Rabu, 29 Juli 2015

Pentingnya Mengasuh Anak Cerdas Dan Kreatif Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita. Tak ada yang salah dengan upaya mencetak anak cerdas dan kreatif. Persoalannya, sampai di mana upaya-upaya tersebut bermanfaat bagi anak? Selain itu, persoalan berikutnya, sampai sejauh mana anak dapat mengikuti tanpa merasa terpaksa sehingga akhirnya justru tidak produktif dan menjadi masalah di kemudian hari?

Jangan lupa juga, secara alamiah, usia kanak-kanak adalah saat untuk bermain. Bermain juga penting untuk melatih fisik, emosi, imajinasi, dan kreativitas anak. Sayang sekali apabila ibu sampai melarang anak bermain semata karena "program anak cerdas dan kreatif".

"Mencetak" anak cerdas dan kreatif juga berarti ibu harus berperan aktif. Memang, anak yang kreatif tidak aakn jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Namun, di sisi lain, kreativitas -yang mensyaratkan kebebasan- tidak akan berkembang apabila anak tidak diberi kesempatan. Kebebasan tanpa batas dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas. Sebaliknya, disiplin kaku tanpa toleransi berpotensi mematikan kreativitas anak. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Kreativitas
Imajinasi adalah kata kunci kreativitas. Menurut para ahli, potensi kreativitas itu mulai meningkat pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun. Kemudian, potensi itu akan segera menurun pada saat masuk sekolah dasar. Oleh karena itu, upaya perangsangan kreativitas pada usia prasekolah menjadi sangat penting. Ada banyak cara untuk mengembangkan kreativitas anak. Di rumah, ibu dapat melakukannya, misalnya dengan membiarkan anak mengatur kamar tidurnya sendiri. Sedangkan di sekolah, dapat dilakukan dengan mengembangkan cara belajar-mengajar yang mendorong anak untuk aktif. Cara-cara belajar yang mengandalkan metode hafalan atau memaksa anak untuk mengikuti berbagai kursus justru merusak kreativitas dan imajinasi anak.

Anak bermain bagi banyak ibu dianggap sebagai "pemborosan waktu". Dalam pandangan mereka akan lebih baik jika waktu untuk bermain itu dipakai untuk kegiatan belajar yang tidak mengandung unsur permainan. Anggapan ini sangat keliru, karena bermain bagi anak bukanlah sekadar untuk mengisi waktu senggang. Seorang pakar bahkan mengingatkan, jika kebebasan bermain tersebut dihambat, pada masa selanjutnya daya kreatif, daya imajinasi, bahkan kemampuan belajar anak bakal mengalami hambatan yang serius.

Musik, olahraga, dan berbagai kegiatan yang melibatkan gerakan lainnya banyak menentukan perkembangan anak untuk masa depan. Banyak ibu hanya peduli dengan hasil akhir, tanpa tahu bagaimana proses belajar terjadi. Hal itu yang mengakibatkan pengajaran hal yang bersifat kreatif, misalnya musik, sama seperti mengajar ilmu-ilmu lain. Padahal, jika diajarkan dengan benar, dapat meningkatkan daya imajinasi da pemahaman anak.



Baca selengkapnya

Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Orang tua perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan. Ilmu pengasuhan ini dapat Anda peroleh dari berbagai sumber, seperti seminar atau artikel di majalah dan buku-buku. Pada dasarnya, ada enam pilar penting dalam pengasuhan anak, demikian menurut Hanny Muchtar Darta, saat peluncuran sekaligus bedah bukunya, Six Pillars of Positive Parenting, di arena Islamic Book Fair, Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/3/2011). Hal ini yang belum diketahui orangtua pada umumnya.

"Tanpa disadari, masih banyak orangtua yang menerapkan pola asuh atau pendekatan negatif dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sebagai orangtua saya mengusahakan untuk belajar. Saya belajar untuk anak-anak saya, termasuk mempelajari enam pilar dalam mendidik anak-anak. Ini juga berdasarkan pribadi saya sebagai orangtua," ungkap Hanny.

Kemitraan atau kerja sama antara ayah dan ibu (partnership parenting)
Orangtua harus belajar bekerja sama dengan baik, terutama dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak. Jangan sampai ada perbedaan pendapat dalam mengajarkan kedisplinan dan norma-norma kehidupan. Dengan demikian, anak akan mematuhi bimbingan orangtua karena melihat baik ayah maupun ibunya sepakat memberikan pandangan yang sama.

Belailah, bicaralah, bermain, dan berpikir (4B)
Hanny memaparkan hasil penelitian Dr Harold Voth, psikiater dari Kansas, Amerika, mengenai unsur belaian. Berapa kali belaian yang Anda berikan pada anak setiap harinya akan memengaruhi tumbuh-kembangnya. Misalnya, empat belaian pada anak dalam sehari bisa membuat anak selalu survive. Delapan belaian sehari dapat mendukung masa tumbuh anak. Sedangkan 12 belaian akan membuat anak sehat secara fisik maupun emosi. Fungsi belaian ini pun berlaku bagi pasangan suami-istri. Belaian mampu mengusir depresi, membuat kita awet muda, tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Kemudian Hanny menganjurkan orangtua untuk menjalin komunikasi dengan anak. Komunikasi dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membacakan buku untuk anak dan menanyakan pendapatnya mengenai isi buku itu.

