Jumat, 07 Agustus 2015

Macam-Macam Jenis Dongeng Lengkap

Macam-Macam Jenis Dongeng
Dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa, terjadi diluar nalar manusia yang penuh Fantasi dan khayalan (fiksi). Dongeng dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Dongeng memang sudah menjadi pelajaran lama dalam bidang studi Bahasa Indonesia. Oleh karena itu banyak siswa dituntun untuk mengerti tentang dongeng sejak di bangku sekolah dasar. Mulai dari apa itu dongeng, pengertian dongeng, cara membuat dongeng, contoh dongeng sampai macam-macam dongeng atau jenis-jenis dongeng. Berikut adalah beberapa macam jenis-jenis dongeng yang ingin kami sampaikan dalam tulisan kami.

Macam-Macam Dongeng atau Jenis-Jenis Dongeng
  • Fabel, yaitu dongeng yang tokohnya adalah binatang yg berperilaku seperti manusia, misalnya dapat berbicara dan berjalan. Contohnya, dongeng Si Kancil, Dongeng Buaya dan kerbau, Dongeng Kancil dan Buaya serta Dongeng Kancil Mencuri Timun.
  • Sage, yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah atau kisah kepahlawanan. Contohnya kisah Jaka Tingkir, Ramayana, Si Buta Dari Gua Hantu.
  • Legenda/Cerita Rakyat, yaitu dongeng yang menceritakan tentang kejadian alam atau suatu tempat. Contohnya, legenda Rawa Pening dan Legenda Danau Toba.
  • Mite/Mitos, yaitu dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tentang dewa-dewa dan mahluk halus. Contohnya, mitos Nyi Roro Kidul, Wewe Gombel dll.
  • Parabel, yaitu dongeng yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Parabel juga dapat berupa cerita pendek dan sederhana yang mengandung hikmah atau pedoman hidup. Contohnya, dongeng Si Maling Kundang.
Itulah beberapa macam jenis-jenis dongeng yang kerap kali menjadi bahan mata pelajaran Bahasa Indonesia. semoga bermanfaat dan bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi kita semua atau sekedar mengingatkan kita pada bangku sekolah waktu kita masih kanak-kanak dulu.


Baca selengkapnya

Pengertian Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik Cerita Dongeng yaitu meliputi Tema Cerita Dongeng, Amanat/Pesan Moral Cerita Dongeng, Alur Cerita/Plot Cerita Dongeng, Perwatakan/Penokohan Cerita Dongeng, Latar/Setting Cerita Dongeng, serta Sudut pandang Cerita Dongeng. dan kadang disertai  unsur Ekstrinsik Cerita atau Dongeng. Kami mencoba mengulas sedikit tentang Pengertian Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Dongeng atau Karya Sastra
Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik Cerita Dongeng yaitu meliputi Tema Cerita Dongeng, Amanat/Pesan Moral Cerita Dongeng, Alur Cerita/Plot Cerita Dongeng, Perwatakan/Penokohan Cerita Dongeng, Latar/Setting Cerita Dongeng, serta Sudut pandang Cerita Dongeng. dan kadang disertai  unsur Ekstrinsik Cerita atau Dongeng. Kami mencoba mengulas sedikit tentang Pengertian Lengkap Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Dongeng atau Karya Sastra.

Pengertian Sastra
Kesusastraan berarti segala tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.

Fungsi Sastra
Dalam kehidupan masayarakat sastra mempunyai beberapa fungsi yaitu :
  1. Fungsi moralitas, yaitu sastra mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca/peminatnya sehingga tahu moral yang baik dan buruk, karena sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi.
  2. Fungsi rekreatif, yaitu sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penikmat atau pembacanya.
  3. Fungsi religius, yaitu sastra pun menghasilkan karya-karya yang mengandung ajaran agama yang dapat diteladani para penikmat/pembaca sastra.
  4. Fungsi didaktif, yaitu sastra mampu mengarahkan atau mendidik pembacanya karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung didalamnya.
  5. Fungsi estetis, yaitu sastra mampu memberikan keindahan bagi penikmat/pembacanya karena sifat keindahannya.
Ragam/Macam-macam Sastra
Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu :
  • Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi.
  • Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan habasa yang singkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah atau aturan tertentu, yaitu :
  1. Jumlah baris tiap-tiap baitnya,
  2. Jumlah suku kata atau kata dalam tiap-tiap kalimat atau barisnya,
  3. Irama, dan
  4. Persamaan bunyi kata.
  • Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog.
  • Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.
Drama ada dua pengertian, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan.
  • Dilihat dari isinya, sastra terdiri atas 4 macam, yaitu :
  1. Epik, karangan yang melukiskan sesuatu secara obyektif tanpa mengikutkan pikiran dan perasaan pribadi pengarang. 
  2. Dramatik, karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian(baik atau buruk) denan pelukisan yang berlebih-lebihan.
  3. Lirik, karangan yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif.
  4. Didaktif, karya sastra yang isinya mendidik penikmat/pembaca tentang masalah moral, tatakrama, masalah agama, dll.
  • Dilihat dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 bagian, yaitu :
  1. Kesusastraan Lama, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama dalam sejarah bangsa Indonesia. Kesusastraan Lama Indonesia dibagi menjadi : Kesusastraan zaman purba, Kesusastraan zaman Hindu Budha, Kesusastraan zaman Islam, dan Kesusastraan zaman Arab � Melayu.
  2. Kesusastraan Peralihan
  3. Kesusastraan Baru, kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat baru Indonesia.
  • Kesusastraan Baru mencangkup kesusastraan pada Zaman :
  1. Balai Pustaka / Angkatan �20
  2. Pujangga Baru / Angkatan �30
  3. Jepang
  4. Angkatan �45
  5. Angkatan �66
  6. Mutakhir / Kesusastraan setelah tahun 1966 sampai sekarang
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud ialah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti : tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latae dan pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain.

Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam.
  • Tema dan Amanat
Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol. Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makana yang termuat dalam karya sastra tersebut.
  • Tokoh dan Penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character). Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. 

Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita. Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja. Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.
  • Alur dan Pengaluran
Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.

Alur terdiri atas beberapa bagian :
  • Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
  • Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
  • Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
  • Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokohnya.
  • Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
  • Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.
Pengaluran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur erat dan alur longggar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar adalah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengaluran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengaluran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bisa menggunakan gerak balik (backtracking), sorot balik (flashback), atau campauran keduanya.
  • Latar/Setting dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi latar material dan sosial. Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar sosial, ialah lukisan tatakrama tingkah laku, adat dan pandangan hidup. Sedangkan Pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar. Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini adalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk menyampaikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga, pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.
  • Sudut Pandang
Sudut Pandang adalah posisi/kedudukan pengarang dalam membawakan cerita. Sudut pandang dibedakan atas : Sudut pandang orang kesatu adalah pengarang berfungsi sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam cerita, terutama sebagai pelaku utama. Pelaku utamanya (aku, saya, kata ganti orang pertama jamak : kami, kita). Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang berada di luar cerita, ia menuturkan tokoh-tokoh di luar, tidak terlibat dalam cerita. Pelaku utamanya (ia, dia, mereka,kata ganti orang ketiga jamak, nama-nama lain)

Unsur Ekstrinsik
Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembacan sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.

Kesimpulan
Unsur-unsur intrinsik Karya Sastra/Dongeng adalah terdiri dari : Tema, Pesan Moral/Amanat, Alur/Plot, Penokohan/Perwatakan, Latar/Setting, dan Sudut Pandang.

Penjelasan unsur Intrinsik Karya Sastra

A. TEMA
Tema adalah sesuatu yang menjadi pokok masalah/pokok pikiran dari pengarang yang ditampilkan dalam karangannya 

B. AMANAT
Amanat adalah pesan/kesan yang dapat memberikan tambahan pengetahuan, pendidikan, dan sesuatu yang bermakna dalam hidup yang memberikan penghiburan, kepuasan dan kekayaan batin kita terhadap hidup 

C. PLOT/ALUR
Plot/Alur adalah jalan cerita/rangkaian peristiwa dari awal sampai akhir. Alur/Plot memiliki tahapan sebagai berikut :
  • Tahap perkenalan/Eksposisi adalah tahap permulaan suatu cerita yang dimulai dengan suatu kejadian, tetapi belum ada ketegangan (perkenalan para tokoh, reaksi antarpelaku, penggambaran fisik, penggambaran tempat)
  • Tahap pertentangan /Konflik adalah tahap dimana mulai terjadi pertentangan antara pelaku-pelaku (titik pijak menuju pertentangan selanjutnya)
Konflik ada dua macam
  1. Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam diri tokoh.
  2. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi di luar tokoh(konflik tokoh dengan tokoh, konflik tokoh dengan lingkungan, konflik tokoh dengan alam, konlik tokoh denganTuhan dll)
Tahapan Konflik
  • Tahap penanjakan konflik/Komplikasi adalah tahap dimana ketegangan mulai terasa semakin berkembang dan rumit (nasib pelaku semakin sulit diduga, serba samar-samar)
  • Tahap klimaks adalah tahap dimana ketegangan mulai memuncak (perubahan nasip pelaku sudah mulai dapat diduga, kadang dugaan itu tidak terbukti pada akhir cerita) 
  • Tahap penyelesaian adalah tahap akhir cerita, pada bagian ini berisi penjelasan tentang nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Ada pula yang penyelesaiannya diserahkan kepada pembaca, jadi akhir ceritanya menggantung, tanpa ada penyelesaian.
MACAM-MACAM ALUR
  • Alur Maju adalah peristiwa �peristiwa diutarakan mulai awal sampai akhir/masa kini menuju masa datang.
  • Alur Mundur/Sorot Balik adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian penutup diutarakan terlebih dahulu/masa kini, baru menceritakan peristiwa-peristiwa pokok melalui kenangan/masa lalu salah satu tokoh.
  • Alur Gabungan/Campuran adalah peristiwa-peristiwa pokok diutarakan. Dalam pengutararaan peristiwa-peristiwa pokok, pembaca diajak mengenang peristiwa-peristiwa yang lampau,kemudian mengenang peristiwa pokok ( dialami oleh tokoh utama) lagi.
D. PERWATAKAN/PENOKOHAN
Perwatakan adalah bagaimana pengarang melukiskan watak tokoh

