baik,� kata Pangeran Matahari setelah berpikir sejenak, �seperti matahari dan bulan.�

�Kau tidak tahu seperti apa peri yang baik,� dan peri air membawa pemuda malang itu ke guanya di dasar kolam.

Setelah menunggu cukup lama dan adik mereka tidak muncul, Pangeran Bintang menyuruh Pangeran Bulan menyusulnya.

Di kolam ia tidak melihat adiknnya. Air kolam yang jernih membuatnya ingin mandi. Ia masuk ke dalam kolam. Tiba-tiba muncul peri air yang langsung bertanya, �Katakan, seperti apa peri yang baik?�

�Seperti langit di atas kita,� jawab Pangeran Bulan.

�Ternyata kau juga tidak tahu," kata peri air sambil menyeret Pangeran Bulan ke guanya.

�Pasti terjadi sesuatu pada adik-adikku,� kata Pangeran Bintang dalam hati. Ia pun pergi ke kolam. Di tepi kolam ia melihat jejak kaki adik-adiknya masuk ke dalam kolam. Tahulah ia bahwa ada seorang peri air tinggal di dalam kolam itu. Ia menarik pedangnya dan menyiapkan busurnya. Ia menunggu dengan sabar.

Peri muncul, menyamar sebagai seorang pencari kayu.�Kau tampak lelah, teman,� katanya kepada Pangeran. �Mengapa kau tidak mandi di kolam lalu berbaring di tepi sana?�

Namun Pangeran itu tahu pencari kayu itu adalah peri air. Ia berkata,�Kau telah mengambil kedua adikku.�

"Ya," kata peri air.

"Mengapa kau mengambil mereka?"

"Karena mereka tidak dapat menjawab pertanyaanku," kata peri air, �dan raja peri memberiku kuasa untuk melakukan apa saja kepada semua orang yang masuk ke dalam air kecuali mereka yang dapat menjawab pertanyaanku dengan benar."

"Aku akan menjawabnya," kata Pangeran, �Peri yang baik seperti pemilik hati yang murni, yang takut akan dosa dan berbuat baik dalam kata-kata dan perbuatan."

"Oh Pangeran yang bijaksana,� kata peri air. �aku akan mengembalikan satu adikmu. Yang mana yang harus kukembalikan kepadamu?"

"Kembalikan si bungsu," kata Pangeran,�Karena ialah ayah kami menyuruh kami pergi, Aku tak dapat pergi bersama Pangeran Bulan dan meninggalkan Pangeran Matahari yang malang di sini.�.

�Pangeran, kau sungguh bijaksana,� kata peri air, �Kau tahu apa yang harus kau lakukan dan baik hati. Aku akan mengembalikan kedua adikmu."

Ketiga pangeran itu tinggal di hutan bersama-sama hingga ayah mereka wafat. Kemudian mereka kembali ke istana. Pangeran Bintang menjadi raja dan ia mengajak kedua adiknya memerintah bersamanya, Ia juga membangun sebuah rumah untuk peri air di taman istana.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Tiga Pangeran dan Peri Air, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Legenda Rawa Pening

Dahulu kala, warga desa Ngebel terkejut melihat seekor ular yang sangat besar. Karena takut ular itu akan menyerang mereka, warga desa beramai-ramai menangkap ular yang bernama Baru Klinting itu. Setelah tertangkap ular itu dibunuh dan dagingnya disantap dalam sebuah pesta. Hanya satu warga desa yang tidak mereka ajak menikmati pesta itu, yaitu seorang nenek tua miskin bernama Nyai Latung.

Legenda Rawa Pening
Beberapa hari kemudian muncul seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluh tahun. Ia tampak kumal dan tidak terawat, bahkan kulitnya pun ditumbuhi penyakit. Anak itu mendatangi setiap rumah dan meminta makanan kepada warga desa. Namun tak seorang pun memberinya makanan atau air minum. Mereka malah mengusirnya dan mencaci makinya.

Akhirnya ia tiba di rumah yang terakhir, rumah Nyai Latung. Di depan rumah reot itu Nyai Latung sedang menumbuk padi dengan lesung.