Selain ngobrol, orangtua juga harus menyempatkan waktu untuk mengajak anak bermain dengan melibatkan fisik. Pada kesempatan bermain, peran ayah jauh lebih besar untuk mengajak anak melakukan kegiatan seperti olahraga maupun melakukan permainan lain. Tak hanya bermain secara fisik, anak juga harus diajarkan bermain dengan menggunakan ekspos pikiran. Hal ini membantu anak untuk mengelola alam pikirannya. Latihan berpikir juga membantu anak mengomunikasikan apa yang dipikirkannya karena belum tentu pikiran anak dan orangtua sama.

Kedisiplinan, dan terapkan aturan secara konsisten
Aturan tidak harus selalu dibuat oleh orangtua. Contohnya dalam menyepakati jam belajar. Anak dan orangtua bisa berdiskusi, berapa jam yang dibutuhkan anak untuk mengulang pelajaran sekolahnya. Orangtua menunjukkan cinta kasih tetapi tetap dengan ketegasan.

Memahami emosi negatif anak sejak dini
Ketika anak kita sedih dan menangis, tanyakan mengapa ia sedih, atau apa yang membuatnya menangis. Kita coba pahami perasaan anak untuk memperbaiki emosi-emosi negatifnya," ujar Hanny.

Gaya bahasa positif agar anak sehat secara fisik dan emosional
Pada bagian ini, Hanny mengutip pernyataan dari Task Force for Personal and Social Responsibilities di Amerika yang menjelaskan bahwa setiap harinya orang mendengarkan 432 kata dan kalimat negatif, dan hanya 32 kata dan kalimat positif. Sebanyak 80 persen kata-kata tersebut menyakitkan, memberikan dampak psikologis yang buruk, dan tidak memotivasi orang untuk bangkit. Sisanya, 20 persen orang bertahan meskipun mendengar kata-kata tersebut. Oleh karena itu, orangtua perlu belajar untuk tidak marah secara berlebihan, apalagi mengancam anak.

Terapkan pola asuh tanpa hukuman
Ternyata hukuman saja tidak membuat anak mampu melakukan perubahan positif. Orangtua sepatutnya memberikan kebebasan pada anak, bukan dalam arti kebebasan penuh, melainkan membiarkannya memilih konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Dengan demikian anak bisa memetik pelajaran atas apa yang sudah dilakukannya. Selain memaparkan tentang pilar-pilar pengasuhan anak, buku ini juga membeberkan hasil penelitian para ahli dan serangkaian cerita-cerita tentang keluarga.


Baca selengkapnya

Tips Dan Cara Memilih Playgroup Yang Baik Bagi Anak Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Dan Cara Memilih Playgroup Yang Baik Bagi Anak , Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Orang tua harus melihat kesiapan anak secara mental. Karena menurut Sani, Psi, anak harus merasa nyaman dengan lingkungan baru. "Jangan hanya ikut-ikutan melihat tetangga akhirnya menyekolahkan balita. Karena dengan memasukkan balita playgroup, anak tanpa sadar dilatih untuk mandiri. Dan hal itu perlu kesiapan mental yang baik," katanya. Maka, sebelum memilih sekolah untuk anak balita, inilah beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan.

Untuk balita yang sudah belajar bicara dianggap oleh Sani, Psi, sudah cukup matang untuk masuk playgroup. Ibu, juga harus melihat apakah anak memang sudah membutuhkan playgroup di usianya yang dini. Karena pada usia balita, anak masih banyak bermain dengan lingkungan terdekat, seperti lingkungan di rumah. Banyaknya pilihan playgroup atau Taman Kanan-Kanak bisa membuat Ibu bingung. Berikut hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum Ibu akhirnya memutuskan untuk memilih sekolah untuk anak.

Fasilitas Sekolah
Perhatikan fasilitas yang diberikan sekolah, seperti kebersihan toilet, sarana bermain, ruang kelas, ruang makan, sirkulasi ruangan sampai dengan fasilitas antar jemput. Tanyakan pula rasio perbandingan staf pengajar dan murid dalam satu kelas. Untuk usia balita yang aktif bergerak tentu saja perlu pengawasan lebih dari staf pengajar.

Anak Bermain dan Belajar
Untuk playgroup sebaiknya Ibu memperhatikan kurikulum yang diberikan. Untuk usia balita-batita, pilihlah playgroup yang memberikan kesempatan anak untuk bermain dan eksplorasi dengan rasa ingin tahunya. Carilah playgroup yang bisa merangsang tumbuh kembang anak bukan pada kemampuan akademik. Tetapi melatih kepekaan serta empati anak, mengajarkan tentang kerjasama, dan cara mengendalikan emosi.

Perhitungkan Jarak Tempuh
Hal penting yang harus kamu jadi pertimbangan adalah jarak tempuh playgroup dengan tempat tinggal. Karena menurut Sani, Psi, jarak tempuh yang jauh dan berisiko macet akan membuat anak tidak nyaman selama perjalanan. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Jangan sampai anak harus mengejar waktu dan merasa kelelahan karena mengalami kemacetan saat menuju sekolah. Sani, Psi, menyarankan untuk Ibu memilih sekolah yang relatif dekat dengan rumah. Karena lebih banyak hal positif jika playgroup mudah dijangkau dari rumah.

