Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2011

Kisah PUTRI ANAM DAN PUTRI BUSSU

Putri Anam dan Putri Bussu adalah dua orang gadis kakak beradik yang tinggal di sebuah daerah di Kalimantan Barat. Suatu hari, Putri Bussu memperoleh labu berisi emas dari seorang tetangganya. Mengetahui hal itu, Putri Anam juga ingin untuk mendapatkan labu emas seperti adiknya itu. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Simak cerita selengkapnya dalam cerita Putri Anam dan Putri Bussu berikut ini.


Alkisah, di suatu tempat di Kalimantan Barat, hiduplah dua gadis kakak beradik. Si sulung bernama Putri Anam, sedangkan adiknya bernama Putri Bussu. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Putri Anam gadis pemalas, serakah, dan tidak sabar, sedangkan Putri Bussu adalah gadis yang rajin, sabar, cerdik, dan luhur budi pekertinya.
Suatu siang yang terik, Putri Bussu sedang duduk di teras rumah sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Tanpa diduga, tiba-tiba kipasnya diterbangkan angin hingga tersangkut di atas pohon jeruk di halaman rumah Pak Rusa�, tetangganya. Maka, cepat-cepatlah ia mengejar kipas itu. Rupanya, kipas itu tersangkut di dahan pohon jeruk yang paling tinggi. Karena ia tidak kuat memanjat, ia pun bermaksud untuk meminta bantuan kepada Pak Rusa�.
�Permisi�! Permisi� Pak Rusa!� teriak Putri Bussu di depan pintu rumah Pak Rusa�.
Tak berapa kemudian, Pak Rusa� pun keluar dari dalam rumahnya.
�Ada apa, Putri Bussu? Ada yang bisa saya bantu?� tanya Pak Rusa� yang baik hati itu.
�Iya, Pak Rusa�. Kipasku tersangkut di atas pohon jeruk itu,� kata Putri Bussu sambil menunjuk ke arah kipasnya, �Bolehkah saya minta tolong diambilkan kipas itu?�
�Tentu, Putri Bussu. Tapi, tolong buatkan aku semangkuk bubur,� pinta Pak Rusa�.
�Baiklah,� jawab Putri Bussu seraya masuk ke dalam rumah Pak Rusa�.
Sementara Putri Bussu membuat bubur, Pak Bissu memanjat pohon jeruk. Lelaki paruh baya itu tidak kesulitan mengambil kipas milik Putri Bussu. Setelah turun dari pohon jeruk, ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menyerahkan kipas itu kepada pemiliknya.
�Terima kasih, Pak Rusa�,� ucap Putri Bussu setelah mendapatkan kembali kipasnya.
Sambil menunggu bubur itu matang, Pak Rusa� duduk-duduk di serambi rumahnya. Tidak lama kemudian, Putri Bussu pun keluar membawakannya semangkuk bubur.
�Ini buburnya, Pak. Silakan dicicipi,� ujar Putri Bussu.
�Terima kasih, Tuan Putri,� ucap Pak Rusa�.
Pak Rusa� tidak langsung menyantap bubur itu karena masih panas. Ia lebih suka menyantap bubur yang sudah dingin. Namun, hingga hari menjelang sore, bubur itu belum juga dimakan. Putri Bussu pun tidak akan kembali ke rumahnya sebelum Pak Rusa� menyantap bubur buatannya. Sambil menunggu dengan sabar, ia pun berbincang-bincang dengan tetangganya itu. Dalam perbincangan itu, Pak Rusa� mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sang Putri.
�Apa yang berbunyi riuh rendah itu, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Itu orang sedang menumbuk emping,� jawab Putri Bussu.
�Apa yang dikipas-kipas, Tuan Putri?� tanyanya lagi.
�Orang sedang menyapu lantai di siang hari,� jawab sang Putri.
�Apa yang terang benderang, Tuan Putri?� Pak Rusa� kembali bertanya.
�Bintang timur merupakan tanda hari akan siang,� jawab Putri Bussu.
�Apa yang bergoyang-goyang, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Daun simpur ditiup angin,� jawab sang Putri.
�Apa yang bergerak-gerak, Tuan Putri?� tanyanya lagi.
