Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

Kisah ASAL MULA MAKAM IMOGIRI

Makam Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kompleks Makam Imogiri terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Konon, Sultan Agung sudah mempersiapkan makam tersebut sebelum dirinya wafat. Bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya dalam cerita Asal Mula Makam Imogiri berikut ini.


Di Kerajaan Mataram Islam, tersebutlah raja bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Ia merupakan raja ke-3 Kerajaan Mataram Islam yang terkenal arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Mataram senantiasa hidup aman, tenteram, dan makmur. Itulah sebabnya, ia sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.
Selain kharismatik, Sultan Agung memiliki kesaktian yang tinggi. Konon, ia mampu ke Mekah secara gaib untuk Shalat Jumat di sana. Karena seringnya ke Mekah, Sultan Agung kenal baik dengan beberapa ulama di sana, baik ulama Arab maupun ulama dari Indonesia yang sedang berada di Mekah. Dari perkenalan itu, mereka pun kemudian menjalin persahabatan dan Sultan Agung sering diajak oleh para sahabatnya untuk berkeliling kota Mekah dan sekitarnya.
Suatu waktu, ketika sedang berjalan-jalan bersama seorang ulama, Sultan Agung sampai pada suatu tempat yang tanahnya berbau harum. Ia amat tertarik pada tempat itu. Maka, timbullah keinginannya agar dimakamkan di tempat itu jika wafat kelak. Niat itu kemudian ia sampaikan kepada sahabatnya. Namun, ulama itu melarangnya.
�Jangan, Sultan!� cegah ulama itu.
�Kenapa, Kyai?� tanya Sultan Agung penasaran.
�Bukankah Sultan tahu sendiri bahwa seluruh rakyat Mataram amat mencintai Sultan. Jika Tuanku dimakamkan di Mekah, tentu mereka tidak bisa mengunjungi makam raja mereka,� ujar ulama itu.
Nasehat ulama itu memang masuk akal. Namun, Sultan Agung tetap bersikeras ingin dimakamkan di tempat tersebut. Melihat sikap Raja Mataram itu, sang Ulama pun mengambil segenggam tanah yang harum itu.
�Ampun, Tuanku! Bawalah tanah ini ke negeri Tuan. Sesampai di sana, lemparkanlah tanah ini ke selatan. Niscaya tempat jatuhnya tanah itu juga akan berbau harum dan di tempat itulah Tuanku akan dimakamkan,� ujar ulama itu.
Sultan Agung pun menerima tanah itu dengan senang hati. Sekembalinya dari Mekah, ia mengambil separuh tanah itu lalu dilemparkan ke arah selatan. Tanah itu jatuh di Bukit Giriloyo, di daerah Bantul. Sultan Agung kemudian memerintahkan abdi dalem (pegawai keraton) untuk membuat makam yang dipersiapkan untuk dirinya.
�Pergilah ke Bukit Giriloyo dan bangunlah sebuah makam untukku,� titah Sultan Agung.
Sendiko dawuh (siap laksanakan), Gusti Prabu,� jawab para abdi dalem.
Sultan Agung mengerahkan seluruh ribuan abdi dalem istana untuk membangun makam tersebut. Rupanya, pembangunan makam itu bukan sekadar menggali lubang, melainkan sebuah kompleks. Itulah sebabnya, pembangunan makam tersebut melibatkan ribuan orang. Untuk mengangkut batu bata dari keraton yang terletak di daerah Pleret ke Bukit Giriloyo, para abdi dalem merantingnya satu per satu dengan cara duduk bersila agar tidak rusak.
Paman Sultan Agung, Gusti Pangeran Juminah, ikut membantu mengawasi jalannya pembangunan makam. Namun, saat itu ia jatuh sakit. Bersamaan dengan pembangunan makam itu selesai, ia pun meninggal dunia. Maka, sang Paman dimakamkan di kompleks makam yang baru selesai dibangun itu. Oleh karena makam tersebut sudah digunakan untuk pamannya, Sultan Agung tidak ingin dimakamkan di tempat itu. Maka, ia pun berkata kepada abdi dalem istana.
�Kelak jika aku wafat, aku ingin pertama kali dimakamkan di pemakaman yang baru dibangun,� ungkapnya, �Selain itu, makam ini terlalu sempit untukku dan keluargaku kelak.�
Setelah pemakaman pamannya selesai, Sultan Agung kembali ke istana. Ia segera mengambil sisa tanah yang berbau harum dari Mekah itu lalu dilemparkannya ke arah selatan. Tanah itu pun jatuh di Bukit Merak, yang masuk ke dalam wilayah Desa Pajimatan, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Itulah sebabnya, Makam Imogiri juga dikenal dengan Makam Pajimatan.
Sultan Agung pun kembali memerintahkan para abdi dalem istana untuk membangun makam yang baru di tempat itu. Ia menginginkan agar makam itu dibangun menjadi beberapa bagian karena makam itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Maka, dibangunlah sebuah makam pada bagian tengah paling atas Bukit Merak. Makam itu kelak akan menjadi makam Sultan Agung. Kemudian, di sekitar makam itu, dibangun pula beberapa makam yang akan digunakan oleh para keluarga sang Sultan.
Singkat cerita, Sultan Agung wafat pada tanggal 6 April 1964. Ia pun dimakamkan di tempat itu yang kemudian menjadi induk makam dan disebut Kasultanangungan. Setelah itu, makam tersebut kemudian menjadi pemakaman seluruh keluarga sang Sultan dan Raja-raja Mataram setelahnya.
Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Makam Imogiri ini menjadi sebuah komplek makam yang luasnya mencapai 10 hektar. Di kompleks inilah sebagian besar Raja-raja Mataram Islam hingga pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dimakamkan. Kompleks makam ini pun dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian sebelah barat dipergunakan sebagai makam Raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan bagian sebelar timur dipergunakan untuk makam Raja-raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 