Mencari Informasi
Saat memilih sekolah jangan tergesa-gesa ya Bu. Karena kamu perlu melakukan survey kecil dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang playgroup yang akan dipilih. Carilah informasi dari pengalaman ibu yang menyekolahkan anak di playgroup tersebut. Ibu bisa mencari melalui internet atau mengunjungi langsung playgroup. Luangkan waktu untuk bisa melihat aktivitas di playgroup tersebut dan catatlah beberapa poin untuk menjadi bahan referensi.

Baca selengkapnya

Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Keluarga dengan pembentukan kepribadian sangat berkaitan erat. Keluarga merupakan wadah pembentukan kepribadian. Proses pembentukan kepribadian seseorang terjadi dalam keluarga. Keluarga menjadi titik sentral ketika seseorang membicarakan tentang kepribadian. Kepribadian apa pun yang melekat pada seseorang dipengaruhi oleh keluarganya.

Pengertian kepribadian adalah ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang mandiri. Kepribadian seseorang merupakan ciri khas yang dimiliki oleh seseorang. Kepribadian seseorang tercermin dalam tingkah laku, tindak tanduk, dan cara berpikir seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan Karakter Sejak Usia Dini
Pembentukan kepribadian seseorang biasanya terjadi semenjak orang tersebut dilahirkan ke dunia ini. Para ahli telah menyepakati bahwa tahap-tahap awal kehidupan seseorang menjadi suatu moment atau waktu yang terpenting. Penting karena pada tahap-tahap awal ini menjadi waktu ketika seseorang meletakkan dasar-dasar kepribadian bagi dirinya. Dasar-dasar kepribadian ini nantinya akan memberikan warna bagi kehidupannya kelak ketika sudah dewasa.

Pada usia dini pula anak mulai membentuk dasar kemampuan penginderaan, dan berpikir secara sederhana. Pembelajaran tentang moral atau tentang baik buruk juga terjadi pada saat usia dini. Oleh sebab itu, sikap, kebiasaan, dan perilaku anak yang dibentuk pada tahun-tahun awal sangat menentukan sejauh mana seorang anak dapat beradaptasi (menyesuaikan diri) pada lingkungan sosial. Hal ini juga menentukan pula sejauh mana seseorang dapat menjalani kehidupan secara baik dan harmonis ketika seseorang telah mencapai usia dewasa nanti. Usia dini menjadi tahap ketika seseorang mendapatkan rangsangan yang tepat. Karena pada usia dini ini seorang anak otaknya mengalami pertumbuhan. Seorang ibu atau orang tua mempunyai peranan penting dalam memberikan rangsangan yang baik bagi anaknya ini. Pola asuh orang tua kepada anaknya ini menentukan pola bagaimana sikap dan perilaku anak nantinya. Karena rangsangan yang diberikan oleh orang tua sejak usia dini menjadi pengalaman yang akan membentuk kepribadian anak.

Pola Asuh dalam Membentuk Kepribadian
Dalam sebuah keluarga, anak pertama kali belajar tentang sesuatu dari orang tuanya. Peran orang tua untuk membina dan mengasuh anak menjadi sangat penting. Orang tua menjadi tempat pertama pembelajaran anak. Apa yang dilakukan oleh orang tua, anak akan memperhatikannya. Kemudian, anak menirukan. Bila orang tua sering bertindak halus, penuh kasing sayang, dan menghargai orang lain, anak pun akan belajar hal tersebut. Sebaliknya, jika orang tua sering berbuat kasar, anak pun lambat laun akan meniru tingkah laku tindakan kasar yang biasa dilakukan oleh orang tua.

Peranan orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak. Caranya dengan memberikan kasih sayang yang tulus, perhatian, rasa aman, dan kebutuhan lain terhadap anak. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan anak di usia dini dapat tercapai. Pemenuhan kebutuhan kasih sayang, perhatian, dan sebagainya ini mempunyai manfaat yang paling penting bagi anak. Oleh sebab itu, pola asuh orang tua terhadap anak mempunyai peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Seorang pakar anak bernama Diana Baumrinde mengemukakan tiga macam pola asuh anak, yaitu pola asuh yang otoriter (authoritaria), membolehkan (permissive), dan seimbang (authoritative).

Pola Asuh yang Otoriter (Authoritaria)
Pola asuh yang otoriter adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua kepada anak yang menekankan pada kontrol. Orang tua sangat menginginkan anaknya mutlak patuh kepadanya. Mereka menginginkan anaknya mematuhi segala peraturan yang ada di keluarga. Jangan sampai sedikitpun peraturan keluarga itu dilanggar. Apabila seorang anak secara sengaja atau tidak sengaja melanggar peraturan yang ada di keluarga, sanksi berat pun segera menghadang. Hukuman yang diterima anak atas kesalahan yang dilakukan biasanya dibuat sedemikian rupa agar anak kembali menuruti segala keinginan dan perintah orang tua. Hukuman yang diberikan oleh orang tua yang otoriter kepada anaknya membuat anak mejadi takut, minder, menarik diri dari pergaulan. Selain itu, anak juga menjadi kurang percaya kepada orang lain. Pikirannya akan selalu diliputi rasa was-was dan tidak aman. Hal ini tentunya membuat kehidupan anak menjadi kurang baik yang pada akhirnya terbawa sampai ketika dewasa. Maka, tidak mustahil jika anak dibesarkan pada lingkungan yang otoriter, kepribadian anak menjadi kurang baik, murung, berontak, dan mungkin juga kasar.