�Nenek,� kata anak itu, �Saya haus. Boleh minta air, nek?�

Nenek Latung mengambil segelas air yang diminum anak itu dengan lahap. Nyai Latung memandangi anak itu dengan iba.

�Mau air lagi? Kau mau makan? Tapi nenek cuma punya nasi, tidak ada lauk.�

Legenda Rawa Pening
�Mau, nek. Nasi saja sudah cukup. Saya lapar,� sahut anak itu.

Nenek segera mengambilkan nasi dan sisa sayur yang ada. Ia juga mengambilkan air lagi untuk anak itu, Anak itu makan dengan lahap, hingga tidak sebutir nasipun tersisa.

�Siapa namamu, nak? Di mana ayah ibumu?�

�Namaku Baru Klinting. Ayah dan ibu sudah tiada.�

�Kau tinggal saja di sini menemani nenek,�

�Terima kasih, nek. Tapi saya pergi saja. Orang-orang di sini jahat, nek. Hanya nenek saja yang baik hati kepadaku.�

Baru Klinting kemudian bercerita tentang warga desa yang tidak ramah kepadanya. Kemudian, ia pun pamit. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Nyai Latung.

Legenda Rawa Pening
�Nek, nanti jika nenek mendengar suara kentongan, nenek naiklah ke atas lesung. Nenek akan selamat.�

Meskipun tidak mengerti maksud Baru Klinting, Nyai Latung mengiyakan saja.

Baru Klinting masuk ke desa lagi. Ia mendatangi anak-anak yang sedang bermain. Ia mengambil sebatang lidi lalu menancapkannya di tanah. Lalu ia memanggil anak-anak.

�Ayo... siapa yang bisa mencabut lidi ini?�

Anak-anak mengejek Baru Klinting namun ketika satu per satu mereka mencoba mencabut lidi, tak ada yang berhasil. Mereka pun memanggil anak-anak yang lebih besar. Semua mencoba, semua gagal. Orang-orang dewasa pun berkumpul dan mencoba mencabut lidi. Tetap tidak ada yang berhasil.

Akhirnya Baru Klinting sendiri yang mencabut sendiri lidi itu. Dari lubang di tanah bekas menancapnya lidi memancar air yang makin lama makin banyak dan makin deras. Orang-orang berlarian kalang kabut, Salah seorang membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya. Namun air cepat menjadi banjir dan menenggelamkan seluruh desa.

Legenda Rawa Pening
Nyai Latung mendengar bunyi kentongan di kejauhan, Ia teringat pesan Baru Klinting dan segera naik ke atas lesung. Baru ia duduk di dalam lesung, air sudah datang dan makin tinggi. Lesung itu terapung-apung. Nyai Latung melihat para tetangganya sudah mati tenggelam.

Setelah beberapa lama, air berhenti naik dan perlahan-lahan mulai surut. Lesung Nyai Latung terbawa menepi sehingga ia dapat naik ke darat. Hanya ia yang selamat dari banjir. Warga desa yang lain semuanya tewas.

Air tidak seluruhnya kering kembali namun meninggalkan genangan luas berbentuk danau yang sekarang disebut Rawa Pening. Rawa Pening terletak di daerah Ambarawa.

Rawa Pening luasnya 2670 hektare. Sekarang digunakan untuk pengairan dan budi daya ikan selain juga menjadi tempat wisata. Enceng gondok yang memenuhi permukaannya digunakan untuk bahan kerajinan dan keperluan lain. Sedangkan air sungai Tuntang yang berhulu di danau itu digunakan untuk pembangkit listrik. Namun sekarang Rawa Pening mengalami pendangkalan dan dikhawatirkan lambat laun akan lenyap bila tetap dibiarkan seperti saat ini.

***

Jika Anda menyukai Legenda Rawa Pening, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).

Baca selengkapnya

Full Monyet dan Kacang Polong

Dahulu kala, seorang raja memerintah sebuah kerajaan yang besar. Sang raja suka sekali bepergian. Ia tidak suka mengunjungi negaranya sendiri, tapi lebih suka pergi ke negara lain. 