Demikian cerita Asal Mula Makam Imogiri dari daerah Bantul, Yogyakarta. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa raja yang arif dan bijaksana seperti Sultan Agung akan selalu dicintai dan dikenang oleh rakyatnya hingga akhir zaman. Sampai saat ini, makam Sultan Agung yang berada di kompleks Makam Imogiri selalu ramai dikunjungi oleh peziarah.
Baca selengkapnya

Kisah CANDI PRAMBANAN

Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.



Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.

Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.

Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.


Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang �Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya�. Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.
Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya.
Baca selengkapnya

Senin, 09 Mei 2011

Kisah ASAL MULA NAMA DUSUN GUBUK RUBUH

Dusun Gubukrubuh termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Getas, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dulu, wilayah dusun Gubukrubuh masih berupa hutan lebat. Namun karena sebuah peristiwa yang pernah terjadi, daerah itu dinamakan Dusun Gubukrubuh. Peristiwa apakah itu? Simak kisahnya dalam cerita Asal Mula Nama Dusun Gubukrubuh berikut ini.


Prabu Brawijaya V adalah Raja Majapahit yang memerintah pada kurun tahun 1468-1478 Masehi. Raja yang juga dikenal dengan nama Bhre Kertabumi ini memiliki nama asli Raden Alit. Ia adalah Raja Majapahit terakhir dan merupakan putra bungsu dari Prabu Sri Rajasawardhana bergelar Brawijaya II (memerintah sekitar tahun 1451-1453 M). Prabu Brawijaya V mempunyai permaisuri bernama Putri Campa. Putri yang cantik dan cerdas ini adalah persembahan dari Kerajaan Tiongkok, yaitu dari Kaisar Yan Lu dari Dinasti Ming, sebagai tanda persahabatan.
Rupanya, kehadiran Putri Campa menimbulkan pertentangan di kalangan keluarga istana. Maka, dengan berat hati, Prabu Brawijaya V terpaksa menghibahkan permaisurinya yang sedang mengandung itu kepada salah seorang putranya, yaitu Arya Damar, yang menjabat sebagai Adipati Palembang. Arya Damar adalah putra Prabu Brawijaya V dari salah seorang istri selirnya. Putri Campa kemudian diberangkatkan ke Palembang untuk mendampingi Arya Damar.
Tak berapa lama tinggal di Palembang, Putri Campa melahirkan seorang anak laki-laki dari hasil perkawinannya dengan Prabu Brawijaya V. Anak itu diberi nama Jimbun atau yang kelak dikenal sebagai Raden Patah. Setelah melahirkan Raden Patah, Putri Campa kemudian dinikahi oleh Arya Damar dan memperoleh seorang anak laki-laki bernama Raden Kusen. Setelah dewasa, Raden Patah ditunjuk untuk menggantikan ayah tirinya, Arya Damar, menjadi Adipati Palembang. Namun, ia menolak dan malah pergi ke Jawa bersama Raden Kusen. Menurut cerita, kedua orang bersaudara tiri tersebut tiba di pelabuhan Tuban pada sekitar tahun 1419 M.
Di Jawa, Raden Patah dan Raden Kusen kemudian berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Setelah itu, Raden Kusen mengabdi ke Kerajaan Majapahit namun dengan tetap menyembunyikan jatidirinya. Kecakapan Raden Kusen membuat karirnya di Kerajaan Majapahit melesat dengan cepat, hingga ia dipercaya untuk menjabat sebagai Adipati Terung. Sementara itu, Raden Patah pergi ke Jawa Tengah untuk membuka hutan dan membangun sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Glagahwangi. Atas kepemimpinannya, pesantren itu semakin lama semakin maju.