Pola Asuh yang Membolehkan (Permissive)
Pola asuh yang membolehkan (permissive) adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dengan cara memberikan kebebasan berekspresi dan mengatur diri sendiri. Anak dibiarkan untuk mempunyai sebanyak mungkin kegiatan. Orangtua bukanlah pemberi kegiatan atau tugas. Anak sendirilah yang mencari kegiatan dan tugas sendiri dalam keluarga. Bila anak melakukan kesalahan terhadap peraturan yang ada di keluarga anak jarang dihukum. Bila ada hukuman tidak terlalu berat. Jika anak melanggar dari kegiatan yang ia kerjakan, orang tua tidak memberikan hukuman. Sikap orang tua biasanya hangat, tidak menuntut, tidak mengontrol, tidak memaksa, dan memberikan kebebasan kepada anak. Jika seorang anak dibesarkan di dalam keluarga yang pola asuh yang membolehkan, biasanya anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang matang, kurang mampu menahan diri atau mengontrol diri.

Pola Asuh yang Seimbang (Authoritative)
Pola asuh seimbang (authoritative) adalah pola asuh yang dilakukan orang tua kepada anaknya dengan cara menghargai anak tapi juga menekankan pentingnya aturan dalam keluarga. Jadi, ada keseimbangan antara penghargaan kepada anak dan peraturan keluarga. Anak tidak diatur sedemikian rupa agar sangat patuh pada orangtua. Akan tetapi, anak juga tidak dibiarkan bebas. Ada peraturan yang mengatur kehidupan anak sehari-hari dalam keluarga. Peraturan ini bukanlah penghukuman yang ditekankan, tetapi pembelajaran anak agar anak mampu menerapkan peraturan dangan benar. Ketika anak melakukan kesalahan tidak lantas omelan yang menghadangnya. Nasihat-nasihat yang baik dan menyejukkan yang keluar dari mulut orang tuanyalah yang diterima baik oleh anak. Hukuman tidak begitu ditekankan agar anak tidak menjadi penakut. Anak tetap diberikan ekspresi yang wajar dan dibatasi oleh norma dan aturan yang ada. Tapi bukan berarti anak tidak boleh kreatif mengembangkan diri. Justru anak dituntut agar mampu mengembangkan diri sesuai dengan tahapan umur dan perkembangan otaknya.

Anak tidak dituntut untuk hal-hal yang kemungkinan anak tidak mampu mencapai. Akan tetapi, anak dibimbing dan dibina dalam menapaki kehidupan secara benar. Ada keseimbangan antara kewajiban dan hak dia sebagai seorang anak dalam keluarga. Orangtua memberikan kasih sayang dan perhatian yang membuat anak menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter baik.

Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orangtua membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, hangat, menyenangkan, dan dapat dipercaya. Keluarga membuat ia menjadi pribadi yang merasa aman dan bahagia. Orangtua dan keluarga menjadi sumber inspirasi bagi kehidupannya kelak ketika dia dewasa. Pola asuh yang seimbang inilah yang merupakan pola asuh yang sangat dianjurkan di banyak keluarga. Baca Juga Tips Cara Mudah Menghafal Bagi Anak



Baca selengkapnya

Tips Cara Mudah Menghafal Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Cara Mudah Menghafal, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Ketika anak sukar menghafal, sebagai orangtua tentunya Anda takut anak �tertinggal� di kelas. Bantu anak untuk mengejarnya dengan metode paling tepat, yuk. Sebenarnya, apa yang membuat anak menjadi sulit menghafal? Berikut penjelasan Dra. Henny E. Wirawan, M.Hum., QIA, Psi. �Ketika anak diperhadapkan pada sesuatu yang abstrak, ia akan berusaha mengenalinya (recognition ), lalu memasukannya ke dalam memori. Prosesnya mungkin sukar karena proses pengenalan yang tidak tepat (salah konsep). Jadi, boro-boro menghafal, mengenali sesuatu saja anak tidak bisa,� urai Dekan Fakultas Psikolog Universitas Tarumanegara ini. Dengan kata lain, anak kurang bisa memahami konsep besar yang sedang dihadapinya.

Penyebab lainnya berkaitan dengan atensi sehingga Si Buyung tidak memfokuskan pikiran pada objek yang seharusnya dia bentuk. Bisa saja karena konsentrasinya terbatas. Padahal untuk menghafal sebuah materi, konsentrasi dan atensi saling berhubungan erat. Kemampuan organisasi yang terbatas juga bisa memengaruhi kemampuan menghafal. �Belum terbiasa atau masih sangat muda sehingga pemikiran anak dalam menyusun ingatan secara sistematis masih sangat terbatas. Jadi, harus dilatih terus,� ujar Henny.

