Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Lutung Kasarung

Berabad-abad lalu di Jawa Barat berdiri kerajaan bernama Pasir Batang. Di sana memerintah seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya bernama raja Tapa Agung.

Raja Tapa Agung memiliki dua anak, keduanya perempuan. Yang sulung bernama Purbararang dan adiknya bernama Purbasari. Walaupun Kedua gadis itu sama-sama cantik jelita, sifatnya bertolak belakang. Purbararang sombong dan sering semena-mena kepada orang lain. Sementara Purbasari sopan santun dan suka menolong.

Cerita Rakyat Lutung Kasarung
Raja Tapa Agung merasa sudah saatnya mencari penggantinya. Karena tidak mempunyai puter mahkota, raja ingin salah satu puterinya menjadii ratu ketika ia wafat kelak. Walaupun Purbasari bukan anak sulung, raja memilihnya karena sifat-sifat yang dimilikinya sangat cocok menjadi pemimpin. Purbasari juga sangat cerdas.

Raja mengumumkan bahwa ia memilih Purbasari menjadi penggantinya kelak. Permaisuri dan para menteri setuju dengan keputusan raja. Namun ada orang yang merasa dirugikan bila Purbasari menjadi ratu, yaitu Purbararang dan tunangannya, Raden Indrajaya. Purbararang tidak rela kehilangan haknya sebagai anak sulung. Ditambah lagi dengan hasutan Raden Indrajaya yang ingin menjadi raja.

Purbararang mencari cara agar Purbasari gagal menjadi ratu. Ia menemui Nyi Ronde, seorang penyihir. Ia minta Nyi Ronde membantunya menyingkirkan Purbasari. Nyi Ronde dengan senang hati membantu Purbararang karena dijanjikan bayaran yang besar.

Beberapa hari kemudian, tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam. Makin lama bercak-bercak hitam itu makin banyak dan melebar hingga hampir seluruh tubuh Purbasari tertutup. Raja memerintahkan memanggil banyak tabib dari seluruh negeri, tapi Tak ada yang mampu manyembuhkan penyakit Purbasari.

Purbararang mendatangi ayahnya. �Ayahanda, sebenarnya adik Purbasari sakit apa?� katanya. �Mengapa tidak ada tabib yang bisa mengobatinya?� Tentu saja raja tidak dapat menjawab dan makin sedih memikirkan penyakit Purbasari.

�Ayahanda,� kata Purbararang beberapa hari kemudian. �Apakah adik Purbasari sakit karena kutukan? Apakah ia melakukan sesuatu kesalahan hingga mendapat kutukan?�

Purbararang tidak pernah menuduh Purbasari, tapi selalu bertanya kepada ayah dan ibunya sehingga raja Tapa Agung menjadi bimbang dan lambat laun menjadi yakin bahwa Purbasari dikutuk.

Ketika Purbararang menyarankan agar Purbasari diasingkan agar kerajaan terhindar dari kutukan yang lebih besar, raja Tapa Agung setuju. Ia mengutus Patih Uwak Batara Lengser mengantarkan puteri kesayangannya itu ke hutan. Patih Lengser yang juga menyayangi Purbasari menjalankan perintah raja dengan berat hati. Ia lalu membuatkan sebuah pondok di hutan dan meninggalkan persediaan makanan untuk Purbasari.

Purbasari tinggal di hutan sendirian. Lama kelamaan ia bersahabat dengan hewan-hewan liar di hutan. Anehnya tak satupun hewan mengganggunya, bahkan hewan buas pun tidak menyerangnya.
Pada suatu hari datanglah seekor lutung di depan pondok. Lutung adalah seekor monyet berbulu hitam dan berekor panjang. Kemudian lutung itu makin sering datang. Ia sering membawa buah-buahan segar untuk Purbasari.

Walaupun lutung itu tidak pernah bicara, Purbasari menganggapnya sebagai sahabat. Ia sering bercerita kepada lutung tentang asal-usulnya dan berkeluh kesah tentang penyakitnya tak kunjung sembuh.

Pada suatu hari lutung tidak muncul. Purbasari menanti-nanti sahabatnya, tapi tak kunjung datang.
�Apakah lutung sakit? Atau mati?� hatinya bertanya-tanya.

Beberapa hari kemudian lutung datang. Purbasari senang dan merasa lega. Sahabatnya telah kembali.
Lutung menarik tangan Purbasari, mengajaknya masuk lebih jauh ke dalam hutan. Tibalah mereka di sebuah danau. Lutung mendorong-dorong Purbasari dengan lembut ke tepi danau. �Kau mau aku mandi di danau?� Purbasari terperanjat ketika lutung mengangguk. �Baiklah. Lagipula airnya jernih sekali.�

Purbasari masuk ke danau dan berendam. Sesekali ia minum air danau yang ternyata terasa sangat menyegarkan. Setelah puas berendam, Pubasari mengajak lutung kembali ke pondok. Dalam perjalanan, lutung memegang tangan Purbasari dan menunjukkannya. Kulit tangan Purbasari sudah tidak hitam, bahkan tampak lebih bersih daripada sebelum ia sakit. Purbasari melihat kakinya. Tidak ada tanda bahwa kakinya pernah menderita penyakit yang menjijikkan itu. Purbasari lari ke pondok. Ia segera menutup pintu dan memeriksa seluruh tubuhnya. Ia sudah sembuh. Purbasari sangat berterima kasih kepada lutung.

