Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Legenda Pulau Nusa

Dahulu kala hiduplah seorang laki-laki bernama Nusa. Ia tinggal bersama isteri dan adik iparnya. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, Nusa bekerja di sawah dan menangkap ikan.
Suatu ketika terjadi musim kemarau panjang. Sungai dan mata air kering. Tanamanpun layu bahkan sebagian mati. Nusa seperti halnya warga lain mengalami kesulitan mendapatkan air. Tanaman di sawahnya layu dan mati. Sementara itu air sungai surut sehingga ia tidak dapat menangkap ikan.
Nusa memutuskan untuk mengajak isteri dan adiknya pindah ke daerah lain yang masih mempunyai persediaan air. Mereka berangkat menaiki sebuah perahu kecil menuju hilir sungai Rungan.

Di tengah jalan, perjalanan mereka terhambat sebatang pohon tumbang yang melintang di atas sungai. Mereka harus memotong-motong batang pohon itu agar bisa melanjutkan perjalanan. Nusa dan adik iparnya memotong batang pohon itu dengan kapak. Mereka harus bekerja sangat lama karena pohon itu besar sekali. Nusa menjadi lapar sekali. Ia kemudian mengajak adik iparnya mencari makanan di hutan.

Cerita Rakyat Legenda Pulau Nusa
Nusa menemukan sebutir telur besar. Besarnya kira-kira dua kali ukuran telur angsa. Nusa merebus telur itu. Karena isteri dan adiknya tidak mau makan telur itu, Nusa menghabiskannya sendiri, walaupun isteri dan adik iparnya melarangnya makan telur itu.

Tengah malam tiba. Nusa yang sudah terlelap tiba-tiba terbangun karena merasa gatal di seluruh tubuhnya. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah dan sangat gatal. Nusa menggaruk-garuk tubuhnya. Bahkan isteri dan adik iparnya ikut membantu menggaruk, tapi Nusa tetap merasakan gatal tak tertahankan. Adik iparnya pergi mencari bantuan di perkampunga terdekat.
Esoknya, bintik-bintik merah yang memenuhi sekujur tubuh Nusa berubah menjadi sisik-sisik. Tubuh Nusa juga berubah memanjang, seperti seekor naga. Hanya wajah dan dadanya saja yang masih berwujud manusia.

�Isteriku,� kata Nusa. �Telur yang kumakan itu mungkin telur naga. Seharusnya aku mendengar nasihatmu dan tidak memakannya. Tapi menyesalpun tidak ada gunanya. Mungkin sudah takdirku berubah menjadi seperti ini.� Isteri Nusa hanya bisa menangis karena tidak dapat menolong suaminya.
Adik ipar Nusa kembali bersama warga desa yang berniat menolong. Mereka terheran-heran melihat tubuh Nusa sekarang. Mereka juga sedih karena tidak dapat membantu.
Nusa kemudian berpesan, �Malam nanti akan terjadi hujan yang sangat lebat bersama badai. Sungai Rungan akan meluap hingga membanjiri daerah sekitarnya.Kalian semua mengungsilah ke daerah yang aman.�

Nusa mengucapka perpisahan kepada isteri dan adik iparnya. Ia juga berpesan agar isteri dan adik iparnya ikut mengungsi bersama warga. Kemudian ia meminta agar tubuhnya yang sekarang sepanjang tiga kali pohon kelapa digulingkan ke sungai.

Ketika sudah berada di sungai, Nusa berusaha menghindari sinar matahari yang terik dan berenang ke arah muara sungai Kahayan.

Malam harinya turun hujan disertai angin kencang. Petir menyambar-nyambar disertai suara gemuruh. Air sungai Rungan naik dengan cepat hingga terjadi banjir besar. Beruntung, isteri dan adik ipar Nusa dan warga desa sudah mengungsi begitu hujan mulai turun sehingga mereka selamat.
Tubuh Nusa hanyut terbawa banjir hingga tiba di sungai Kahayan. Sebelum mencapai lautan lepas, Nusa menemukan teluk yang dalam. Ia merasa tempat itu cocok sebagai tempat tinggalnya. Apalagi di sana banyak terdapat ikan beraneka jenis.