Menurut Henny, ketiga penyebab tadi bisa terjadi karena adanya keterlambatan perkembangan sehingga proses belajar terhambat. �Belum tentu keterlambatan perkembangan ini disebabkan keturunan atau genetik! Bisa jadi karena anak tersebut memang lambat dalam proses belajarnya. Dan, ini merupakan salah satu learning disability juga, kan? Ada anak yang susahnya di matematika, olahraga, cara bicara, atau cara menghafalnya,� ujar Henny.

Bukan Berarti Bodoh
Orangtua tidak perlu malu atau merasa disusahkan jika anak sulit menghafal. Menurut Henny, sulit menghafal merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak. �Orang dewasa juga enggak semuanya bisa menghafal, kok.�

Ketika orangtua mendampingi anak untuk membantu masalah ini, ingatlah bahwa tidak semua pelajaran harus dihafal. Beberapa materi bisa saja cukup diketahui garis besarnya. �Nah, yang repot kalau hal yang tidak harus dihafal juga dipaksakan untuk dihafal. Itu sama saja menimbulkan beban pada anak.� Henny menyadari, ada beberapa guru yang senang sekali memaksakan anak didiknya untuk menghafal secara textbook. �Itu sebenarnya enggak bagus karena justru akan membatasi anak berkreasi dengan segala sesuatu di luar buku.�

Ketika anak masih sulit menghafal padahal sudah diberikan bantuan, orangtua sekali lagi harus ingat bahwa kemampuan anak tak sama rata. Ada yang memang lemah di hafalan, namun kuat di pelajaran berhitung, misalnya. Jadi, jangan pernah mengecap anak bodoh karena tidak maksimal ketika menghafal. Orangtua harus sabar dan bekerjasama dengan anak menangani atau mengantisipasi hal ini dengan cara:
  • Orangtua mengajak anak untuk rajin rehearsal (mengulang) pelajarannya.
  • Jangan melakukan pembiaran pada proses belajar anak yang salah. Misalnya, membiarkan anak belajar di depan televisi. Jika anak bersikukuh mampu berkonsentrasi saat belajar di depan televisi, beri kesempatan untuk membuktikan melalui nilai-nilainya. Jika ternyata nilainya malah stagnan atau menurun, pindahkan ruang belajar ke tempat yang tidak memecah konsentrasinya.
  • Jangan memaklumi kelemahan anak dan tidak melakukan apapun untuk mengatasi kelemahannya. Anda harus membantunya!
  • Jangan membandingkan anak Anda dengan anak lain.
  • Kembangkan bakat anak di bidang lain agar ia tidak merasa rendah diri.
  • Masukkan anak ke sekolah yang tidak semata-mata mementingkan hafalan. Dan, pilahlah materi hafalan dan materi yang cukup dipahami konsep besarnya.
Alternatif Penanganan
Agar kesulitan menghafal ini tidak berkelanjutan hingga anak dewasa, ada baiknya orangtua mengantisipasinya sejak awal. Caranya, coba perhatikan hal-hal di bawah ini.
  • Harus membuat sesuatu yang dihafal (bahan hafalan) dekat dengan kehidupan anak. Misal, penjelasannya harus konkrit (bisa dilihat, diraba) agar anak bisa lebih cepat mengenali pola recognition-nya (objek, kata, kalimat, dan lain-lain). Hal ini lebih mudah dilakukan anak agar anak bisa memenuhi kebutuhannya, bahkan sampai pada kebutuhan yang sangat kecil.
  • Melatih atensi dan konsentrasi anak dengan cara mendampingi anak ketika sedang belajar (terutama soal menghafal) dan memberikan ruang yang kondusif sehingga ia lebih fokus. Usahakan agar waktunya tidak terbagi dengan kegiatan yang lain. Jadi, saat anak sedang belajar, jangan menyuruhnya melakukan hal lain atau membiarkan ia berada di tempat yang salah (seperti belajar di depan televisi). Ini dilakukan semata-mata untuk menghindari konflik yang menyebabkan konsentrasi terpecah.
  • Mind mapping merupakan salah satu cara mengajarkan anak untuk menghafal yang tepat. Apalagi jika anak tidak terbiasa belajar dengan cara sistematis. Mind mapping paling sederhana adalah mengaitkan objek hafalan dengan contoh yang dapat diaplikasikan dalam keseharian. Anda bisa menggunakan pengklasifikasian benda atau kata dengan diagram, garis, atau yang lainnya. Yang penting, gunakan konsep �kategorisasi� agar pola pikirnya jadi lebih runtut dan memudahkan dia mengaitkan sesuatu dengan yang lain.
  • Jika masalahnya developmental delay atau keterlambatan perkembangan, gunakan pola �mengulang� sampai anak betul-betul hafal.
  • Kenali gaya atau kebiasaan belajar anak. Apakah anak merupakan tipe auditory (pendengar), visual, atau taktil kinestetik dengan cara meraba atau memegang (biasanya dilakukan pada anak disleksia), atau yang lain. Apapun gayanya, itu dapat membantu anak menghafal lebih cepat. Baca Juga Cara Merangsang Anak Untuk Belajar.
Baca selengkapnya