Patih Lengser sering datang menengok Purbasari dan membawakan persediaan makanan. Ketika ia datang lagi, Purbasari bercerita bahwa ia sudah sembuh berkat bantuan si lutung. Patih Lengser mengajaknya kembali ke istana. Purbasari mohon agar lutung boleh ikut bersamanya.

Purbasari tiba di istana. Raja dan permaisuri sangat gembira. Rakyat pun ikut merasa bahagia. Hanya Purbararang dan Raden Indrajaya yang merasa kecewa. Mereka sedang mempersiapkan pesta pernikahan dan Purbararang akan segera dinobatkan sebagai pengganti raja.

�Adik, rupanya kau sudah sembuh?� kata Purbararang pura-pura senang.
�Iya kak, aku sudah sembuh.�
�Tapi bukan berarti kau akan jadi ratu. Ayahanda sudah menyerahkan kerajaan ini kepadaku.�

Purbasari tidak menjawab, ia hanya mematuhi perintah ayahnya. Baginya, tidak menjadi masalah siapa yang menjadi ratu, dirinya atau kakaknya.

�Purbararang, aku ingin Purbasari menjadi ratu karena ia lebih sesuai menjadi ratu,� kata raja Tapa Agung

�Kalau begitu aku dan Purbasari berlomba saja. Siapa yang menang lomba ini, akan menjadi ratu,� kata Purbararang tanpa berpikir panjang.

�Kita berlomba saja ... ehm ... lomba apa ya?� kata Purbararang �O ya, kita berlomba siapa yang rambutnya lebih panjang!�

Purbararang tahu rambutnya pasti lebih panjang dari adiknya. Ia pun mengurai sanggulnya. Rambutnya turun hingga mencapai betis. Purbasari diam saja. Rambutnya hanya mencapai pinggangnya. Lutung menunduk, seolah-olah sedang berdoa. Lalu ia membuka sanggul Purbasari. Ternyata rambut Purbasari mencapai tumitnya.

Purbararang terkejut. Tapi ia belum menyerah. �Kalau begitu kita berlomba lagi. Siapa yang tunangannya lebih tampan, dia yang menang.� Purbararang tidak peduli bahwa sikapnya membuatnya tampak sangat bodoh dan kekanak-kanakan.

�Lihat! Ini Raden Indrajaya tunanganku. Ia tampan sekali! Sedangkan kau, adikku tersayang, kau bahkan tidak punya tunangan.� Purbararang tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Raden Indajaya.
�Perkenalkan tunanganmu! Kalau ia lebih tampan dari Indrajaya, kau boleh jadi ratu. Kami berdua akan pergi dari kerajaan ini.�

Tiba-tiba lutung menyembah kepada raja. �Yang mulia, saya ingin melamar Purbasari. Mohon yang mulia memberi restu,� kata lutung Semua orang yang hadir terkejut. Lutung itu bisa berbicara.

Raja Tapa Agung berkata,�Aku memberikan restu. Tapi keputusannya ada di tangan Purbasari,�
�Anakku, Purbasari, apakah kau mau menikah dengan lutung ini?�

Purbasari tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini, tapi dengan mantap ia menjawab, �Ya, ayahanda. Aku mau menjadi isterinya.�

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Seorang pemuda yang tampan dan gagah berdiri di samping Purbasari. Ia jauh lebih tampan dan gagah daripada Raden Indrajaya.
Pemuda itu membungkuk di depan raja. �Yang mulia, nama saya Sang Hyang Guruminda. Saya berasal dari kayangan. Saya melakukan kesalahan sehingga dibuang ke hutan dan dikutuk menjadi lutung. Sebutan saya Lutung Kesarung yang artinya lutung tersesat. Saya terbebas dari kutukan karena Purbasari mau menjadi isteri saya.�

�Purbararang,� kata raja. �Aku sangat kecewa kepadamu. Seperti janjimu, pergilah meninggalkan kerajaan ini sekarang juga.�

Raja menikahkan Purbasari dengan Guruminda. Beberapa tahun kemudian, raja Tapa Agung meninggal. Purbasari dan Guruminda memerintah dengan adil dan bijaksana.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Lutung Kasarung, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Jumat, 16 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Sangkuriang

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.

Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.

Cerita Rakyat Sangkuriang
Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya.

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.

Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.

Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.

Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Semoga Bermanfaat Cerita Rakyat Sangkuriang. Kami ucapkan terima kasih kepada anda yang telah mengunjungi Web Blog ini dan kunjungi cerita rakyat yang lain.
Baca selengkapnya

Senin, 24 Oktober 2011

Kisah ASAL USUL NAMA GIRILAWUNGAN

Girilawungan adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di tanah Sunda, tepatnya di Majalengka, Jawa Barat. Istilah �girilawungan� berasal dari kata ngalawung dalam bahasa Sunda, yang berarti �berhadap-hadapan�. Menurut cerita, pernah terjadi suatu peristiwa ngalawung di sebuah tempat sehingga tempat itu kemudian dinamakan Girilawungan. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam ceria Asal Usul Nama Girilawungan.
Dahulu di tanah Pasundan, ada seorang raja bernama Pangeran Giri Layang. Ia masih keturunan Raja Pajajaran. Pangeran Giri Layang adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Dalam memerintah negara, ia dibantu oleh adik perempuannya yang bernama Putri Giri Larang dan seorang patih bernama Endang Capang.
Suatu hari, Pangeran Giri Layang sedang bercakap-cakap dengan adiknya di pendopo istana. Putri Giri Layang berkata kepada kakaknya,
�Kanda, Dinda ingin mengatakan sesuatu. Tapi, sebelumnya Dinda mohon maaf jika nantinya ada perkataan Dinda yang menyinggung perasaan Kanda,� kata Putri Giri Larang.
�Ada apa yang ingin kamu katakan, Adikku?� ujar Pangeran Giri Layang,
�Begini, Kanda. Dinda sudah lama membantu Kanda mengelola negeri ini dan sudah banyak pula ilmu yang Dinda peroleh dari Kanda. Tapi, Dinda merasa perlu banyak belajar lagi. Sekiranya Kanda mengizinkan, Dinda ingin pergi merantau untuk menambah ilmu.�
Mendengar permintaan itu, Pangeran Giri Layang tertegun. Ia merasa amat berat melepas kepergian adiknya. Namun, tak ada alasan baginya untuk menolak permintaan tersebut. Ia pun mengelus-elus kepala adiknya, lalu berkata.
�Adikku, engkaulah satu-satunya yang Kanda sayangi. Tapi, jika itu sudah menjadi tekadmu, Kanda merestui kepergian Dinda. Semoga Dinda tidak mendapat rintangan apa pun,� kata Pangeran Giri Layang, �Ingat pesan Kanda, jika berjalan ke arah timur, Dinda jangan sampai melampaui perbatasan.�
�Baik, Kanda. Terima kasih atas doa restu Kanda,� ucap Putri Giri Larang.
Keesokan paginya, Putri Giri Larang bersiap-siap. Setelah berpamitan kepada kakaknya, berangkatlah ia menuju ke arah timur dengan berjalan kaki seorang diri. Setelah berbulan-bulan keluar masuk hutan, menyeberangi sungai, serta mendaki gunung dan lembah, sampailah ia di sebuah hutan belantara yang sepi. Hanya suara-suara binatang hutan yang terdengar saling bersahut-sahutan.
Putri Giri Larang terus berjalan di antara pepohonan. Alangkah terkejutnya sang Putri, ia menemukan sebuah taman yang indah di pedalaman hutan. Di tengah taman itu terdapat sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Kolam itu dikelilingi pula tanaman bunga yang beraneka warna. Putri pun tak kuasa menahan rasa kagum menyaksikan pemandangan itu.
�Oh, pemandangan yang sungguh indah. Tapi, kenapa ada taman di tengah hutan ini?� heran sang Putri, �Siapa yang membuatnya?�
Putri Giri Larang duduk di pinggir kolam lalu merendam kedua kakinya ke dalam air. Setelah merasakan kesejukan air itu, ia lalu berpikiran ingin mandi.
�Sebaiknya aku mandi saja di kolam ini untuk menghilangkan rasa letih,� gumamnya.
Sang Putri pun segera menanggalkan pakaian dan meletakkannya di pinggir kolam. Ia lalu mencebur ke dalam kolam dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Sejuknya air kolam itu terasa menusuk hingga ke ubun-ubunnya. 
Ketika sang Putri sedang asyik berendam di kolam itu, tanpa disadari ada seorang lelaki setengah baya menuju ke kolam. Lelaki itu adalah seorang patih dari sebuah kerajaan di Jawa yang bertugas merawat dan menjaga kolam itu agar tetap bersih. Taman itu merupakan tempat Raja Jawa beristirahat sepulang dari berburu.
Patih itu terkejut begitu melihat seorang putri cantik sedang mandi di kolam. Cepat-cepatlah ia bersembunyi di balik sebuah pohon besar sambil mengawasi putri itu.
�Cantik sekali putri itu, bagaikan bidadari dari kahyangan,� kagum patih itu, �Tapi, siapa putri itu dan dari mana asalnya?�
Sang Patih tiba-tiba teringat pada rajanya yang sedang mencari pasangan untuk dijadikan permaisuri.
�Raja pasti tertarik pada putri itu,� pikirnya.
Tanpa berpikir panjang, Patih itu segera mengambil pakaian sang putri. Rupanya, sang Putri mengetahuinya. Ketika Putri naik ke darat hendak merebut pakaiannya, Patih itu segera berlari. Sang Putri pun segera mengejarnya, sang Patih sengaja memperlambat langkahnya agar sang putri terus mengikutinya hingga ke istana.
Setiba di istana, Patih itu segera menyerahkan pakaian sang Putri kepada sang Raja.
�Ampun, Gusti. Hamba mempersembahkan sebuah bingkisan untuk Gusti,� sembah patih itu.
�Hai, pakaian siapa ini?� tanya sang Raja heran.
�Pakaian itu milik seorang putri. Putri itu sedang mandi di kolam Gusti,� ungkap patih itu, �Putri itu cantik jelita bagai bidadari. Barangkali saja Gusti tertarik padanya.�  
�Wah, kamu memang Patih yang pengertian. Mana putri itu?� tanya sang Raja.
Belum sempat patih itu menjawab, tiba-tiba Putri Giri Larang muncul dan berteriak.
�Hai, pencuri. Cepat kembalikan pakaianku!� serunya, �Dasar kalian tidak sopan. Beraninya mencuri pakaian wanita yang sedang mandi.�
Jantung sang Raja langsung berdetak kencang saat melihat kecantikan Putri Giri Larang. Raja tersenyum lalu menyapa sang putri dengan kata-kata lembut.