�Kayu besar hanyut dari hulu,� jawab Putri Bussu.
�Buburnya sudah matang belum, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Sudah sejak tadi, Pak Rusa�. Bahkan, buburnya sudah dingin,� jawab Putri Bussu.
Rupanya, Pak Rusa� lupa pada buburnya karena keasyikan mengobrol dengan Putri Bussu. Karena bubur itu sudah dingin, ia pun segera menyantapnya hingga habis.
�Terima kasih, Tuan Putri. Masakan buburmu enak sekali,� ucap Pak Rusa�, �Jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah sebutir buah labu di dapur.�
�Terima kasih, Pak Rusa�,� jawab Putri Bussu seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa�.
Rupanya, di bawah dapur Pak Rusa� terdapat banyak labu dengan ukuran yang berbeda-beda. Karena tidak mau serakah, ia pun mengambil labu yang ukurannya paling kecil. Setelah itu, ia pun berpamitan. Sebelum ia pergi, Pak Rusa� berpesan kepadanya.
�Setelah Tuan Putri sampai di rumah, tutup dulu pintu dan jendela rumah Tuan Putri, lalu masuklah ke dalam kelambu. Setelah itu, baru Tuan Putri membelah labu itu,� pesan Pak Rusa�.
Sesampainya di rumahnya, Putri Bussu menuruti nasehat Pak Rusa�. Alangkah terkejutnya ia setelah membelah labu itu. Ternyata, labu itu berisi emas.
�Oh, Pak Rusa�, terima kasih atas kebaikanmu,� gumam Putri Bussu dengan perasaan gembira.
Sementara itu, Putri Anam yang curiga melihat adiknya masuk ke dalam kelambu di siang bolong segera menghampirinya.
�Hai, Bussu, apa yang kamu lakukan di dalam kelambu?� tanya Putri Anam.
Putri Bussu pun menceritakan perihal labu emas yang diperolehnya dari Pak Rusa�. Mengetahui hal itu, Putri Anam pun berkeinginan untuk memiliki labu seperti milik adiknya.
�Bagaimana caranya kamu mendapatkan labu emas itu dari Pak Rusa?� tanya Putri Anam.
Putri Bussu menjawab jujur dengan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga mendapatkan labu emas itu. Setelah mendengar cerita itu, sang Kakak segera melakukan hal yang sama seperti adiknya. Ia sengaja menerbangkan kipas ke rumah Pak Rusa�. Setelah ia ke rumah Pak Rusa�, lelaki paruh baya itu pun menyuruhnya untuk membuat bubur. Putri Anam segera melaksanakan permintaan itu.
Setelah matang, Putri Anam segera menyajikan bubur itu kepada Pak Rusa�. Seperti biasa, Pak Rusa� itu tidak suka menyantap bubur panas. Maka, ia pun menunggu bubur itu dingin dulu. Namun, karena tidak sabar ingin segera mendapatkan labu emas itu, Putri Anam berbohong kepada Pak Rusa�.
�Silakan dimakan, Pak Rusa�. Buburnya sudah dingin,� kata Putri Anam.
Pak Rusa� pun segera menyantap bubur itu. Pada saat ia memakannya, ternyata bubur itu masih panas. Tak ayal, mulut Pak Rusa� pun terasa terbakar. Bubur yang ada di mulutnya segera dimuntahkan.
�Bubur ini masih panas sekali, Tuan Putri,� tukas Pak Rusa� dengan kesal.
Meskipun Putri Anam berbohong, Pak Rusa� tetap akan memberikan labu emas kepadanya. Maka, Pak Rusa� pun mempersilahkan Putri Anam untuk memilih salah satu labu yang ada di bawah dapurnya.
�Nanti jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah salah satu labu di bawah dapur,� ujar Pak Rusa�.
�Baik, Pak Rusa�,� jawab Putri Anam seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa�.
Ketika sampai di ruang dapur itu, dilihatnya banyak labu. Karena keserakahannya, ia pun memilih labu yang paling besar dan berat.
�Sebaiknya saya pilih labu yang besar ini saja. Pasti emasnya juga banyak,� gumam Putri Anam.