Cara Merangsang Anak Untuk Belajar Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cara Merangsang Anak Untuk Belajar
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cara Merangsang Anak Untuk Belajar, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Kadang kita melihat, ada sebagian anak tampak senang sekali dengan situasi sekolahnya. Otak anak diibaratkan seperti spons yang dapat menyerap apa saja yang terjadi dengan lingkungannya. Anak-anak seperti ini biasanya menunjukkan prestasi belajar yang baiknantinya. Namun sebagian lain dari anak-anak tersebut tampak menunjukkan sikap negatif terhadap sekolah. Mereka tampak enggan melakukan berbagai kegiatan. Atau malah suka menyendiri dari pada bergabung bersama teman-temannya. Jika demikian, bagaimana mengharapkan anak-anak ini berprestasi kelak? Yang sering terjadi kemudian, orang tua lalu menyalahkan guru dan sekolah karena rendahnya motivasi anak-anak mereka untuk belajar. Padahal, menurut Dr. Sylvia Rimm dalam bukunya Smart Parenting , How to Raise a Happy Achieving Child , orang tua memiliki pengaruh positif yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anaknya.

Berikut ini beberapa kiat/cara yang dapat diterapkan sejak dini untuk membantu meningkatkan keinginan si kecil belajar dan berprestasi di sekolahnya kelak. Tentu saja tidak dengan cara memaksa maupun menuntut, namun lebih pada berbagai arahan dan dukungan yang membuat anak merasa nyaman berkegiatan.

Menciptakan Rutinitas
Rutinitas membantu anak mandiri menjalani hari-harinya. Jika terus bergantung pada orang dewasa, anak-anak ini akan memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, dan belajar bahwa orang lain akan selalu mengambil tanggung jawab dirinya. Akibatnya, aktivitas Anda juga terganggu dengan ketergantungan anak. Karenanya, ciptakan rutinitas sejak dini dengan membiarkan si kecil melakukan sendiri kegiatan rutinnya. Misalnya, bangun tidur, diikuti dengan membersihkan tempat tidur, menggosok gigi lalu sarapan bersama-sama Anda.

Membiasakan Anak Belajar
Pembiasaan Belajar Anak usia pra sekolah memang belum memiliki beban akademis yang mengharuskannya belajar pada waktu-waktu tertentu di rumah. Namun tidak ada salahnya Anda membiasakan anak duduk di meja belajar yang disediakan baginya pada saat yang sama setiap harinya, dan untuk jangka waktu yang sama pula.

Meningkatkan Komunikasi
Komunikasi yang baik merupakan prioritas utama dari semua kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginan anak berprestasi. Mendengar adalah salah satu bagian penting dalam komunikasi. Jika orang tua terbiasa mendengar anaknya berbicara, maka anak juga akan mendengar jika Anda berbicara. Menurut Dr. Rimm, jika orang tua memiliki kebiasaan bercakap-cakap secara teratur setiap harinya, anak akan lebih terbuka kelak ketika memasuki usia remaja. Terkadang, keengganan anak untuk berprestasi (underachievement) merupakan efek lanjutan dari komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.

Bermain dan Permainan
Bermain merupakan sarana utama bagi anak untuk belajar dan permainan merupakan bentuk latihan yang bagus untuk menghadapi kompetisi. Manfaat mainan dan permainan, antara lain meningkatkan imaginasi dan pelampiasan emosi. Cobalah bersenang-senang bersama dengan menciptakan berbagai permainan dengan anak.

Menjadi Model
Bagi Anak Anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka menjadikan Anda, orang tuanya, sebagai model yang patut diikuti. Namun, tentu saja si kecil hanya akan meniru perilaku yang terlihat olehnya. Anda bisa mulai menunjukkan pada si kecil bahwa Anda sangat menyukai apa pun yang Anda kerjakan. Karena, jika tidak, si kecil akan meniru perilaku Anda yang gemar mengeluhkan pekerjaan. Bukan tidak mungkin jika nantinya si kecil akan sering mengeluhkan pelajaran maupun guru-guru di sekolahnya jika Anda tidak segera mengubah sikap. Baca Juga Alat Bantu Peraga Untuk Pendidikan Balita 




Baca selengkapnya

Alat Bantu Peraga Untuk Pendidikan Balita Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Alat Bantu Peraga Untuk Pendidikan Balita, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Alat Bantu Peraga Untuk Pendidikan Balita, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Mengamati perkembangan anak memang sangat mengasikkan sekaligus mengagumkan akan kebesaran sang pencipta. Bagaimana tidak, tiap kali kita dihadapkan pada perubahan yang tidak kita sangka-sangka. Terkadang kita geleng-geleng kepala, terkadang kita terperangah dan berbagai ekspresi lainnya.

Apalagi pada anak balita, termasuk anakku. Perbendaharaan kata hampir tiap hari bertambah, dan terkadang saya dibikin tercengang dengan kata-katanya dengan keahlian dia menyusun kata-kata dsb. Dengan demikian faktor lingkungan dan dengan siapa anak kita berteman menjadi sangat dominan. Bahkan kalau kita sempat ngomong yang tidak baik, baik itu katanya atau intonasinya, anak dengan cepat merekamnya.