�Maafkan kami atas perlakuan patihku, Putri cantik,� ucap sang Raja.
�Hai, pencuri. Cepat kembalikan pakaianku! Kalau tidak, aku hancurkan seluruh isi keraton ini!� ancam sang Putri.
�Sabar, Putri,� ujar sang Raja dengan tenang, �Kami tidak ingin mencari keributan. Sebaiknya Putri beristirahat dulu, setelah itu kami akan menyerahkan pakaian Putri.�
Dengan kata-kata lembut sang Raja, hati Putri Giri Larang akhirnya luluh. Setelah mandi dan beristirahat, ia pun berunding dengan sang Raja.
�Maaf, Putri. Kalau boleh saya tahu, siapa sebenarnya Putri dan berasal dari mana?� tanya sang Raja.
Putri Giri Larang pun memperkenalkan namanya lalu menjelaskan asal-usulnya. Mendengar penjelasan itu, sang Raja pun mengungkapkan isi hatinya.
�Begini. Sebenarnya aku memang sedang mencari istri untuk kujadikan permaisuri. Kebetulan sekali aku telah bertemu dengan Putri yang selama ini kudambakan. Bersediakah Putri menjadi permaisuriku?� pinang sang Raja.
Mendengar permintaan itu, tiba-tiba sang Putri merasa sekujur tubuhnya menjadi lemah. Kekuatannnya terasa tersedot oleh kekuatan gaib. Pada saat itulah, ia baru tersadar dan teringat pada nasehat kakaknya dirinya telah melewati perbatasan sebelah timur sehingga kesaktiannya hilang. Dengan terpaksa, ia pun menerima lamaran sang Raja.
�Baiklah, aku terima lamaran Gusti. Tapi, dengan syarat kaum laki-laki tidak mencampuri urusan perempuan,� pinta sang Putri.
Sang Raja menyanggupi permintaan itu. Beberapa hari kemudian, pernikahan mereka pun dilangsungkan dengan amat meriah. Sejak itulah, putri keturunan Pajajaran itu menjadi permaisuri Raja.
Suatu hari, Putri Giri Larang menanak nasi, lalu pergi mandi. Beberapa saat kemudian, diam-diam sang Raja membuka kuali yang airnya sedang mendidih. Ia penasaran ingin mengetahui istrinya sedang masak apa. Alangkah terkejut dia setelah membuka kuali itu yang ternyata isinya hanya setangkai padi. Setelah mengamatinya sejenak, padi itu ia masukkan ke kuali dan menutupnya kembali.
Putri Giri Larang baru saja selesai mandi dan kembali ke dapur. Betapa marahnya ia setelah mengetahui padi di dalam kuali tak kunjung matang. Dengan perasaan kecewa, ia menghampiri suaminya.
�Engkau telah melanggar janjimu. Engkau telah berani membuka rahasia perempuan,� hardik sang Putri.
Tanpa berkata-kata lagi, Putri Giri Larang segera meninggalkan istana menuju keraton kakaknya. Setiba di sana, ia langsung merangkul kakaknya sambil menangis.
�Maafkan Dinda! Dinda tidak menghiraukan nasehat Kanda,� tangis sang Putri.
Putri yang sedang hamil tua itu kemudian menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya.
�Sudahlah, Dinda. Lupakanlah semua kejadian yang sudah lalu,� ujar Giri Layang, �Beristirahatlah, kasian bayi yang ada di dalam kandunganmu.�
Selang beberapa hari kemudian, Putri Giri Larang pun melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Adipati Jatiserang. Kehadiran anak itu tentu saja mencemaskan hati Pangeran Giri Layang. Ia khawatir kalau-kalau tentara kerajaan suami adiknya datang menyerang hendak mengambil Adipati Jatiserang. Kekhawatiran itu akhirnya datang juga ketika sang Pangeran mendapat petunjuk dari kakeknya melalui mimpi bahwa mereka akan datang mengambil keponakannya.
Pangeran Giri Layang pun segera berunding dengan patihnya Endang Capang serta para menterinya agar membuat kulah (lubang besar di bawah tanah) sebanyak empat buah. Keempat kulah itu akan dijadikan sebagai tempat persembunyian keluarga keraton, termasuk Putri Layang dan putranya. Tak berapa lama kemudian, tentara kerajaan suami sang Putri yang dipimpin oleh Patih Mangkunagara dan Patih Surapati pun tiba. Mereka pun langsung mencari Pangerang Giri Layang serta Putri Giri Larang dan putranya. 
�Hai, di mana Raja kalian?� tanya Patih Mangkunagara, �Kami ke mari mencari Putri Larang dan putranya.�
�Maaf, Tuan-Tuan! Pangerang Giri Layang dan Putri Giri Larang sudah wafat. Sementara Adipati Jatiserang, putra Putri Giri Larang, sedang menutut ilmu ke negeri seberang,� jawab patih Endang Capang.
Kedua patih tersebut tidak percaya dengan jawaban itu. Akhirnya, Patih Endang Capang segera membawa mereka ke tempat Pangeran Giri Layang dan Putri Giri Larang bersembunyi. Karena tidak percaya, kedua patih Majapahit itu berniat untuk menggali kulah yang mirip makam tersebut. Namun, baru saja mereka mulai menggali, tiba-tiba seluruh badan mereka menjadi lemas dan tak bertenaga. Rupanya, kekuatan mereka terhisap oleh kesaktian Pangeran Giri Layang dari dalam kulah tersebut. Karena gagal melaksanakan tugas, Patih Mangkunagara pun memerintahkan tentaranya agar tidak pulang dulu ke istana.
�Para prajuritku, jangan ada yang pulang ke istana!� ujar patih itu, �Malulah rasanya pulang dengan tangan hampa. Sebaiknya kita ngalawung (bertemu berhadap-hadapan) saja di sini sambil menunggu Putri Giri Larang keluar sebab aku yakin ia bersembunyi.�
Seluruh tentara pun menetap di tempat tersebut. Untuk mengenang peristiwa ngawalung, maka tempat itu dinamakan Negara Girilawungan yang kini dikenal dengan sebutan Babakan Jawa.
* * *
Demikian cerita Asal Usul Nama Girilawungan dari Jawa Barat. Ada pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu akibat buruk dari sifat tidak mau mendengarkan nasehat seperti Putri Giri Larang, dan akibat buruk dari sifat ingkar janji seperti sang Raja yang melanggar syarat dari istrinya.
Baca selengkapnya