Karena tubuhnya besar, selera makan Nusa juga sangat besar. Ia makan ikan banyak sekali. Ikan yang hidup di muara itu menjadi cemas. Mereka kemudian berunding agar dapat mencegah Nusa memangsa mereka sampai habis.

Ikan saluang mempunyai rencana yang kemudian disetujui oleh semua ikan. Ikan saluang kemudian diutus untuk menemui Nusa.

�Tuan naga,� kata ikan saluang. �Apakah tuan pernah bertemu dengan naga yang tinggal di laut?�

�Belum pernah,� kata Nusa. �Mengapa kau bertanya begitu�

�Berhati-hatilah, Tuan,� kata ikan saluang �Naga laut itu selalu menantang naga-naga lain, dan ia selalu menjadi pemenangnya.�

�Benarkah?� tanya Nusa. Hatinya geram mendengar cerita ikan saluang. �Apakah naga itu tubuhnya besar? Lebih besar mana dengan diriku?�
Ikan saluang mengamati tubuh Nusa, �Tubuh tuan lebih besar dari dia,� katanya. �Tapi ia sangat cerdik. Sudah banyak naga dari sungai ini dikalahkannya. Ada juga yang mati. Yang masih hidup terpaksa lari ke tempat lain.�

�Di mana naga laut itu?� kata Nusa geram.

�Tadi aku melihatnya berenang ke arah muara sungai ini.�

�Akan kudatangi dia,� kata Nusa.

�Jangan, tuan,� kata ikan saluang. �Lebih baik tuan menunggu di sini, dengan demikan tuan akan dapat menyimpan tenaga sampai naga itu datang.�

�Benar juga,� kata Nusa dalam hati. �Kalau aku pergi ke laut lepas, bisa-bisa aku sudah kehabisan tenaga ketika bertemu dengan naga itu.�

Nusa pun menunggu. Ia berjaga selama berhari-hari. Ia tidak berani tidur karena takut naga laut itu datang ketika ia tidur. Tapi ia tidak dapat terus berjaga, Akhirnya ia mengantuk dan tertidur.
Ketika Nusa sudah pulas tertidur, ikan saluang berteriak di dekat ekor Nusa, �Tuan! Bangunlah! Naga laut itu datang!�

Nusa yang terkejut karena teriakan itu memutar tubuhnya dengan cepat. Akibatnya air sungai bergolak denga hebat. Nusa mengira gerakan air sungai itu karena musuhnya datang. Nusa melihat ekor naga di depannya. Digigitnya ekor naga itu kuat-kuat hingga putus. Nusa sangat kesakitan karena ia menggigit ekornya sendiri sampai putus.

Ikan-ikan sudah bersiap-siap di sekitar Nusa. Ketika mereka melihat Nusa terluka, mereka langsung menyerangnya beramai-ramai. Mereka menggigiti luka Nusa sehingga Nusa tidak berdaya dan kehabisan darah. Akhirnya Nusa tewas.

Jasad Nusa menjadi makanan ikan-ikan hingga tinggal tulang-tulangnya saja. Tulang-tulang itu lambat laun tertimbun lumpur sehingga ditumbuhi pepohonan dan kemudian membentuk sebuah pulau di muara Sungai Kahayan. Warga menyebutnya pulau Nusa.

***

Jika Anda menyukai Cerita Asal Usul Kota Semarang, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).

Baca selengkapnya

Jumat, 16 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Batu Menangis

Disebuah bukit yang jauh dari desa, di daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semoga Bermanfaat Cerita Rakyat Batu Menangis. Kami ucapkan terima kasih kepada anda yang telah mengunjungi Web Blog ini dan silahkan membaca cerita rakyat yang lain.
Baca selengkapnya