Suatu waktu, Raden Kusen yang telah menjadi Adipati Terung mengundang Raden Patah ke kediamannya. Ia bermaksud mengajak kakak tirinya itu untuk menemui Prabu Brawijaya V di Kerajaan Majapahit. Namun, ternyata Prabu Brawijaya V sendiri belum mengetahui jika Raden Patah adalah anak kandungnya sendiri, dan Raden Kusen adalah putra dari anaknya, Arya Damar, yang berada di Palembang
�Kanda, Raden Patah. Sebaiknya kita menemui ayahanda Kanda di Majapahit,� ujar Raden Kusen.
�Baiklah. Terima kasih atas kesediaan Adinda. Kanda pun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau,� kata Raden Patah.
Keesokan harinya, keduanya pun berangkat ke Kerajaan Majapahit. Setiba di sana, Raden Kusen langsung memperkenalkan Raden Patah kepada Prabu Brawijaya V.
�Ampun, Baginda Prabu. Hamba menghadap bersama saudara tiri hamba, Raden Patah,� ungkap Raden Kusen di hadapan Prabu Brawijaya V.
�Lalu, apa maksud kedatangan kalian ke sini?� tanya sang Prabu.
�Ampun, Baginda. Perlu Baginda ketahui bahwa Raden Patah ini putra Baginda, sedangkan hamba sendiri adalah anak tiri sekaligus cucu Baginda,� aku Raden Kusen.
�Apa katamu?� kata Prabu Brawijaya tersentak kaget, �Hai, kalian jangan mengaku-ngaku sebagai putraku!�
�Benar. Saya ini putra Baginda,� sahut Raden Patah. 
Prabu Brawijaya pun semakin bingung. Ia merasa bahwa dirinya tidak mempunyai putra bernama Raden Patah. Setelah Raden Patah dan Raden Kusen menceritakan asal usul mereka bahwa mereka adalah anak dari Putri Campa, barulah Prabu Brawijaya mulai percaya.
�Tapi, bukankah ibunda kalian ada di Negeri Palembang? Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?� tanya Prabu Brawijaya.
Raden Kusen dan Raden Patah pun menceritakan kisah perjalanannya dari Palembang hingga tiba ke Jawa. Mendengar cerita itu, Prabu Brawijaya pun semakin percaya dan akhirnya mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat menjadi Bupati Glagahwangi yang kemudian berganti nama menjadi Demak dengan ibukota di Bintara. Menurut cerita, Raden Patah pindah dari Surabaya ke Demak sekitar tahun 1475.
Dengan dibantu pamannya, Pangeran Sabrang Lor, Raden Patah mengembangkan Demak Bintoro menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Dalam waktu singkat, para pedagang muslim dari Cina pun banyak yang menetap di daerah itu, terutama di daerah Semarang, Lasem, Juwana, dan Tuban. Dua tahun kemudian, Raden Patah yang telah dinobatkan menjadi Sultan Demak menaklukkan Semarang yang termasuk wilayah bawahannya.
Mendengar kabar tersebut, Prabu Brawijaya V pun mulai khawatir kalau-kalau putranya itu akan memberontak. Ketika itu, Raden Patah memang berniat untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan mengislamkan ayahandanya beserta seluruh rakyatnya. Namun, ketika niat itu ia sampaikan kepada Sunan Ampel, sang Sunan justru menasehatinya.
�Jangan, Den! Sebaiknya Raden jangan memberontak pada Kerajaan Majapahit!� ujar Sunan Ampel kepada Raden Patah., �Walaupun berbeda agama, Prabu Brawijaya tetaplah ayahanda Raden.�
Raden Patah pun mengurungkan niat tersebut. Namun, setelah Sunan Ampel meninggal dunia, Raden Patah akhirnya menyerang Kerajaan Majapahit. Dalam serangan tersebut, Prabu Brawijaya V dan para pasukannya kalah. Oleh karena malu diajak masuk Islam oleh putranya, ia bersama sejumlah pengikutnya melarikan diri ke daerah barat hingga tiba di wilayah Gunungkidul yang terletak di bagian selatan Yogyakarta. Sang Prabu tidak berani melarikan diri ke utara karena daerah itu sudah dikuasai oleh tentara Demak dan di pantai utara Jawa telah dihuni oleh para pedagang muslim.