Kamis, 09 Juni 2011

Kisah TANGKUBAN PERAHU

Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.



Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.

Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.

Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.

Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi � ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.

Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
Baca selengkapnya

Kisah LEGENDA KAMANDAKA SI LUTUNG KASARUNG

Cerita ini adalah versil lain dari Lutung Kasarung yang banyak didengar di daerah Sunda. Cerita Lutung Kasarung ini merupakan cerita versi Pasir Luhur. Tidaklah penting mana yang benar antara kedua versi tersebut, yang jelas, cerita-cerita ini untuk menghibur dan dipetik pelajarannya.



Di Jawa Barat pada jaman dahulu kala ada sebuah Kerajaan Hindu yang besar dan cukup kuat, yaitu berpusat di kota Bogor. Kerajaan itu adalah Kerajaan �Pajajaran�, pada saat itu raja yang memerintah yaitu Prabu Siliwangi. Beliau sudah lanjut usia dan bermaksud mengangkat Putra Mahkotanya sebagai penggantinya.

Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang putra dan satu orang putri dari dua Permaisuri, dari permaisuri yang pertama mempunyai dua orang putra, yaitu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar. Namun sewaktu Banyak Cotro dan Banyak Ngampar masih kecil ibunya telah meninggal.

Maka Prabu Siliwangi akhirnya kawin lagi dengan permaisuri yang kedua, yaitu Kumudaningsih. Pada waktu Dewi Kumuudangingsih diambil menjadi Permaisuri oleh Prabu Siliwangi, ia mengadakan perjanjian, bahwa jika kelak ia mempunyai putra laki-laki, maka putranyalah yang harus meggantikan menjadi raja di Pajajaran.

Dari perkawinannya dengan Dewi Kumudaningsih, Prabu Silliwangi mempunyai seorang putra dan seorang putri, yaitu: Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.

Pada suatu hari Prabu Siliwangi memanggil Putra Mahkotanya, Banyak Cotro dan Banyak Blabur untuk menghadap, maksudnya ialah Prabu Siliwangi akan mengangkat putranya untuk menggantikan menjadi raja di Pajajaran karena beliau sudah lajut usia.