Salah satu hal yang sangat mudah dicerna anak-anak dan direkam adalah tontonan di televisi. Oleh karena itu salah satu langkah yang saya ambil untuk mengantisipasi hal tersebut, saya lakukan dengan memberikan tontonan melalui VCD ato DVD sehingga acaranya dapat dengan mudah kita kontrol. Untuk acara televisi terpaksa orang tua harus mengalah. Tontonan yang saya pilih saya sesuaikan dengan umur anak, karena umurnya sekarang baru 3.5 tahun, kebanyakan yang saya pilih adalah kartun, misal Tomas and his friend atau Finley fire engine dll. Sebisa mungkin saya hindari kartun dengan kekerasan. Untuk menambah nilainya, sebagian saya pilih yang menggunakan bahasa inggris agar si anak terbiasa dengan "omongan bule".

Tentu saja tiap orang tua mempunyai kebijaksanaan atau cara sendiri dalam mengajar anaknya. Pengalaman di atas hanya sekedar sharing pengalaman saya, kalau sekiranya pembaca ingin berbagi pengalaman, silahkan mengisi comment yang telah disediakan, agar kita bisa saling berbagi pengalaman. Baca Juga Permainan Olah Otak Bagi Balita  


Baca selengkapnya

Permainan Olah Otak Bagi Balita Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Olah Otak: Kembangkan Kemampuan Memori, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Olah Otak: Kembangkan Kemampuan Memori, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Cara Menjadikan Anak Cerdas, bermain bersama si Kecil bisa menstimulasi sekaligus mengolah otak si Kecil sehingga kemampuan kognitif, sosial, dan perilakunya dapat berkembang dengan baik. Nah, mungkin Ibu pernah bertanya, apakah benar hanya dengan bermain kemampuan kognitif si Kecil bisa berkembang?

Menurut berbagai ahli perkembangan anak, bermain memang salah satu cara yang paling efektif untuk mengolah otak si Kecil. Semakin banyak dirinya beraktivitas yang berhubungan dengan kemampuan memproses, mengintrepretasikan, dan mengkategorikan informasi via penglihatan, pendengaran, serta gerakan motorik yang didapatkan saat bermain, maka kemampuan si Kecil untuk berfikirnya akan semakin berkembang, Bu! Dengan begitu, Ia dapat menyerap pengetahuan dan informasi baru dengan baik.

Ibu Khafa Naura Faghira pun sependapat. Menurutnya, bermain bersama, terlebih lagi pada masa Golden Period (usia balita), menjadi saat yang tepat untuk menstimulasi, dan mengolah otaknya. Terlebih lagi kemampuan kognitif dasarnya seperti Memori, Logika, dan Fokus sangatlah esensial.

�Pada masa Golden Period, pertumbuhan sel saraf otak anak sedang berkembang sangat pesat. Salah satu area perkembangan anak yang mendapat manfaat dari permainan berkualitas adalah kemampuan di area kognisi atau intelektualnya. Karena itu, permainan yang mengasah memori, logika dan rentang waktu attensi (fokus) akan membantu kemampuan anak di jenjang pendidikannya nanti,� buka Ibu Khafa Naura Faghira. �Seperti yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya, akan lebih baik jika permainan yang digunakan memang dirancang untuk mengolah otaknya dengan cara menyenangkan, seperti bermain permainan edukatif yang tersedia dalam berbagai macam bentuk,� lanjut Khafa Naura Faghira.

Ibu Khafa Naura Faghira menambahkan, dengan berkembang pesatnya ilmu PAUD, kini permainan olah otak yang bisa melatih 3 aspek (memori, logika, dan fokus) sangatlah mudah didapatkan. �Pada umumnya, alat permainan olah otak yang saya maksud itu berbentuk sederhana, dan mudah dimainkan. Namun, permainan tersebut memang dirancang untuk mendorong anak memecahkan sebuah masalah dengan mengingat, berpikir, dan menaruh perhatian penuh pada tantangan yang dihadapi,� tutup Ibu Khafa Naura Faghira yakin.

Permainan untuk Memori si Kecil
Untuk mengasah memori, pada saat berusia 1-3 tahun, Ibu Khafa Naura Faghira menyarankan agar anak sering-sering diajak bermain puzzle asosiasi, seperti menyusun beberapa bagian terpisah menjadi 1 bentuk yang utuh.

�Pada umumnya, saat berusia 1-3 tahun, seorang anak sudah memiliki kemampuan untuk menggabungkan 2 bagian terpisah menjadi 1 bentuk yang utuh dari benda-benda sederhana,� jelas Ibu Khafa Naura Faghira. Namun, bagi anak berusia 4-6 tahun, mereka sebaiknya diberikan tingkat kesulitan yang berbeda. Seperti bermain puzzle yang menghubungkan 2 benda berbeda dengan benar. �Anak usia 4-6 tahun biasanya sudah mampu untuk mengidentifikasi hubungan 2 benda yang berbeda dengan benar. Dengan begitu, sebaiknya tingkat kesulitannya dibedakan, lanjut Ibu Khafa Naura Faghira.