ADA TIGA CARA UNTUK MELUKISKAN WATAK TOKOH
  • Analitik adalah pengarang langsung menceritakan watak tokoh.
Contoh : Siapa yang tidak kenal Pak Yono yang lucu, periang, dan pintar. Meskipun agak pendek justru melengkapi sosoknya sebagai guru yang diidolakan siswa. Dia Lucu dan penyanyang.
  • Dramatik adalah pengarang melukiskan watak tokoh dengan tidak langsung. Bisa melalui tempat tinggal,lingkungan,percakapan/dialog antartokoh, perbuatan, fisik dan tingkah laku, komentar tokoh lain terhadap tokoh tertentu, jalan pikiran tokoh.
Contoh : Begitu memasuki kamarnya, Yuni pelajar kelas 1 SMA itu langsung melempar tasnya ke tempat tidur dan membaringkan dirinya tanpa melepaskan sepatu terlebih dahulu. (tingkah laku tokoh)
  • Campuran adalah gabungan analitik dan dramatik. Pelaku dalam cerita dapat berupa manusia , binatang, atau benda-benda mati yang diinsankan
E. PELAKU/TOKOH DALAM CERITA
  • Pelaku utama adalah pelaku yang memegang peranan utama dalam cerita dan selalu hadir/muncul pada setiap satuan kejadian.
  • Pelaku pembantu adalah pelaku yang berfungsi membantu pelaku utama dalam cerita.Bisa bertindak sebagai pahlawan mungkin juga sebagai penentang pelaku utama.
  • Pelaku protagonis adalah pelaku yang memegang watak tertentu yang membawa ide kebenaran.(jujur,setia,baik hati dll)
  • Pelaku antagonis adalah pelaku yang berfungsi menentang pelaku protagonis (penipu, pembohong dll)
  • Pelaku tritagonis adalah pelaku yang dalam cerita sering dimunculkan sebagai tokoh ketiga yang biasa disebut dengan tokoh penengah.
F. LATAR/SETTING
Latar/ setting adalah sesuatu atau keadaan yang melingkupi pelaku dalam sebuah cerita.

Macam-macam latar
  • Latar tempat adalah latar dimana pelaku berada atau cerita terjadi (di sekolah, di kota, di ruangan dll)
  • Latar waktu adalah kapan cerita itu terjadi ( pagi, siang,malam, kemarin, besuk dll)
  • Latar suasana adalah dalam keadaan dimana cerita terjadi. (sedih, gembira, dingin, damai, sepi dll)
G. SUDUT PANDANG PENGARANG
Sudut pandang adalah posisi/kedudukan pengarang dalam membawakan cerita.

Sudut pandang dibedakan atas :
  • Sudut pandang orang kesatu adalah pengarang berfungsi sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam cerita, terutama sebagai pelaku utama. Pelaku utamanya(aku, saya, kata ganti orang pertama jamak : kami, kita)
  • Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang berada di luar cerita, ia menuturkan tokoh-tokoh di luar, tidak terlibat dalam cerita. Pelaku utamanya (ia, dia, mereka,kata ganti orang ketiga jamak, nama-nama lain)
UNSUR EKSTRINSIK 
Unsur Ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar

UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK
  • Latar Belakang Penciptaan adalah kapan karya sastra tersebut diciptakan
  • Kondisi masyarakat pada saat karya sastra diciptakan adalah keadaan masyarakat baik itu ekonomi, sosial, budaya,politik pada saat karya sastra diciptakan
Baca selengkapnya

Kamis, 06 Agustus 2015

Singa Gajah dan Rubah Lengkap

Di sebuah hutan belantara. hiduplah sekawanan binatang. Ada singa, harimau, kancil, rubah, gajah, kupu-kupu dan lain-lain. Tidak ada satupun pun di hutan itu yang ingat sejak kapan singa menjadi raja mereka. Dia memang lebih kuat dan lebih berani dan tentu saja lebih tampan daripada semua rakyat binatang di kerajaan belantara tersebut, bahkan harimau pun tidak disebut sebagai raja hutan disana. Para binatang seolah berlomba ingin merebut perhatian sang singa, Banyak sekali binatang yang mau memberikan apa saja agar sang Raja Hutan mau menjadi kawan akrabnya. Akan tetapi dia sudah lebih dulu memiliki sahabat karib, kawan yang selalu bersamanya, yaitu gajah tua.

Setiap kali singa menjelajah hutan, Gajah selalu menemaninya, dan walaupun makanan mereka berbeda tapi mereka selalu makan bersama. Kenapa singa menghabiskan banyak waktunya yang berharga dengan gajah? Tak ada seekor binatang pun yang tahu, dan banyak yang iri dengan gajah, terutama si Rubah.

Suatu hari, singa mengajak gajah untuk menemaninya berburu ketengah hutan. Kepergian mereka menjadi hot topik bagi kawanan binatang penghuni hutan itu. Mereka berkumpul untuk membicarakan hal itu di kediaman si Rubah.