Pada suatu hari sang raja membawa pasukan tentara berlibur di sebuah negara yang jauh.
Raja berjalan-jalan di hutan sepanjang pagi. Kemudian ia dan tentaranya beristirahat di kemah. Kuda-kuda mereka juga perlu melepas lelah. Mereka diberi makan kacang polong. 

Monyet dan Kacang Polong
Seekor monyet yang tinggal di hutan itu mengawasi rombongan itu dari kejauhan. Ketika ia melihat kacang polong yang diberikan kepada kuda, segera ia turun dari pohon dan mengisi mulut dan tangannya dengan kacang polong banyak-banyak. Lalu ia naik lagi ke pohon dan makan.

Tiba-tiba, sebutir kacang terlepas dari tangan monyet dan jatuh ke tanah. Monyet yang serakah itu langsung melemparkan semua kacang dalam genggamannya dan turun dari pohon untuk mencari kacang yang jatuh itu. 

Monyet dan Kacang Polong
Kacang itu tidak ditemukannya. Monyet memanjat pohon lagi dan baru menyadari ia kehilangan semua kacangnya. Dengan sedih, ia berkata pada dirinya sendiri, �Demi sebutir kacang, aku membuang semua kacangku.�

Raja diam-diam memperhatikan tingkah laku monyet itu. �Aku tidak mau seperti monyet itu. Ia kehilangan banyak sekali demi keuntungan kecil. Aku akan kembali ke negeriku dan menikmati apa yang sudah kumiliki.�
Raja kemudian mengajak tentaranya pulang ke negaranya sendiri.

Moral: Hargai apa yang kamu miliki

***

Jika Anda menyukai Cerita Monyet dan Kacang Polong, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Asal Usul Barongsai

Pada masa pemerintahan Kaisar Huang Ti yang juga dikenal sebagaiKaisar Kuning di Cina, muncul seekor hewan buas yang disebut Nien. Nien membunuh banyak manusia dan hewan. Tak ada yang dapat membunuh Nien.

Asal Usul Barongsai
Manusia kemudian meminta bantuan kepada singa. Singa menyerang Nien. Walaupun tidak dapat membunuh Nien, singa melukainya. Nien melarikan diri.

Namun, ketika singa tidak ada, Nien menyerang lagi. Manusia pun mancari cara agar Nien tida menyerang lagi. Dibuatlah tiruan singa dari bahan bambu,kertas dan kain. Di dalamnya ada dua orang. Yang seorang memainkan kepala singa dan seorang lagi menggerakkan bagian belakang tubuh singa. Diiringi musik yang gegap gempita, tiruan singa itu dimainkan ketika Nien menyerang. Ternyata Nien lari ketika bertemu dengan tiruan singa yang sekarang kita sebut Barongsai itu.

Barongsai berhasil mengusir Nien yang buas. Bertahun-tahun kemudian, Nien sudah tidak pernah terlihat lagi. Barongsai kemudian dimainkan tiap tahun pada perayaan Tahun Baru Cina dan berbagai perayaan lain.


***

Jika Anda menyukai Cerita Asal Usul Barongsai, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Legenda Kepiting Pantai

Dahulu kala, di Vietnam hiduplah seorang pemburu muda bernama D� Tr�ng. Tiap hari ia pergi ke hutan membawa busur dan anak panah untuk berburu. Ia selalu melewati sarang sepasang ular belang. Mulanya D� Tr�ng takut kepada ular itu, tapi karena mereka tidak pernah mengganggunya, lama-lama ia terbiasa dengan ular-ular itu. Ia bahkan suka mengamati gerakan ular dan sisik-sisik mereka yang indah.

Legenda Kepiting Pantai
Pada suatu hari, D� Tr�ng melihat kedua ular belang itu berkelahi dengan seekor ular berbisa yang besar. D� Tr�ng segera mengambil busur. Anak panahnya mengenai leher ular berbisa yang kemudian melarikan diri. Seekor ular belang mengejarnya, sementara pasangannya sudah mati. D� Tr�ng menguburkan ular yang mati itu.

Malam harinya, D� Tr�ng bermimpi ular belang datang kepadanya. Ular itu berterima kasih karena D� Tr�ng telah menolongnya dan menguburkan pasangannya. Sebagai tanda terima kasih ia memberikan sebutir mutiara. �Letakkan mutiara ini di bawah lidahmu. Kau akan memahami bahasa binatang,� kata ular.