�Karena itu, mari ajak si Kecil untuk bermain puzzle secara teratur, sehingga Ia bisa lebih siap saat mengikuti proses belajar di sekolah nantinya,� tutup Ibu Khafa Naura Faghira. Dengan diajak bermain, si Kecil pun dapat mengasah kemampuan motorik halus dan kemampuan fokus dalam menyelesaikan tugas sederhana.

Permainan untuk Logika si Kecil
Selain Puzzle, Ibu Khafa Naura Faghira juga menyarankan permainan board games asosiasi sebagai cara untuk mengasah kemampuan logika si Kecil.

Aktivitas Boards Asosiasi sendiri adalah sebuah alat bantu untuk mengasah kecerdasan visual spatial Anak. Dimana, anak diajak untuk bermain mengelompokkan berbagai gambar berdasarkan kategori. Seperti gambar binatang yang dikategorikan berdasarkan kaki, warna, habitat, hingga ciri khas masing-masing.

�Pada umumnya, saat berusia 1-3 tahun, kemampuan anak untuk meniru contoh cara mengerjakan suatu hal sederhana dengan baik. Sedangkan saat berusia 4-6 tahun, anak sudah mampu meniru susunan yang lebih rumit,� buka Ibu Khafa Naura Faghira.

Ibu Khafa Naura Faghira menambahkan, �Saat visual spatial anak dilatih secara teratur, maka Ia pun akan terlatih untuk tekun, teliti, sekaligus kreatif. Dengan begitu, saat masuk sekolah, anak pun akan lebih siap untuk belajar secara akademis, seperti; membaca, menulis dan berpikir logika.�

Permainan untuk Fokus si Kecil
Lalu, untuk mengasah kemampuan fokus si Kecil, Ibu Khafa Naura Faghira menyarankan permainan mengelompokkan benda atau gambar yang sama diantara 2 kelompok.

�Jenis permainan ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan persoalan sederhana, dan menunjukkan kesamaan pada sebuah kelompok. Pada umumnya, anak usia 1-3 tahun sudah mampu memilih benda dengan ciri yang sama (warna, bentuk). Sedangkan anak usia 4-6 tahun, anak sudah mempu memilih benda yang lebih kompleks (jumlah yang lebih banyak, klasifikasi benda),� papar Ibu Khafa Naura Faghira.

Ibu Khafa Naura Faghira menambahkan, berlatih permainan mengelompokkan secara teratur, akan membantu kemampuan si Kecil untuk memecahkan masalah dan mengenai kesamaan akan benda-benda di sekitarnya, Bu! Ternyata, hanya dengan mengajaknya bermain bersama, si Kecil pun dapat memperoleh banyak manfaat ya, Bu?

Agar si Kecil bisa mengoptimalkan logika, memori, dan fokusnya, jangan lupa untuk lengkapi aktivitas bermain si Kecil dengan asupan nutrisi yang tepat seperti Frisian Flag 123 456 dengan Isomaltulosa yang dapat berikan energi lebih lama bagi otak dan tubuh si Kecil! Bunda juga bisa bertanya langsung kepada Ibu Khafa Naura Faghira seputar pentingnya permainan olah otak sebagai stimulasi otak, Baca juga Hukuman Tepat Bagi Balita



Baca selengkapnya

Hukuman Tepat Bagi Balita Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hukuman Tepat Bagi Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Menghukum anak adalah hal yang tidak menyenangkan, tapi kadang tak terhindari. Sebenarnya, ada cara tepat untuk melakukannya. Yang jelas, memukul itu sangat salah. Kebanyakan dari kita tidak suka menghukum anak. Di lain pihak, kalau sudah letih, dan anak terus rewel atau membandel, godaan untuk menjewer, berteriak keras (lengkap dengan segala umpatan yang terlintas di kepala) atau, memukul rasanya sukar ditahan. Sabar, memang menghukum itu ada seninya.

Anda harus tahu, menghukum dengan cara yang salah, bisa berdampak besar pada Anak. Hukuman fisik tidak dapat dibenarkan sama sekali. Hukuman fisik membuat anak seperti orang tak berdaya, yang tak bisa berkata tidak dan wajib patuh. Jika kita pukul anak, misalnya, kita seperti menjatuhkan harga dirinya. Letupan emosi kita yang sesaat ini bisa berdampak panjang. Tindakan itu sangat bertolak belakang dengan tujuan kita mendidiknya, agar ia punya dasar hidup yang kuat untuk mandiri dan punya rasa percaya diri.

Disamping itu, bila anak kita pukul, ia akan kehilangan kepercayaannya kepada kita. Padahal, selama ini ia memandang kita sebagai orang yang selalu melindungi. Bayangkan, bagaimana perasaannya jika selama ini dia selalu kita libatkan dalam diskusi tentang berbagai hal, tapi ketika ia tidak menurut, tangan kita melayang ke tubuhnya.

Hukuman fisik bisa membuat anak terluka secara fisik, takut, marah, dan menjaga jarak dengan kita. Dengan semua perasaan itu, bukan tidak mungkin, anak malah jadi tukang melawan dan bertindak agresif karena tidak dapat menerima perlakuan kita, Baca Juga Pendidikan Mencerdaskan Anak Balita.


Baca selengkapnya