Si Rubah, yang yakin dia paling pintar dan cerdik di antara semua binatang, memulai pembicaraan. "Jangan pikir aku iri pada si gajah yang lamban dan bego itu!" katanya. "Apa yang dilihat singa darinya? Jika si gajah memiliki ekor mengkilat yang indah seperti diriku, aku baru mengerti kenapa ia yang dipilih menjadi kawan akrabnya!" Dia mengibaskan ekornya sambil bergaya untuk memperlihatkan kepada binatang yang lain apa yang ia bicarakan, rubah selesai berbicara dan kemudian duduk. Si Harimau hanya mendengarkan sekenanya saja pembicaraan rubah, ia lalu berdiri dan menggelengkan kepalanya. Pembicaraan tentang gaya si Rubah membuatnya jengkel dan muak. "Jika si gajah memiliki cakar yang tajam dan panjang sepertiku, baru aku mengerti kenapa singa suka padanya!" dia berkata pada mereka bermaksud mengejek si Rubah. "Atau jika dia punya tanduk yang menjulang seperti punyaku!" Banteng memotong pembicaraan. "Aku tidak akan menyalahkan singa untuk menyukainya!" "Hahahahah..... Jangan buat aku tertawa!" kata si kura-kura. "Semua hal ini sudah jelas, singa suka pada gajah karena telinganya yang lebar. Itu saja!" "Lihat binatang binatang itu suka menyombongkan dirinya sendiri!" kata si bebek kepada istrinya. "Mereka bisanya hanya iri dan menjelek-jelekan Gajah tanpa mau tahu apa kekurangan mereka, sehingga Singa tidak memilih mereka". "Ah.... sudahlah pak, jangan ikut membicarakan mereka. Nanti kita sama saja dengan mereka" kata istri bebek kepada suaminya.

Pesan Moral Dongeng Singa Gajah dan Rubah adalah : Kita tidak boleh iri dengan keberuntungan orang lain, kita tidak boleh menyombongkan kelebihan diri sendiri seperti Rubah yang menganggap dialah yang paling pintar. belajarlah mengetagui dan memperbaiki kekurangan kita, agar lebih baik.

Baca selengkapnya

Rubah Muda dan Ekornya Lengkap

Rubah Muda dan Ekornya
Di suatu pagi yang cerah, Tampak seekor rubah muda berjalan gontai tanpa tujuan. Dia sangat terkejut ketika tiba-tiba ekornya terjepit perangkap pemburu. Rubak itu berusaha melepaskan ekornya sekuat tenaga, tapi semakin ia mencoba, semakin kuat perangkap itu menjepit ekornya. Hari sudah hampir sore, sayup-sayup dia mendengar suara anjing pemburu di kejauhan. Semakin lama, semakin yakin ia mendengar suara anjing, dan dia tahu bahwa pemburu sedang mendekat untuk melihat hasil tangkapan perangkap yang ia pasang.

Rubah yang naas itu berpikir cepat. Dia harus memilih, apakah ia akan mati ditangan pemburu itu atau ia harus kehilangan ekornya. Dengan cepat ia menarik ekornya sekuat tenaga hingga akhirnya ia berhasil melepaskan diri, Ia harus rela meninggalkan ekornya yang indah dalam perangkap. Tepat sebelum anjing-anjing pemburu itu tiba, ia berlari terbirit-birit masuk ke dalam hutan. Dia berlari melintasi sungai agar jejaknya tidak diikuti oleh mereka.

Rubah itu sangat bersyukur karena telah selamat dari perangkap pemburu sehingga untuk beberapa lama ia tidak begitu merasa kehilangan ekornya yang indah. Tetapi ketika ia sedang minum di sungai yang jernih, ia menatap dirinya dan menyadari kenyataan pahit. Ekornya yang indah telah hilang. Betapa aneh dan jeleknya ia sekarang. Dia sangat sedih, membayangkan betapa binatang lain, terutama sesama rubah, akan menertawakannya. Dia lalu berlari ke hutan yang sepi dan bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun.
Tetapi seperti layaknya seekor rubah, ia punya banyak akal. Setelah lama berpikir, ia merasa mendapatkan ide yang gemilang. Ia sangat yakin dengan idenya itu.

Pagi sekali ia sudah berada diantara sekumpulan rubah, Dan sebelum mereka sempat menanyakan apa yang terjadi dengan ekornya, ia lalu berpidato. "Kalian tentu tidak bisa membayangkan bagaimana enaknya dan bebasnya kita tanpa punya ekor," katanya meyakinkan. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa tahan dengan ekor yang panjang dan berat itu selama ini. Sekarang aku merasa sangat bebas dan ringan tanpanya. Benar-benar sensasi yang luar biasa dan baru kali ini aku merasakannya!" "Tapi apa yang terjadi dengan ekormu?" tanya seekor rubah dengan terkejut. "Apa yang terjadi?" ulang si rubah muda itu. "Tentu saja aku memotongnya! Ekor itu terlalu panjang dan terlalu berat, dan selalu terseret seret di tanah dan kotor. Aku untuk pertama kalinya merasa sangat nyaman, dan aku menyarankan agar semua mengikutiku membuang ekor konyol itu sekarang juga, untuk selamanya!" "Dan kamu mengira kita semua percaya bahwa kamu benar-benar memotongnya?" seekor rubah tua bertanya dengan pelan, dan tampaknya dia tidak mudah percaya. "Kenapa tidak?" jawab si rubah muda dengan nada tinggi dan meyakinkan. "Benda yang mengganggu itu selalu saja tersangkut pada sesuatu, dan ..." Pada saat itu nenek rubah yang sudah tua tertawa terbahak-bahak. Dan dengan sekejap semua rubah yang lain tertawa bersamanya, semakin keras dan semakin keras. Rubah muda itu tidak tahan lagi, dia berlari masuk ke dalam hutan menahan rasa malu juga jengkel. "Kita harus mengasihani anak itu, dia sudah sangat menderita" kata seekor rubah jantan tua yang bijak, walaupun yang lain masih tertawa terbahak-bahak dan tidak mendengarnya.