Namun dari kedua Putra Mahkotanya belum ada yang mau diangkat menjadi raja di Pajajaran. Sebagai putra sulungnya Banyak Cokro mengajukan beberapa alasan, antara lain alasannya adalah:
  • Untuk memerintahkan Kerajaan dia belum siap, karena belum cukup ilmu.
  • Untuk memerintahkan Kerajaan seorang raja harus ada Permaisuri yang mendampinginya, sedangkan Banyak Cotro belum kawin.
Banyak Cotro mengatakan bahwa dia baru kawin kalau sudah bertemu dengan seorang putri yang parasnya mirip dengan ibunya. Oleh sebab itu Banyak Cotro meminta ijin pergi dari Kerajaan Pajajaran untuk mencari putri yang menjadi idamannya.

Kepergian Banyak Cotro dari Kerajaan Pajajaran melalui gunung Tangkuban Perahu, untuk menghadap seorang pendeta yang bertempat di sana. Pendeta itu ialah Ki Ajar Winarong, seorang Pendeta sakti dan tahu untuk mempersunting putri yang di idam-idamkannya dapat tercapai.

Namun ada beberapa syarat yang harus dilakukan dan dipenuhi oleh Banyak Cotro, yaitu harus melepas dan menaggalkan semua pakaian kebesaran dari kerajaan dengan hanya memakai pakaian rakyat biasa. Dan ia harus menyamar dengan nama samaran �Raden Kamandaka�

Setelah Raden Kamandaka berjalan berhari-hari dari Tangkuban Perahu ke arah Timur, maka sampailah Raden Kamandaka kewilayah Kadipaten Pasir Luhur.

Secara kebetulan Raden Kamandaka sampai Pasir Luhur, betemu dengan Patih Kadipaten Pasir Luhur yaitu Patih Reksonoto. Karena Patih Reksonoto sudah tua tidak mempuunyai anak, maka Raden Kamandaka akhirnya dijadikan anak angkat Patih Reksonoto merasa sangat bangga dan senang hatinya mempunyai Putra Angkat Raden Kamandaka yang gagah perkasa dan tampan, maka Patih Reksonoto sangat mencintainya.


Adapun yang memerintahkan Kadipaten Pasir Luhur adalah �Adi Pati Kanandoho�. Beliau mempunyai beberapa orang Putri dan sudah bersuami kecuali yang paling bungsu yaitu Dewi Ciptoroso yang belum bersuami. Dewi Ciptoroso inilah seorang putri yang mempunyai wajah mirip Ibu raden Kamandaka, dan Putri inilah yng sedang dicari oeh Raden Kamandaka.

Suatu kebiasaan dari Kadipaten Pasir Luhur bahwa setiap tahun mengadakan upacara menangkap ikan di kali Logawa. Pada upacara ini semua keluarga Kadipaten Pasir Luhur beserta para pembesar dan pejabatan pemerintah turut menangkap ikan di kali Logawa.

Pada waktu Patih Reksonoto pergi mengikuti upacara menangkap ikan di kali Logawa, tanpa diketahuinya Raden Kamandaka secara diam-diam telah mengikutinya dari belakang. Pada kesempatan inilah Raden Kamandaka dapat bertemu dengan Dewi Ciptoroso dan mereka berdua saling jatuh cinta.

Atas permintaan dari Dewi Ciptoroso agar Raden Kamandaka pada malam harinya untuk dating menjumpai Dewi Ciptoroso di taman Kaputren Kadipaten Pasir Luhur tempat Dewi Ciptoroso berada. Benarlah pada malam harinya Raden Kamandaka dengan diam-diam tanpa ijin patih Resonoto, ia pun pergi menjumpai Dewi Ciptoroso yang sudah rindu menanti kedatangan Raden Kamandaka.

Namun keberadaan Raden Kamandaka di Taman Kaputren Bersama Dewi Ciptoroso tidak berlangsung lama. Karena tiba-tiba prajurit pengawal Kaputren mengetahui bahwa di dalam taman ada pencuri yang masuk. Hal ini kemu kemudian dilaporkan oleh Adipatih Kandandoho.

Menanggapi laporan ini, maka Adipatih sangat marah dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap peencuri tersebut. Karena kesaktian dan ilmu ketangkasan yang dimiliki oleh Raden Kamandaka, maka Raden Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur.

Sebelum Raden Kamandaka lolos dari Taman Kaputren, ia sempat mengatakan identitasnya. Bahwa ia bernama Raden Kamandaka putra dari Patih Reksonoto.

Hal ini didengar olehh prajurit, dan melaporkan kepada Adipatih Kandandoho. Mendengar hal ini maka Patih Reksonoto pun dipanggil dan harus menyerahkan putra nya. Perintah ini dilaksanakan oleh Patih Reksonoto, walaupun dalam hatinya sangatlah berat. Sehimgga dengan siasat dari Patih Reksonoto, maka Raden Kamandaka dapat lari dan selamat dari pengejaran para prajurit.