Setelah mengambil labu yang paling besar itu, Putri Anam pun berpamitan. Pak Rusa� tak lupa berpesan kepadanya seperti pesannya kepada Putri Bussu. Setiba di rumahnya, ia pun segera menutup pintu dan jendela rumah serta kelambunya, lalu membelah labu itu. Alangkah terkejutnya ia setelah labu itu terbelah. Labu itu ternyata bukan berisi emas, melainkan puluhan binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lipan. Tak ayal, putri yang serakah itu pun menjerit-jerit ketakutan. Ketika ia hendak melarikan diri, puluhan binatang buas tersebut telah menggigitnya. Ia pun mengerang-ngerang kesakitan.
* * *
Demikian cerita Putri Anam dan Putri Bussu dari Kalimantan Barat. Pesan moral yang dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka berbohong, serakah, dan tidak memiliki sifat sabar akan menanggung akibatnya seperti halnya Putri Anam. Sebaliknya, orang yang baik hati, jujur, dan tidak serakah seperti Putri Bussu akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah yang melimpah.
Baca selengkapnya

Senin, 09 Mei 2011

Kisah LEGENDA SUNGAI LANDAK

Sungai Landak membentang di wilayah Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Dahulu, sebelum menjadi sungai, daerah ini masih berupa tanah lapang. Namun, karena suatu peristiwa, tanah lapang tersebut kemudian menjelma menjadi sungai. Peristiwa apakah itu? Lalu, mengapa dinamakan Sungai Landak? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Legenda Sungai Landak berikut ini.


Dahulu, di sebuah desa yang terletak di pinggir hutan di pedalaman Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami istri. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehari-hari sang Suami bercocok tanam dengan menanam palawija di ladang. Meskipun hidupnya serba pas-pasan, pasangan suami istri tersebut selalu ingin membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan.
Suatu malam, ketika sang Istri sudah tidur dengan nyenyaknya, sang Suami masih terlihat gelisah. Sesekali ia miring ke kanan, sesaat kemudian miring lagi ke kiri. Malam semakin larut, namun lelaki itu tetap tidak bisa memejamkan mata. Ia pun bangkit dari tidurnya lalu duduk di samping istrinya.
�Huh, kenapa mataku sulit sekali kupejamkan?� keluh petani itu.
Sesekali petani itu memandangi istrinya yang sudah terlelap. Suatu ketika, saat menoleh ke arah istrinya, ia dikejutkan oleh sebuah peristiwa aneh pada istrinya. Kepala sang Istri mengeluarkan asap. Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba seekor kelabang (lipan) yang memancarkan sinar berwarna putih keluar dari kepala istrinya. Kelabang itu kemudian merayap keluar dari rumahnya dan menuruni tangga.
�Hai, mau ke mana kelabang itu?� gumamnya seraya mengikuti hewan berkaki seribu itu.
Cahaya bulan purnama yang menerangi sekitar rumahnya memudahkan sang Suami mengikuti kelabang itu. Tak berapa lama kemudian, kelabang itu sampai pada sebuah ceruk (lubang) yang digenangi air, tidak jauh dari rumahnya. Si petani menunggu beberapa saat, namun kelabang itu tidak keluar lagi.
�Ah, dasar kelabang aneh,� gumamnya seraya kembali masuk ke dalam rumahnya.
Petani itu kembali merebahkan tubuhnya di samping sang Istri dan mencoba untuk memejamkan mata. Namun, hingga pagi hari, ia tetap tidak bisa tidur. Pada esok harinya, ia pun menceritakan peristiwa aneh yang dilihatnya semalam kepada sang Istri.
�Dinda, apakah kamu merasakan kelabang itu keluar dari kepalamu?� tanya sang Suami.
�Tidak, Kanda. Tapi, semalam Dinda mimpi aneh,� jawab sang Istri.
�Mimpi aneh apakah itu, Dinda?� tanya sang Suami penasaran.
Sang Istri pun menceritakan perihal mimpinya bahwa ia berjalan amat jauh melewati padang tandus hingga sampai ke sebuah pinggir danau yang amat luas. Di tengah danau, terlihat seekor landak yang sangat besar. Bulunya bewarna kuning keemasan dan matanya tajam menyala. Belum lagi istrinya selesai bercerita, sang Suami menyelanya.