Pesan Moral Dongeng Fabel Rubah Muda dan Ekornya adalah : Janganlah berbohong hanya untuk menutupi kekurangan kita. Dan jangan menjerumuskan orang lain untuk mengikuti kesalahan yang telah kita lakukan. Akan lebih bijak jika kita mengingatkan orang lain agar tidak mengikuti kesalahan yang sama, seperti yang pernah kita lakukan. Jadikan pengalaman pahit kita sebagai pelajaran yang bermanfaat untuk orang lain.


Baca selengkapnya

Rabu, 05 Agustus 2015

Bangau dan Rubah Makan Bersama Lengkap

Bangau dan Rubah Makan Bersama
Hari itu suasana sangat cerah. Bangau sudah berdandan rapi, dia sudah bersiap untuk memenuhi undangan makan dari pak Rubah sahabatnya.  Sepanjang perjalanan dia terus membayangkan masakan yang kan dihidangkan oleh sahabatnya itu. "Hmmmm... alangkah senangnya aku hari ini. pas kebetulan makanan di rumah lagi habis, pas ada undangan makan pula". Tidak begitu lama, sampailah dia di kediaman Pak Rubah. Rupanya pak Rubah sudah menunggu kedatangannya, buktunya pak Rubah sudah berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan. "Hai Pak Bangau, cepat kemari. lama sekali sampainya, habis mapir kemana saja?". tanya pak Rubah. "Aku tidak mampir kemana-mana, hanya saja tadi saya sesekali terbang pelan untuk melihat-lihat suasana kampung ini, sangat cerah hari ini". Jawab pak Bangau.

Mereka pun segera masuk ke dalam rumah pak Rubah. Rubah dan burung Bangau duduk bersama di ruang makan, mereka bermaksud makan bersama dalam rangka sarapan bareng. Pagi itu pak Rubah memasak sup kesukaan pak Bangau,  Pak Rubah makan dengan lahap yang disajikannya di sebuah mangkok. Bangau duduk dengan sopan menatap sang Rubah, ia hanya diam memperhatikan. Kelihatannya dia tidak lapar. Sesekali dia mencelupkan paruhnya yang panjang ke dalam mangkok, tetapi dia cuma bisa menelan beberapa tetes sup saja. Sementara Pak Rubah menghabiskan supnya dengan lahap, dia menjilat mangkuknya sampai bersih mengkilat. Dia berkata pada kawan makannya, "Sarapan yang lezat bukan!" Dia mendecak-decakkan lidahnya dengan nikmat. "Benar-benar nikmat! Sayangnya kamu tidak makan banyak! Bukankag ini sup kegemaranmu??"

Pak Bangau diam saja. Dia kemusian berencana untuk mengajari Pak Rubah agar tau caranya menghormati tamu. Dia kemudian mengundang pak Rubah untuk mengunjunginya makan malam besok. pak Rubah tentu saja menerima dengan senang hati undangan itu. Esoknya ia datang lagi ke tempat pak Bangau. Di meja makan pak Bangau tersaji makanan kesukaan pak Rubah, potongan-potongan daging yang nikmat itu disajikan dalam kendi berleher panjang! Pak Bangau dengan paruhnya yang panjang dengan mudah mengambil makanan dari dasar kendi, sedangkan pak Rubah hanya bisa menelan ludahnya setiap kali melihat sang Bangau menelan daging yang kelihatan empuk dan enak itu. Yang bisa dia dapatkan hanya beberapa kerat kecil daging yang menempel di mulut kendi. pak Bangau sadar kalau pak Rubah memang tidak akan bisa memakan hidangan yang ia sajikan. "Kenapa makanya cuman sedikait sekali, apakah masih kenyang pak Rubah?". Tanya pak bangau pura-pura tidak tau masalahnya. pak Rubah hanya diam. "Kemarilah pak Rubah, kemarin saya waktu berada di rumahmu saya juga lapar, saya sangat ingin makan sampai habis hidangan sup yang kamu sajikan. Tapi tempat makan yang kamu sajikan untukku tidak tepat untuk saya, mangkuk itu terlalu datar. Saya tidak bisa memakannya dengan paruhku yang panjang ini". Kata pak Bangau menjelaskan alasanya kenapa kemarin dia tidak makan. "Ini... saya sudah siapkan potongan daging kesukaanmu diatas piring, wadah itu tepat untuk kamu, silakan dinikmati hidanganya". Kata pak Bangau sambil menyodorkan Piring berisi penuh potongan daging panggang. dengan lahap pak rubah menghabiskan daging tersebut. "Lezat sekali masaknmu Pak bangau, saya mohon maaf kemarin saya tidak memikirkan keperluanmu waktu makan di tempatku. Lain kali akan saya hidangkan masakanku untukmu dalam sebuah kendi seperti milikmu itu. Agar kamu bisa leluasa memakannya". Ucap pak Rubah malu-malu. 

Akhirnya kini pak Rubah bisa belajar, bagaimana caranya menghormati tamu. keadaan yang berbeda-beda. tentu tidak bisa disamaratakan dalam perlakuan. Dia merasa berterimakasih pada bangau yang telah menyadarkan atas kekeliruanya. 