Raden Kamandaka terjun masuk kedalam sungai dan menyelam mengikuti arus air sungai. Oleh Patih Reksonoto dan para prajurit yang mengejar, dilaporkan bahwa Raden Kamandaka dikatakan sudah mati didalam sugai. Mendengar berita ini Adipatih Kandandoho merasa lega dan puas. Nmun sebaliknya Dewi Ciptoroso yang setelah mendengar berita itu sangatlah muram dan sedih.

Sepanjang Raden Kamandaka menyelam mengikuti arus sungai bertemulah dengan seorang yang memancing di sungai. Orang tersebut bernama Rekajaya, Raden Kamandaka dan Rekajaya kemudian berteman baik dan menetap di desa Panagih. Di desa ini Raden Kamandaka diangkat anak oleh Mbok Kektosuro, seorang janda miskin di desa tersebut.

Raden Kamandaka menjadi penggemar adu ayam. Kebetulan Mbok Reksonoto mempunyai ayam jago yang bernama �Mercu�. Pada setiap penyabungan ayam Raden Kamandaka selalu menang dalam pertandingan, maka Raden Kamandaka menjadi sangat terkenal sebagai botoh ayam.

Hal ini tersiar sampai kerajaan Pasir Luhur, mendengar hal ini Adipatih Kandadoho menjadi marah dan murka. Beliau memerintahkan prajuritnya untuk menagkap hidup atau mati Raden Kamandaka.

Pada saat itu tiba-tiba datanglah seorang pemuda tampan mengaku dirinya bernama �Silihwarni� yang akan mengabdikan diri kepada Pasir Luhur, maka ia permohonannya diterima, tetapi asalkan ia harus dapat membunuh Raden Kamandaka. Untuk membuktikannya ia harus membawa darah dan hati Raden Kamandaka.


Sebenarnya Silihwarni adalah nama samaran. Nama itu sebenarnya adalah Banyak Ngampar Putra dari kerajaan Pajajaran, yaitu adik kandung dari Raden Kamandaka.

Ia oleh ayahnya Prabu Siliwangi ditugaskan untuk mencari saudara kandungnya yang pergi sudah lama belum kembali. Untuk mengatasi gangguan dalam perjalanan, ia dibekali pusaka keris Kujang Pamungkas sebagai senjatanya. Dan dia juga menyamar dengan nama Silihwarni, dan berpakaian seperti rakyat biasa.

Karena ia mendengar berita bahwa kakak kandungnya berada di Kadipaten Pasir Luhur, maka ia pun pergi kesana. Setelah Silihwarni menerima perintah dari Adipatih, pergilah ia dengan diikuti beberapa prajurit dan anjing pelacak menuju desa Karang Luas, tempat penyabungan ayam.

Di tempat inilah mereka bertemu. Namun keduanya sudah tidak mengenal lagi. Silihwari berpakaian seperti raknyat biasa sedangkan Raden Kamandaka berpakaian sebagai botoh ayam, dan wajahnya pucat karena menahan kernduan kepada kekasihnya.

Terjadilah persabungan ayan Raden Kamandaka dan Silihwarni, dengan tanpa disadari oleh raden kamandaka tiba-tiba Silihwarni menikam pinggang Raden Kamandaka dengan keris Kujang Pamungkasnya. Karena luka goresan keris itu tersebut darahpun keluar dengan deras. Namun karena ketangkasan Raden Kamandaka, ia pun dapat lolos dari bahaya tersebut dan tempat ia dapat lolos itu dinamakan desa Brobosan, yang berarti ia dapat lolos dari bahaya.

Karena lukanya semakin deras mengeluarkan darah, maka ia pun istirahat sebentar disuatu tempat, maka tempat itu dinamakan Bancran. Larinya Raden Kamandaka terus dikejar oleh Silihwarni dan prajurit. Pada suatu tempat Raden Kamandaka dapat menangkap anjing pelacaknya dan kemudian tempat itu diberinya nama desa Karang Anjing.

Raden Kamandaka terus lari kearah timur dan sampailah pada jalan buntu dan tempat ini ia memberi nama Desa Buntu. Pada akhirnya Raden Kamandaka sampailah di sebuah Goa. Didalam Goa ini ia beristirahat dan bersembunyi dari kejaraan Silihwarni. Silihwarni yang terus mengejar setelah sampai goa ia kehilangan jejak. Kemudian Silihwarnipun dari mulut goa tersebut berseru menantang Raden Kamandaka.

Setelah mendengar tantagan Silihwarni, Raden Kamandaka pun menjawab ia mengatakan identitasnya, bahwa ia adalah putra dari kerajaan Pajajaran namanya Banyak Cotro.