Esok harinya ketika D� Tr�ng bangun, ia menemukan mutiara yang indah di dekat bantalnya. Ketika pergi berburu, D� Tr�ng memanah seekor rusa. Panahnya meleset. Seekor burung gagak berkaok-kaok ribut di dahan pohon. D� Tr�ng meletakkan mutiara di bawah lidahnya. Seketika ia mendengar gagak itu berbicara kepadanya.

�Ke sana! Rusa itu lari ke timur!� kata gagak. �Ayo kejar!�

D� Tr�ng mengejar rusa bersama gagak. Ia berhasil menangkap rusa itu. D� Tr�ng membersihkan daging rusa dan memberikan sebagian kepada gagak. Sejak itu gagak selalu menemani D� Tr�ng berburu.Tiap hari D� Tr�ng selalu mendapat hewan buruan berkat bantuan gagak. D� Tr�ng tidak pernah lupa meninggalkan sebagian hasil buruannya untuk gagak.

Pada suatu hari, D� Tr�ng menangkap seekor kijang. Ketika ia selesai membersihkan kijang, ia tidak melihat gagak. D� Tr�ng tidak menunggu gagak kembali. Ia meninggalkan daging untuk gagak di bawah pohon dan langsung pulang.

Tak lama kemudian gagak datang ke rumah D� Tr�ng dan meminta bagiannya. Rupanya daging yang disisihkan D� Tr�ng diambil oleh hewan lain. Gagak marah karena mengira D� Tr�ng tidak memberinya daging kijang. D� Tr�ng juga marah karena tuduhan gagak. Ia memanah gagak, tapi tidak kena. Gagak terbang berputar-putar sambil berteriak-teriak. Lalu ia mengambil anak panah D� Tr�ng dan terbang pergi.

Beberapa hari kemudian D� Tr�ng ditangkap. Anak panah dengan tulisan namanya ditemukan pada mayat yang tenggelam di sungai. Walaupun D� Tr�ng mengatakan ia tidak membunuh orang itu, tapi karena bukti anak panah itu, ia dinyatakan bersalah dan dipenjarakan.

Pada suatu hari, D� Tr�ng melihat semut banyak sekali berbaris di dinding penjara. Semut-semut itu berjalan cepat-cepat membawa makanan dan telur mereka. D� Tr�ng bertanya kepada semut mengapa tergesa-gesa. �Kami mengungsi,� kata semut. �Ada banjir besar tak lama lagi.� D� Tr�ng memberitahukan berita itu kepada penjaga. Penjaga itu memberi tahu kepala penjara yang segera melapor kepada raja.

Raja merasa berita itu aneh, tapi ia segera memerintahkan untuk menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan bila banjir benar-benar datang. Ia juga meminta rakyatnya bersiap-siap, bahkan mengungsi. Tiga hari kemudian, terjadi banjir besar. Karena peringatan D� Tr�ng, seluruh negeri selamat. Raja memanggil D� Tr�ng. Ia dibebaskan dari penjara dan diangkat menjadi penasehat raja.

Pada suatu hari D� Tr�ng mendengar burung-burung mengatakan bahwa tentara negara tetangga akan untuk menyerang mereka. D� Tr�ng segera melapor kepada raja. Raja segera mempersiapkan pasukan untuk menahan serangan.Tentara negara tetangga berhasil dihalau. Sekali lagi D� Tr�ng berjasa menyelamatkan negara.

Pada suatu hari raja mengajak D� Tr�ng pergi berlayar. D� Tr�ng mendengar suara aneh. Seekor cumi-cumi berenang di samping perahu sambil menyanyi penuh semangat. D� Tr�ng mendengarkan lagu cumi-cumi yang lucu. Ia pun tertawa terbahak-bahak hingga mutiara di mulutnya melompat ke luar dan tenggelam di laut.

D� Tr�ng segera memberitahu sang raja bahwa mutiaranya yang sangat berharga jatuh di laut. Raja segera memerintahkan semua orang mencari mutiara itu. Semua tentara dan pelayan yang ada di perahu mencari mutiara itu, namun tidak menemukannya.