Pesan Moral Dongeng Bangau dan Rubah Makan Bersama adalah : Hormatilah tamu dengan baik, keadaan seseorang dengan keterbatasanya, membuat kita harus memperlakukannya dengan khusus pula.  Jangan samakan keperluan kita dengan keperluan orang lain, karena apa yang kita bisa lakukan belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain dengan keterbatasannya (Misal untuk orang dengan keterbatasan fisik dan orang yang berkebutuhan Khusus).

Baca selengkapnya

Kisah Tikus dan Lonceng Kucing Lengkap

Kisah Tikus dan Lonceng Kucing
Di sebuah rumah yang besar, tinggalah sekawanan tikus dan seekor kucing. para tikus mendiami dapur rumah itu. sementara sang kucing tinggal seruangan dengan majikannya. Karena tikus sering mencuri dan merusak barang-barang di rumah tersebut, maka antara tikus dan kucing tidak pernah akur. Kucing sangat setia pada majikannya. Kucing sering diperintah untuk memburu para tikus jika dia melihatnya berkeliaran di rumah tersebut. Sementara para kawanan tikus terus mencari siasat untuk bisa selamat dari incaran kucing.

Sudah lama sekali tikus-tikus yang tinggal di dapur kekurangan stok makanan. Tiap kali mereka menampakkan lubang hidungnya dari lubang, selalu ada sang kucing yang melihat dan mengayunkan cakarnya. Bahkan ketika tikus sudah terlanjur keluar lubang, kucing tidak segan-segan untuk mengejar mereka. Akhirnya mereka menjadi ketakutan untuk keluar lubang bahkan untuk mencari makanan.

Keadaan mereka makin memperihatinkan. Mereka makin lemah, perutnya kempis. Kini mereka dilanda kelaparan. Hal ini membuat Ketua Tikus berfikir dan merencanakan sesuatu untuk mengatasi situasi tersebut. Suatu malam mereka sepakat untuk melakukan pertemuan rahasia. Tikus-tikus berembuk, banyak yang diucapkan, tetapi kebanyakan hanya menyalahkan si Kucing daripada menawarkan pemecahan untuk masalah mereka. Tapi akhirnya, seekor tikus betina mengusulkan sebuah ide yang cemerlang.

"Pak ketua, bagmana jika kita gantungkan sebuah lonceng di leher kucing jahat itu!" usulnya, ekornya bergetar saking semangatnya. "Dengan begitu, Kita akan tahu di mana dia berada, kapan pun itu!" Mereka semua menyorakinya dengan bersemangat, gagasan itu benar benar cemerlang dan dapat diterima akal. Mereka kemudian bermusyawarah dan sepakat untuk melakukannya. Tapi ketika keriuhan berhenti, seekor tikus tua berbicara. Dia lebih tua dari semua tikus lain, semua tikus mendengarkan dengan hormat. "Gagasan itu benar-benar cemerlang," dia berkata. "Aku bangga ada yang memikirkan ide yang bagus itu."

Kumis si tikus yang mengusulkan ide tersebut bergoyang-goyang senang, tapi dia menggaruk telinganya kebingungan. "Tetapi siapa yang sukarela mau memasangkan lonceng di leher si kucing?" Tikus tua melanjutkan bicaranya. Mendadak suasana kembali riuh, mereka saling berbicara. Mereka saling bertanya kira-kira siapa yang mau memasangkan Lonceng itu di leher si Kucing. Tikus Tua kembali bicara "Hayo.... apakah diantara kita ada yang berani memasangnya, atau kita undi untuk menentukan siapa yang harus memasangkannya?". Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Semua tikus terdiam, mereka tampak ketakutan dan menunjukan rasa tidak setuju dengan ide Tikus Tua. Tak ada satu pun mau menjawabnya! Mereka langsung berlarian ketakutan masuk ke lubang masing masing. Tinggalah Tikus Tua yang diam terpaku sesaat, sebelum akhirnya dia pun berlari mengikuti yang lain.

Pesan Moral Dongeng Kisah Tikus dan Lonceng Kucing adalah : Rencana yang baik dan cemerlang tidak akan berguna jika kita tidak berani untuk berusaha mengerjakannya. Ide yang gemilang tidak boleh disimpan di dalam kepala tapi harus direalisasikan menjadi kerja nyata untuk bisa menjadi lebih baik.

Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik yaitu meliputi Tema, Amanat/Pesan Moral, Alur Cerita/Plot, Perwatakan/Penokohan, Latar/Setting, dan Sudut pandang. dan kadang disertai  unsur Ekstrinsik Cerita.


Baca selengkapnya

Anjing Pembohong Yang Serakah Lengkap

Anjing Pembohong Yang Serakah
Zaman dahulu di sebuah desa terpencil hiduplah seorang petani dengan dua hewan peliharaanya. seekor ayam, dan seekor anjing yang mempunyai sifat kurang baik, walaupun didepan pak tani selalu bersikap hormat dan setia. Namun di belakang dia suka berbohong pada majikannya. Pagi itu pak tani hendak berladang, dia menitipkan ayam satu-satunya untuk dijaga oleh anjingnya. "saya mau menengok tanaman di ladang sebentar, kamu saya tugasi untuk menjaga ayam dengan baik, awasi jangan sampai ada musang yang datang mendekatinya". Pinta pak tani kepada anjing. "Siap tuan, hamba akan laksanakan tugas itu dengan baik". jawab anjing. Tentu saja tugas itu disanggupi oleh si anjing demi menutupi sifat buruknya.