Setelah itu Silihwarnipun mengatakan identitasnya bahwa ia juga putra dari Kerajaan Pajajaran, bernama Banyak Ngampar. Demikian kata-kata yang pengakuan antara Raden Kamandaka dan Silihwarni bahwa mereka adalah putra pajajaran, maka orang yang mendengar merupakan nama versi ke-2, untuk Goa Jatijajar tersebut. Kemudian mereka berdua berpeluka dan saling memaafkan.

Namun karena Silihwarni harus membawa bukti hati dan darah Raden Kamandaka, maka akhirnya anjing pelacaknya yang dipotong diambil darah dan hatinya. Dikatakan bahwa itu adalah hati dan darah Raden Kamandaka yang telah dibunuhnya.

Raden Kamandaka kemudian bertapa di dalam goa dan mendapat petunjuk, bahwa niatnya untuk mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai kalau ia sudah mendapat pakaian �Lutung� dan ia disuruh supaya mendekat ke Kadipaten Pasir Luhur, yaitu supaya menetap di hutan Batur Agung, sebelah Barat Daya dari batu Raden.

Suatu kegemaran dari Adipatih Pasir Luhur adalah berburu. Pada suatu hari Adipatih dan semua keluarganya berburu, tiba-tiba bertemulah dengan seekor lutung yang sangat besar dan jinak. Yang akhirnya di tangkaplah lutung tersebut hidup-hidup.

Sewaktu akan dibawa pulang, tiba-tiba Rekajaya datang mengaku bahwa itu adalah lutung peliharaannya, dan mengatakan beredia membantu merawatnya jika lutung itu akan dipelihara di Kadipaten. Dan permohonan itu pun dikabulkan.

Setelah sampai di kadipaten para putri berebut ingin memelihara lutung tersebut. Selama di Kadipaten lutung tersebut tidak mau dikasih makan. Oleh sebab itu akhirnya oleh Adipatih lutung tersebut disayembarakan yaitu jika ada salah seorang dari putrinya dapat memberi makan dan diterima oleh lutung tersebut maka ia lah yang akan memelihara lutung tersebut.

Ternyata makanan yang diterima oleh lutung tersebut hanyalah makanan dari Dewi Ciporoso, maka �Lutung Kasarung� itu menjadi peliharaan Dewi Ciptoroso. Pada malam hari lutung tersebut berubah wujud menjadi Raden Kamandaka. Sehingga hanya Dewi Ciptoroso yang tahu tentang hal tersebut. Pada siang hari ia berubah menjadi lutung lagi. Maka keadaan Dewi kini menjadi sangat gembira dan bahagia, yang selalu ditemani lutung kasarung.

Alkisah pada suatu hari raden dari Nusa Kambangan Prabu Pule Bahas menyuruh Patihnya untuk meminang Putri Bungsu Kadipaten Pasir Luhur Dewi Ciptoroso dan mengancam apabila pinangannya ditolak ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur.

Atas saran dan permintaan dari Lutung Kasarung pinangan Raja Pule Bahas agar supaya diterima saja. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh raja Pule Bahas. Salah satunya ialah dalam pertemuan pengantin nanti Lutung Kasarung harus turut mendampingi Dewi Ciporoso.

Pada waktu pertemuan pengantin berlangsung, Raja Pule Bahas selalu diganggu oleh Lutung Kasarung yang selalu mendampingi Dewi Ciptoroso. Oleh sebab itu Raja Pule Bahas marah dan memukul Lutung Kasarung. Namun Lutung Kasarung telah siap berkelahi melawan Raja Pule Bahas.

Pertarungan Raja Pule Bahas dengan Lutung Kasarung terjadi sangat seru. Namun karena kesaktian dari Luung Kasarung, akhirnya Raja Pule Bahas gugur dicekik dan digigit oleh Lutung Kasarung.

Tatkala Raja Pule Bahas gugur maka Lutung Kasarung pun langsung menjelma menjadi Raden Kamandaka, dan langsung mengenkan pakaian kebesaran Kerajaan Pajajaran dan mengaku namanya Banyak Cotro. Kini Adipatih Pasir Luhur pun mengetahui hal yang sebenarnya adalah Raden Kamandaka dan Raden Kamandaka adalah Banyak Cotro dan Banyak Cotro adalah Lutung Kasarung putra mahkota dari kerajaan Pajajaran. Dan akhirnya ia dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso.

Namun karena Raden Kamandaka sudah cacat pada waktu adu ayam dengan Silihwarni kena keris Kujang Pamungkas maka Raden Kamandaka tidak dapat menggantikan menjadi raja di Pajajaran.

Karena tradisi kerajaan Pajajaran, bahwa putra mahkota yang akan menggantikan menjadi raja tidak boleh cacat karena pusaka Kujang Pamungkas. Sehingga setelah ia dinikahkan dengan Dewi Ciptoroso, Raden Kamandaka hanya dapat menjadi Adipatih di Pasir Luhur Menggantikan mertuanya. Sedangkan yang menjadi Raja di Pajajaran adalah Banyak Blabur.
Baca selengkapnya