D� Tr�ng mengaduk-aduk pasir di pantai, berharap menemukan mutiaranya kembali. Bertahun-tahun ia mencari tapi tetap tidak menemukan mutiara yang hilang. Akhirnya ia meninggal karena sedih.

Bila kamu pergi ke pantai berpasir, kamu akan melihat kepiting-kepiting kecil di pantai. Hewan-hewan kecil itu menggali lubang di pasir, berkeliaran dari lubang ke lubang seperti mencari-cari sesuatu yang tidak pernah ditemukan. Orang-orang Vietnam percaya bahwa kepiting-kepiting itu adalah penjelmaan D� Tr�ng yang masih penasaran karena belum menemukan mutiaranya.

***

Jika Anda menyukai Cerita Legenda Kepiting Pantai, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Keong dan Kancil Balapan Lari

Pada suatu hari yang panas, kancil ingin minum di sebuah sungai. Ketika tiba di dekat sungai, kancil melihat seekor keong berjalan ke arah sungai. Keong itu berjalan pelan sekali di antara dua buah semak berduri sehingga kancil tidakbisa lewat.

�Yong, cepat sedikit! Aku haus sekali,� kata kancil
�Tunggu, cil,� kata keong.

Cerita Anak Keong dan Kancil Balapan Lari
Keong berusaha berjalan secepat mungkin tapi kancil sudah tidak sabar. Kancil marah dan mulai mengejek keong.

�Makanya, yong. Kalau mau jalanmu cepat, jangan bawa-bawa rumahmu,� kata kancil.
Kancil terus mengejek sehingga keong kesal. �Jalanku memang pelan. Tapi aku bisa lari lebih cepat darimu,�
�Kamu lari lebih cepat dariku?� kancil tertawa geli sampai terguling-guling di tanah.
�Kamu tidak percaya? Jalanku memang lambat, tapi kalau mau aku bisa lari lebih cepat darimu.�
�Kalau begitu, kita balapan yuk!� kata kancil
�Ayo, siapa takut! Besok kita balapan lari dari pohon cemara sampai pohon durian itu.�
�Baik, besok kita bertemu pada waktu matahari terbit. Jangan nangis kalau kalah, ya.� Kancil pun pergi sambil tertawa-tawa.

Seekor kelinci dan burung-burung menasihati keong agar membatalkan balapan. �Kau pasti kalah,� kata kelinci. �Benar, batalkan saja,� kata burung pipit.
�Datang saja besok, kita lihat apa yang terjadi,� kata keong.

Esok paginya, seluruh warga hutan sudah mendengar berita keong menantang kancil balapan. Banyak hewan datang menonton. Kancil senang sekali. Dia yakin sekali akan menang.

�Yong, kau yakin akan tetap balapan denganku? Tak perlu malu, belum terlambat untuk membatalkannya.�
Keong menjawab dengan percaya diri, �Ayo kita mulai!�

Balapan dimulai. Kancil mulai berlari. �Yong, aku lari pelan-pelan saja... toh aku akan tetap menang.�
�Hei, kancil! Aku di depanmu!�
Kancil terkejut. Keong sudah mendahuluinya. Kancil pun mempercepat larinya.

Beberapa saat kemudian....
�Yong?�
�Aku di sini!� terdengar suara kecil di depan kancil.
Kancil sekarang lari secepat-cepatnya, tapi....
�Yong?�
�Hei, kancil! Kalau tidak cepat, kau akan kalah!�

Tiap kali kancil memanggil, �Yong?�, keong selalu ada di depannya.
Kancil sudah hampir sampai di pohon durian. Dengan gugup ia memanggil, �Yong?�
Keong sudah ada di bawah pohon durian. �Aku di sini, cil. Aku menang!�
Penonton bersorak sorai. Kancil yang sombong sangat malu. Ia pergi dengan kepala tertunduk.
Benarkah keong berlari lebih cepat dari kancil? Tentu saja tidak! Tapi keong cerdik. Ia mengumpulkan teman-temannya. Semua keong tampak serupa. Keong yang banyak sekali itu berjalan pelan-pelan di sepanjang jalur balapan. Tiap ada panggilan, �Yong?� keong yang berada di depan kancil menjawab. Satu keong bersembunyi di bawah pohon durian, ketika kancil hampir sampai, ia menampakkan diri.