Pak Tani berlalu meninggalkan anjing, sementara si ayam masih di kandangnya. Dalam hati si anjing berkata "Hmmmm... Ini kesempatan paling baik untuk aku menyingkirkan si ayam, akan saya makan dan jika pak tani nanti tanya, akan saya katakan kalau ayam pergi tanpa pamit padaku, kan beres urusan". dengan hati-hati si anjing mendekati sia ayam yang sedang mengais makanan di samping gubuk pak tani. Tanpa banyak bicara, disergapnya ayam itu dari belakang. si ayam yang tidak tahu akan ada serangan dari anjing tentu tak sempat menghindar. hanya dengan sekali gigit, matilah si ayam oleh anjing itu. dengan lahap dia memakan habis tubuh si ayam. dibersihkannya ceceran darah dan bulu-bulu yang berserakan agar pak tani tidak curiga.

Hari menjelang sore, pak tani yang baru pulang langsung menanyakan keadaan si yam kesayanganya. denga wajah yang dibuat-buat seolah sedih, anjing berlutut sambil minta ampun kepada pak tani. "Ampun tuanku, hamba tidak becus mkenjadi penjaga yang baik, hamba yang salah. hamba tak bisa mencegah kemauan ayam. Dia minggat tuanku !". kata anjing sambil terus berlutut. "Apa!!! Minggat??? bagaimana bisa si ayam kan sangat saya sayang dan tiap hari saya beri makan seperti halnya kamu? bagaimana mungkin dia minggat begitu saja?". Pak tani masih tidak percaya. namun dengan kelicikan si Anjing, akhirnya pak tani percaya pap yang diceritakan anjingnya itu. "baiklah, mungkin ayam memang sudah tidak kerasan tinggal digubuk ini. mungkin di luar sana dia akan lebih bahagia". kata pak Tani. mendengar ucapan pak tani, Anjing merasa telah menang dan bisa mengelabui pak tani. "hehehee..... ternyata mudah sekali pak tani dibohongi". Anjing berkata dalam hati. 

Malam itu pak tani masih kepikiran soal si ayam yang tiba-tiba kabur dari rumah, sebenarnya dia tidak sepenuhnya percaya pada omongan anjingnya. Dia duduk di emperan gubuk ditemani anjingnya. "saya masih tidak percaya kalau si ayam benar-benar pergi tanpa sebab" gumam pak tani. "Besok ada undangan dari desa seberang, akan ada acara kenduri. Kau ikutlah temani saya besok". kata pak tani kepada anjing. "baik Tuanku....hamba pasti akan ikut dengan tuanku.." Jawab si anjing dengan gembira. Dia membayangkan kalau kenduri pasti banyak makanan enak dan dia akan kenyang sekali.

Pagi-pagi sekali pak tani berangkat dengan didampingi anjingnya. hampir setengah jam mereka tiba di tempat kenduri. banyak sekali makanan dari daging tersedia di acara tersebut. Si anjing yang berdiri diluar hanya bisa menciun aroma daging panggang yang ada di dalam ruangan kenduri. Air liurnya meleleh ingin sekali ikut makan di dalam acara tersebut. Namun sayang, dia hanya boleh ikut hanya sampai di halaman.

Setelah acara kenduri selesai, pak tani pun keluar. Ia memberikan si Anjing sepotong tulang berukuran besar, anjing sangat gembira, saking senangnya sampai si anjing lupa dengan pak tani yang telah memberinya Tulang. Dia pun berlari kencang pulang meninggalkan pak Tani. si anjing sudah sampai di tepian hutan dekat kampung pak tani. Dia sangat merasa haus. Ketika dia melewati sebuah sungai, buru-buru dia membungkukkan badannya untuk minum. Dia kaget, di melihat bayangan dirinya terpantul dari air. Anjing yang serakah itu mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yang lebih besar dari miliknya. Tanpa fikir panjang ia menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai untuk merebut bayangan tulang itu. air yang deras menghanyutkannya. Dan Anjing yang serakah tersebut akhirnya mati terbawa arus sungai. Dia mati tanpa pernah tau dan menyadari betapa bodoh dan jahatnya dirinya.

Pesan Moral Dongeng Anjing Pembohong Yang Serakah adalah : Ketika kita dipercaya dan diberi amanah olah siapapun, hendaknya kita bisa menjaga kepercayaan itu dengan baik, jangan pernah berkhianat dan berbohong apalagi kepada orang yang telah banyak berjasa kepada kita. Jauhi sifat tamak, rakus dan serakah, karena sifat tersebuta mat tercela dan sangat di benci Tuhan.

Cerita Dongeng Indonesia memuat dengan lengkap unsur-unsur dan kaidah baku dalam menyajikan cerita dan dongeng, meliputi unsur Intrinsik yaitu meliputi Tema, Amanat/Pesan Moral, Alur Cerita/Plot, Perwatakan/Penokohan, Latar/Setting, dan Sudut pandang. dan kadang disertai  unsur Ekstrinsik Cerita.


Baca selengkapnya

Selasa, 04 Agustus 2015

Si Kikir dan Emasnya Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Dongeng Si Kikir dan Emasnya, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Dongeng Si Kikir dan Emasnya, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Dikisahkan, di suatu sore Pak Tani berjalan kaki di tepian sebuah hutan dekat desa, tibalah ia disebuah tanah lapang di tepi hutan tersebut. Pak Tani terkejut, disana ia melihat seorang kakek tua renta yang sedang sibuk mengais-ngais tanah dari sebuah lubang di dekat bebatuan. lelaki tua yang jenggot dan rambut kepalanya sudah memutih kusam tidak dipelihara.