�Lalu, apa yang dinda lakukan?� tanya sang Suami.
�Dinda sangat ketakutan, Kanda. Landak raksasa itu hendak menerkam Dinda. Jadi, Dinda pun lari meninggalkan danau itu,� cerita sang Istri.
Mendengar cerita tersebut, si Petani termenung sejenak dan kemudian berkata kepada istrinya.
�Hmmm... jangan-jangan mimpi Dinda ada hubungannya dengan kelabang yang keluar dari kepala Dinda tadi malam?� pikirnya.
Akhirnya, petani itu mengajak istrinya menuju ceruk tempat kelabang itu menghilang. Ia bermaksud menangkap kelabang itu.
�Hati-hati, Kanda!� seru sang Istri, �Jangan sampai tersengat oleh kelabang itu. Racunnya sangat berbahaya.�
�Baik, Dinda,� jawab sang Suami.
Sang Suami kemudian memasukkan tangannya ke dalam ceruk itu. Beberapa saat kemudian, tangannya terasa menyentuh sebuah benda keras dan ujungnya runcing. Dengan hati-hati, ia mencoba memegang dan kemudian mengambil benda itu. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat benda itu yang ternyata sebuah patung landak emas. Bentuknya sangat indah dan matanya terbuat dari berlian.
�Lihat, Istriku! Patung landak emas ini sungguh luar biasa,� kata sang Suami dengan kagum.
�Sebaiknya patung itu kita bawa ke rumah, Kanda,� ujar istrinya.
Suami dan istri itu pun membawa patung landak emas itu ke rumah mereka. Kemudian mereka menyimpannya dengan baik di suatu tempat yang aman.
�Wah, jika patung itu kita jual, maka kita akan kaya, Kanda,� kata sang Istri.
�Benar, Dinda. Tapi, kita jangan tergesa-gesa menjualnya. Biarlah kita simpan dulu. Siapa tahu kita mendapat petunjuk mengenai patung landak emas itu,� ujar sang Suami.
Benar perkiraan sang Suami. Pada malam harinya, ia mendapat petunjuk melalui mimpi. Dalam mimpi itu, ia didatangi seekor landak besar.
�Tuan, izinkanlah hamba tinggal di rumah kalian. Sebagai imbalannya, hamba akan memberikan semua yang Tuan inginkan,� pinta landak raksasa itu kepada si Petani, �Patung itu cukup diusap kepalanya lalu mengucapkan mantra.�
Landak besar itu kemudian mengajarkan dua jenis mantra. Mantra pertama dibaca saat akan mulai meminta sesuatu, sedangkan mantra kedua dibaca untuk menghentikan apa telah diminta tersebut. Si petani pun dengan cepat menghafal kedua mantra tersebut.
Keesokan harinya, petani itu bercerita kepada istrinya perihal mimpinya semalam. Mendengar cerita itu, sang Istri tidak sabar lagi ingin membuktikannya.
�Wah, kalau begitu. Bagaimana kalau perkataan landak besar itu kita buktikan sekarang?� desak sang Istri, �Kanda masih hafal kan kedua mantra itu?�
�Iya, Dinda. Kanda telah menghafalnya dengan baik,� jawab sang Suami.
Sang Suami segera mengusap kepala patung landak emas itu lalu membaca mantra pertama. Setelah itu, ia pun menyampaikan keinginannya.
�Wahai, patung landak! Berikanlah kami beras yang melimpah!� pinta si Petani.
Seketika, butiran-butiran beras pun berhamburan keluar dari mulut patung landak emas itu. Setelah mendapatkan beras yang cukup, si Petani pun segera membaca mantra kedua untuk menghentikannya. Beras itu pun berhenti keluar dari mulut patung landak itu. Setelah itu, si Petani dan istrinya mengajukan permintaan lain seperti perhiasan dan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Maka, dalam waktu singkat, mereka pun menjadi kaya raya. Keinginannya untuk membantu orang yang susah pun terkabulkan. Sebagian hartanya ia bagi-bagikan kepada mereka.