Raden Patah yang mengetahui pelarian ayahandanya pun mengejar karena menginginkan sang Ayah masuk agama Islam. Sementara itu, Prabu Brawijaya V bersama pengikutnya yang sudah tiba di Gunungkidul terus menyusuri hutan lebat. Suatu ketika, sejumlah pengikut sang Prabu berhenti di sebuah gubuk yang berada di tengah hutan untuk beristirahat karena kelelahan. Namun, tanpa mereka sadari, ternyata Raden Patah dan pasukannya juga sudah sampai di daerah itu.
Ketika mereka sedang asyik beristirahat di gubuk itu, tiba-tiba pasukan Raden Patah datang menyergap. Akhirnya, pasukan Prabu Brawijaya V pun menyerah dan menjadi pengikut Raden Patah, sedangkan sang Prabu berhasil meloloskan diri. Atas nasihat Sultan Demak itu, pasukan Prabu Brawijaya V yang tertangkap itu pun masuk agama Islam. Di gubuk itu, mereka diajari cara melaksanakan shalat.
Sejak itu, daerah tersebut diberi nama Dusun Gubukrubuh, yang diambil dari kata gubuk yaitu tempat mereka pertama kali melaksanakan shalat, dan kata rubuh yang berarti �runtuh� memiliki dua pengertian, yaitu pengertian secara fisik dan secara batin. Secara fisik, kata rubuh diartikan sebagai rubuhnya badan pada saat shalat dari posisi berdiri ke posisi rukuk, kemudian ke posisi sujud. Secara batin, rubuh diartikan runtuhnya iman atau keyakinan mereka dari keyakinan agama Hindu menjadi keyakinan agama Islam.
Sementara itu, Prabu Brawijaya V yang berhasil melarikan diri tiba di pantai selatan Gunungkidul. Di sana, ia mengalami kebuntuan dan tidak tahu harus berlari ke mana lagi karena terhalang oleh Laut Selatan. Sang Prabu pun merasa bahwa barangkali hidupnya hanya sampai di situ. Ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri hingga tewas karena seluruh tubuhnya kobong atau terbakar. Oleh masyarakat setempat, pantai tempat Prabu Brawijaya V membakar dirinya itu dinamakan Pantai Ngobaran, yang diambil dari kata kobar atau kobong.
* * *
Demikian cerita Asal Mula Nama Dusun Gubukrubuh dari Yogyakarta. Menurut salah seorang sesepuh yang tinggal di Dusun Gubukrubuh bahwa para ulama dan pemerintah setempat pernah ingin mengganti nama dusun ini menjadi Sumber Mulyo namun masyarakat setempat menolaknya sehingga nama Gubukrubuh tetap dipakai sampai sekarang. Pendidikan agama Islam pun berkembang dengan pesat di dusun ini. Hingga kini (3 Mei 2011), terdapat lembaga pendidikan dari berbagai jenjang yaitu mulai dari tingkat pendidikan PAUD, Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtida�iyyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Pondok Pesantren. Tidak mengherankan jika dusun ini menjadi kebanggaan Kelurahan Getas karena satu-satunya kelurahan di Gunungkidul yang seluruh penduduknya beragama Islam adalah Kelurahan Getas. 

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa betapa pun keinginan kita untuk memaksa seseorang berpindah keyakinan, kalau bukan orang itu sendiri yang menghendaki, maka hal itu tidak akan terjadi. Seperti halnya Raden Patah, walaupun ia telah berusaha mengejar ayahnya hingga ke daerah Gunungkidul untuk diajak masuk Islam, namun sang Ayah lebih memilih bunuh diri daripada memenuhi ajakan putranya.
Baca selengkapnya