Dengan tersedu-sedu, sesekali tangannya yang gemetar mengusap air mata yang menetes di pipinya yang keriput. Pak Tani yang baik itu merasa iba, dihampirinya Kakek tua itu dan bertanya, "Ada apa Kek, apakah yang terjadi dengan kakek disini?" "Aku sedang mencari hartaku yang paling berharga, beberapa keping emas hartaku satu-satunya" lelaki tua itu menjawab sambil terus menangis."Aku menjual semua harta bendaku, rumahku, kebunku, ternak dan semua yang aku punya, semuanya untuk membeli emas itu. Dan sekarang emas hasil penjualannya semua hilang diambil orang!, kemarin aku menaruhnya di dalam lubang ini!" Sambung kakek tua itu. Air matanya terus turun membasahi pipinya. Tanganya masih terus mengais-ngais tanah dengan harapan emasnya bisa ditemukan.

"Saya khawatir kek," kata Pak Tani, "bahwa kakek sedang mendapatkan teguran bahkan hukuman sebagai orang kikir. Kamu sudah menukar semua kepunyaan dan barang barangmu yang bermanfaat untuk seonggok emas yang tidak berharga, yang tidak bisa kamu makan atau pakai." "Ini!" Pak Tani itu menambahkan. "Ini adalah sebuah batu, Kubur batu ini dan anggaplah ini adalah bongkahan emas milik kakek! Kamu tidak akan tahu bedanya." Kata pak tani sambil memberikan sebongkah batu kepada kakek Tua. kakek itu hanya diam, pandanganya menerawang seperti menyesali sesuatu. Sementara Pak Tani berlalu meninggalkan lelaki tua yang masih termangu sambil memegang batu dan menatap lubang kosong di hadapannya. Dia sangat menyesali kesalahan yang telah dilakukannya.

Pesan Moral Dongeng Si Kikir dan Emasnya adalah : Sebaik-baiknya harta adalah harta yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Menimbun dan menyimpan harta dengan tidak dimanfaatkan adalah perbuatan orang kikir. 

Baca selengkapnya

Angsa Ajaib dan Telur Emas Lengkap

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Dongeng Angsa Ajaib dan Telur Emas, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Dongeng Angsa Ajaib dan Telur Emas, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Suatu hari, terjadi kehebohan di sebuah pasar kampung. Orang orang berkerumun di depan sebuah toko penjual telur. Yang berada di luar ingin maju masuk ke dalam, sedangkan yang di dalam ingin lebih dekat lagi ke depan meja. Mereka datang dari seluruh penjuru negeri karena mendengar ada seekor angsa yang bisa bertelur emas, mereka ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan akhirnya, di depan mereka semua, hal ajaib itu terjadi persis seperti yang mereka dengar. Di atas meja, berkilauan sebuah telur angsa emas!

Mereka berebutan ingin membeli telur itu. Namun si Pedagang hanya bisa menjual satu butir telur emas sehari. Yang lain terpaksa menunggu karena si Angsa hanya bisa bertelur satu butir sehari. Si Pedagang benar-benar tidak puas dengan hal itu, dia ingin segera punya banyak uang. Lalu terlintas ide di pikirannya. Pedagang yang rakus itu akan memotong si Angsa ajaib. Dia berfikiran kakau angsa tersebut di bunug dan perutnya dibelah pasti di dalamnya terdapat banyak telur emas. Ia akan mengambil semua telur yang ada di dalam tubuhnya sekaligus. Dia sudah tidak sabar ingin segera cepat kaya.

Para pembeli bersorak gembira ketika si Pedagang mengumumkan ide hebatnya itu pada mereka. Kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah pisau tajam dan membelah dada angsa ajaib itu. Orang-orang menahan nafasnya. Darah si Angsa menetes merah membasahi bulu bulunya yang putih bersih. "Dia membunuh angsa peliharaanya" orang-orang riuh bersorak sorai.

Lalu tiba-tiba datang seorang kakek tua dan berkata dengan bijak,"Ya, dan dia telah melakukan kesalahan yang amat besar! Kamu semua akan lihat, angsa itu sekarang hanya seekor burung biasa. Tentu saja karena ia sudah mati. Kamu terlalu serakah ! sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih !"

Apa yang di katakan okeh kakek itu memang benar. Di sana terbaring seekor angsa yang cantik, dadanya terbelah lebar, tapi tak ada sebutir telur pun ada di dalam tubuhnya. Sekarang angsa itu hanya berguna untuk jadi angsa panggang. "Dia sudah membunuh angsa yang memberinya telur emas!" seorang petani tua berkata sedih. Orang-orang pun meninggalkan toko dan berjalan pulang dengan gontai dan kecewa. sementara si pemilik angsa hanya bisa diam menyesali keserakahan dan perbuatan bodohnya.

Pesan Moral Dongeng Angsa Ajaib dan Telur Emas adalah : Sebagai manusia kita tidak boleh rakus, tamak, dan serakah. Karena keserakahan sering kali membuat kita berbuat bodoh tanpa berfikir jangka panjang. Keserakahan, tamak dan loba adalah perbuatan yang sangat tercela.


Baca selengkapnya