Rupanya, di antara warga kampung itu, ada seorang perampok yang merasa iri. Ia pun segera menyelidiki asal muasal harta kekayaan suami istri itu. Setelah terus-menerus mengamati dan mengintai, akhirnya perampok itu mengetahui rahasia kekayaan mereka.
�Ooohhh... ternyata patung landak sakti itu yang membuat mereka cepat kaya,� gumam si perampok.
Perampok itu pun segera menyusun siasat untuk bisa mendapatkan patung landak emas itu. Ia segera membuat patung landak yang bentuknya mirip patung landak yang sakti itu. Ketika sepasang suami istri itu pergi ke ladang, ia pun menyelinap masuk ke dalam rumah mereka lalu menukar patung landak emas itu dengan patung landak buatannya. Setelah berhasil mendapatkan patung landak emas itu, ia segera meninggalkan kampung itu dan pindah ke sebuah daerah bernama Ngabang (kini menjadi Kecamatan Ngabang).
Saat itu, Ngabang sedang dilanda kekeringan. Warga sangat kesulitan mendapatkan air. Jangankan untuk mandi, air untuk dipakai memasak pun sangat sulit mereka peroleh. Melihat keadaan itu, timbullah niat si perampok untuk menjadi pemimpin di daerah itu. Ia pun segera mengumpulkan seluruh warga untuk menarik simpati mereka.
�Wahai, seluruh penduduk Ngabang! Aku akan membantu kalian dari kesulitan yang kalian hadapi. Aku akan menyediakan air yang kalian butuhkan,� ujar si Perampok di hadapan seluruh warga Ngabang.
Para penduduk pun amat senang menyambut kabar gembira tersebut. Si Perampok kemudian mengusap kepala patung landak emas itu lalu membaca mantra pertama. Seketika, air pun memancar keluar dari mulut patung landak emas itu dengan deras. Semua warga bersorak-sorai gembira dan berlomba-lomba menadahi air itu dengan tempayan.
�Horeee... horeee... kita dapat air!� terdengar teriakan gembira seluruh warga.
Semakin lama, semburan air itu semakin deras hingga menggenangi daerah tersebut. Para warga yang mulai cemas segera meminta kepada si Perampok agar menghentikannya.
�Cukup... cukup...! Cepat hentikan...!� teriak para warga. 
Si perampok berusaha menutup mulut patung landak itu dengan telapak tangannya. Namun, ia tak kuasa membendung derasnya semburan air. Rupanya ia tidak mengetahui mantra kedua karena ia hanya menyaksikan petani itu membaca mantra yang pertama.
Semakin lama, semburan air yang keluar dari mulut patung landak itu semakin deras. Sebagian wilayah Ngabang pun mulai tergenang banjir. Para warga yang ketakutan melihat kejadian itu berlarian meninggalkan daerah tersebut untuk menghindari banjir yang semakin besar. Si Perampok juga ingin melarikan diri, namun ia tidak dapat menggerakkan kaki dan tangannya. Dalam penglihatannya, ada seekor landak raksasa yang memegang kedua kakinya, sedangkan tangannya terasa lengket pada patung landak emas tersebut.
Daerah Ngabang pun terendam banjir besar hingga menenggelamkan si perampok bersama patung landak emas. Sementara itu, patung landak itu terus-menerus menyemburkan air. Daerah itu tidak dapat lagi menampung genangan air yang semakin banyak sehingga air pun mengalir hingga membentuk sungai kecil dan kemudian menjadi sungai besar.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat setempat menyebut sungai itu dengan nama Sungai Landak karena airnya bersumber dari mulut patung landak emas itu. Hingga kini, Sungai Landak masih dapat kita jumpai di Kecamatan Ngabang yang merupakan ibukota Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Aliran Sungai Landak ini melewati tengah-tengah Kota Ngabang. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, patung landak emas itu terus memancarkan air sampai sekarang sehingga Sungai Landak tidak pernah kering sepanjang tahun.
* * *
Demikian cerita Legenda Sungai Landak dari Ngabang, Kalimantan Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa jika sebuah barang berharga jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab dan serakah seperti si perampok akan mendatangkan bencana bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Baca selengkapnya