Siapa lemah harus cerdik!

***

Jika Anda menyukai Cerita Anak Keong dan Kancil Balapan Lari, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Kucing Kurus Kucing Gemuk

Dahulu kala, hidup seorang wanita tua yang miskin. Tubuhnya kurus karena ia hanya makan seadanya. Wanita itu memelihara seekor kucing yang sama kurusnya.

Pada suatu hari, si kucing kurus bertemu dengan seekor kucing yang gemuk, dengan bulu yang tebal dan indah. �Hai, teman�, kata si kurus. �Kau gemuk dan sehat. Pasti kau ini kucing yang paling bahagia di seluruh dunia. Jangan-jangan kau berpesta tiap hari.��

Kucing Kurus Kucing Gemuk
Kucing gemuk memperhatikan kucing kurus yang baru ditemuinya itu. �Benar,� katanya.�Aku makan dari meja makan raja. Kau tahu, makanan apa saja ada di sana.�

�Kau peliharaan raja?� tanya si kurus kagum.

�Oh, bukan,� kata si gemuk. �Tapi tiap kali makanan dihidangkan di meja makan raja, aku mengambil sedikit makanan yang kusukai.

�Kadang-kadang aku mendapat ayam goreng, daging sapi asap atau ikan bakar. Malah aku pernah minum kaldu dari mangkuk raja.�

Kucing kurus membayangkan meja makan yang penuh hidangan lezat yang belum pernah dilihatnya. Ia ingin dapat merasakan makanan itu. �Besok aku ajak kau ke sana,� kata si gemuk.

Kucing kurus bercerita kepada majikannya dengan penuh semangat. Tapi wanita tua itu malah menjadi sedih. �Jangan pergi ke istana dan mencuri makanan raja. Kalau tertangkap, pasti kau celaka,� kata wanita itu.


Kucing Kurus Kucing Gemuk
Kucing kurus tidak menghiraukan nasihat wanita tua. �Si gemuk makan di sana tiap hari, dan ia tidak pernah tertangkap,� begitu pikirnya. �Kalau dia bisa, aku juga pasti bisa.� Esok harinya kucing kurus pergi dengan kucing gemuk ke istana.

Pada hari sebelumnya, beberapa kucing yang mencuri makanan telah membuat meja makan berantakan sehingga raja marah besar. �Sudah saatnya kita membersihkan istana dari kucing. Tangkap semua kucing di istana dan hukum mati!� perintah raja.

Kucing gemuk memperingatkan kucing kurus tentang perintah raja itu. Mereka berdua menyelinap ke istana dengan hati-hati. Ketika sampai di meja makan, mereka menunggu di bawah meja sampai tidak ada orang lalu lalang di sekitar meja.

Sudah tidak terlihat orang di sekitar meja makan sekarang. Si gemuk melompat ke atas meja. Si kurus mengikuti. Si gemuk mengambil paha ayam goreng yang besar lalu segera lari ke luar istana. Si kurus mengambil ikan bakar.

Ia akan melompat dari meja, tapi ia melihat mangkuk sup penuh kaldu yang baunya luar biasa sedap. Ia menghampiri mangkuk sup dan mencicipi sedikit. Ternyata supnya enak sekali. Si kurus minum sedikit lagi, lalu sedikit lagi.

Saking enaknya kuah sup itu, si kurus lupa bahwa ia menghadapi bahaya. Tiba-tiba, �Dapat!� Sebuah tangan menangkap lehernya dan si kurus dibawa ke luar ruang makan.


Wanita tua menunggu di rumah dengan cemas. Ketika malam tiba dan si kurus tidak pulang, ia tahu bahwa kucingmya tidak akan pernah kembali. �Seandainya kau puas dengan makanan yang kau dapat dengan jujur, kau masih hidup sekarang,� keluhnya sedih.

***

ika Anda menyukai Cerita Rakyat Kucing Kurus Kucing Gemuk, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya