Minggu, 18 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Lutung Kasarung

Berabad-abad lalu di Jawa Barat berdiri kerajaan bernama Pasir Batang. Di sana memerintah seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya bernama raja Tapa Agung.

Raja Tapa Agung memiliki dua anak, keduanya perempuan. Yang sulung bernama Purbararang dan adiknya bernama Purbasari. Walaupun Kedua gadis itu sama-sama cantik jelita, sifatnya bertolak belakang. Purbararang sombong dan sering semena-mena kepada orang lain. Sementara Purbasari sopan santun dan suka menolong.

Cerita Rakyat Lutung Kasarung
Raja Tapa Agung merasa sudah saatnya mencari penggantinya. Karena tidak mempunyai puter mahkota, raja ingin salah satu puterinya menjadii ratu ketika ia wafat kelak. Walaupun Purbasari bukan anak sulung, raja memilihnya karena sifat-sifat yang dimilikinya sangat cocok menjadi pemimpin. Purbasari juga sangat cerdas.

Raja mengumumkan bahwa ia memilih Purbasari menjadi penggantinya kelak. Permaisuri dan para menteri setuju dengan keputusan raja. Namun ada orang yang merasa dirugikan bila Purbasari menjadi ratu, yaitu Purbararang dan tunangannya, Raden Indrajaya. Purbararang tidak rela kehilangan haknya sebagai anak sulung. Ditambah lagi dengan hasutan Raden Indrajaya yang ingin menjadi raja.

Purbararang mencari cara agar Purbasari gagal menjadi ratu. Ia menemui Nyi Ronde, seorang penyihir. Ia minta Nyi Ronde membantunya menyingkirkan Purbasari. Nyi Ronde dengan senang hati membantu Purbararang karena dijanjikan bayaran yang besar.

Beberapa hari kemudian, tubuh Purbasari dipenuhi bercak-bercak hitam. Makin lama bercak-bercak hitam itu makin banyak dan melebar hingga hampir seluruh tubuh Purbasari tertutup. Raja memerintahkan memanggil banyak tabib dari seluruh negeri, tapi Tak ada yang mampu manyembuhkan penyakit Purbasari.

Purbararang mendatangi ayahnya. �Ayahanda, sebenarnya adik Purbasari sakit apa?� katanya. �Mengapa tidak ada tabib yang bisa mengobatinya?� Tentu saja raja tidak dapat menjawab dan makin sedih memikirkan penyakit Purbasari.

�Ayahanda,� kata Purbararang beberapa hari kemudian. �Apakah adik Purbasari sakit karena kutukan? Apakah ia melakukan sesuatu kesalahan hingga mendapat kutukan?�

Purbararang tidak pernah menuduh Purbasari, tapi selalu bertanya kepada ayah dan ibunya sehingga raja Tapa Agung menjadi bimbang dan lambat laun menjadi yakin bahwa Purbasari dikutuk.

Ketika Purbararang menyarankan agar Purbasari diasingkan agar kerajaan terhindar dari kutukan yang lebih besar, raja Tapa Agung setuju. Ia mengutus Patih Uwak Batara Lengser mengantarkan puteri kesayangannya itu ke hutan. Patih Lengser yang juga menyayangi Purbasari menjalankan perintah raja dengan berat hati. Ia lalu membuatkan sebuah pondok di hutan dan meninggalkan persediaan makanan untuk Purbasari.

Purbasari tinggal di hutan sendirian. Lama kelamaan ia bersahabat dengan hewan-hewan liar di hutan. Anehnya tak satupun hewan mengganggunya, bahkan hewan buas pun tidak menyerangnya.
Pada suatu hari datanglah seekor lutung di depan pondok. Lutung adalah seekor monyet berbulu hitam dan berekor panjang. Kemudian lutung itu makin sering datang. Ia sering membawa buah-buahan segar untuk Purbasari.

Walaupun lutung itu tidak pernah bicara, Purbasari menganggapnya sebagai sahabat. Ia sering bercerita kepada lutung tentang asal-usulnya dan berkeluh kesah tentang penyakitnya tak kunjung sembuh.

Pada suatu hari lutung tidak muncul. Purbasari menanti-nanti sahabatnya, tapi tak kunjung datang.
�Apakah lutung sakit? Atau mati?� hatinya bertanya-tanya.

Beberapa hari kemudian lutung datang. Purbasari senang dan merasa lega. Sahabatnya telah kembali.
Lutung menarik tangan Purbasari, mengajaknya masuk lebih jauh ke dalam hutan. Tibalah mereka di sebuah danau. Lutung mendorong-dorong Purbasari dengan lembut ke tepi danau. �Kau mau aku mandi di danau?� Purbasari terperanjat ketika lutung mengangguk. �Baiklah. Lagipula airnya jernih sekali.�

Purbasari masuk ke danau dan berendam. Sesekali ia minum air danau yang ternyata terasa sangat menyegarkan. Setelah puas berendam, Pubasari mengajak lutung kembali ke pondok. Dalam perjalanan, lutung memegang tangan Purbasari dan menunjukkannya. Kulit tangan Purbasari sudah tidak hitam, bahkan tampak lebih bersih daripada sebelum ia sakit. Purbasari melihat kakinya. Tidak ada tanda bahwa kakinya pernah menderita penyakit yang menjijikkan itu. Purbasari lari ke pondok. Ia segera menutup pintu dan memeriksa seluruh tubuhnya. Ia sudah sembuh. Purbasari sangat berterima kasih kepada lutung.

Patih Lengser sering datang menengok Purbasari dan membawakan persediaan makanan. Ketika ia datang lagi, Purbasari bercerita bahwa ia sudah sembuh berkat bantuan si lutung. Patih Lengser mengajaknya kembali ke istana. Purbasari mohon agar lutung boleh ikut bersamanya.

Purbasari tiba di istana. Raja dan permaisuri sangat gembira. Rakyat pun ikut merasa bahagia. Hanya Purbararang dan Raden Indrajaya yang merasa kecewa. Mereka sedang mempersiapkan pesta pernikahan dan Purbararang akan segera dinobatkan sebagai pengganti raja.

�Adik, rupanya kau sudah sembuh?� kata Purbararang pura-pura senang.
�Iya kak, aku sudah sembuh.�
�Tapi bukan berarti kau akan jadi ratu. Ayahanda sudah menyerahkan kerajaan ini kepadaku.�

Purbasari tidak menjawab, ia hanya mematuhi perintah ayahnya. Baginya, tidak menjadi masalah siapa yang menjadi ratu, dirinya atau kakaknya.

�Purbararang, aku ingin Purbasari menjadi ratu karena ia lebih sesuai menjadi ratu,� kata raja Tapa Agung

�Kalau begitu aku dan Purbasari berlomba saja. Siapa yang menang lomba ini, akan menjadi ratu,� kata Purbararang tanpa berpikir panjang.

�Kita berlomba saja ... ehm ... lomba apa ya?� kata Purbararang �O ya, kita berlomba siapa yang rambutnya lebih panjang!�

Purbararang tahu rambutnya pasti lebih panjang dari adiknya. Ia pun mengurai sanggulnya. Rambutnya turun hingga mencapai betis. Purbasari diam saja. Rambutnya hanya mencapai pinggangnya. Lutung menunduk, seolah-olah sedang berdoa. Lalu ia membuka sanggul Purbasari. Ternyata rambut Purbasari mencapai tumitnya.

Purbararang terkejut. Tapi ia belum menyerah. �Kalau begitu kita berlomba lagi. Siapa yang tunangannya lebih tampan, dia yang menang.� Purbararang tidak peduli bahwa sikapnya membuatnya tampak sangat bodoh dan kekanak-kanakan.

�Lihat! Ini Raden Indrajaya tunanganku. Ia tampan sekali! Sedangkan kau, adikku tersayang, kau bahkan tidak punya tunangan.� Purbararang tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh Raden Indajaya.
�Perkenalkan tunanganmu! Kalau ia lebih tampan dari Indrajaya, kau boleh jadi ratu. Kami berdua akan pergi dari kerajaan ini.�

Tiba-tiba lutung menyembah kepada raja. �Yang mulia, saya ingin melamar Purbasari. Mohon yang mulia memberi restu,� kata lutung Semua orang yang hadir terkejut. Lutung itu bisa berbicara.

Raja Tapa Agung berkata,�Aku memberikan restu. Tapi keputusannya ada di tangan Purbasari,�
�Anakku, Purbasari, apakah kau mau menikah dengan lutung ini?�

Purbasari tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini, tapi dengan mantap ia menjawab, �Ya, ayahanda. Aku mau menjadi isterinya.�

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Seorang pemuda yang tampan dan gagah berdiri di samping Purbasari. Ia jauh lebih tampan dan gagah daripada Raden Indrajaya.
Pemuda itu membungkuk di depan raja. �Yang mulia, nama saya Sang Hyang Guruminda. Saya berasal dari kayangan. Saya melakukan kesalahan sehingga dibuang ke hutan dan dikutuk menjadi lutung. Sebutan saya Lutung Kesarung yang artinya lutung tersesat. Saya terbebas dari kutukan karena Purbasari mau menjadi isteri saya.�

�Purbararang,� kata raja. �Aku sangat kecewa kepadamu. Seperti janjimu, pergilah meninggalkan kerajaan ini sekarang juga.�

Raja menikahkan Purbasari dengan Guruminda. Beberapa tahun kemudian, raja Tapa Agung meninggal. Purbasari dan Guruminda memerintah dengan adil dan bijaksana.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Lutung Kasarung, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Cerita Rakyat Kisah Raja Kuda

Dahulu kala, beberapa pedagang pergi berlayar untuk mencari harta. Di tengah perjalanan, kapal mereka diterpa badai hingga tenggelam.

Angin kencang membawa para pedagang itu ke sebuah pulau. Mereka sangat gembira karena ternyata semua orang selamat dari badai.

Cerita Rakyat Kisah Raja Kuda
Tanpa mereka ketahui, pulau terpencil itu dihuni sekelompok raksasa. Para raksasa tahu bahwa para pedagang itu terdampar di pulau mereka, dan menyamar sebagai wanita-wanita cantik dan menyambut para pedagang di pantai. Mereka juga membawa makanan, minuman dan harta.

Para pedagang itu sangat senang. Hanya kapten kapal yang merasa curiga dengan sambutan yang hangat itu. Ia takut para wanita itu ingin menjebak mereka. �Kawan-kawan, kita harus membangun kapal kita dan berlayar pulang.�

Sementara itu para wanita itu berkata, �Ayo pulanglah bersama kami. Kalian dapat bersenang-senang asalkan kalian berjanji tidak akan pergi ke bagian utara pulau ini.�

Para pedagang memilih untuk ikut para wanita itu pulang ke desa mereka. �Mengapa harus bekerja keras sedangkan semua yang kita butuhkan sudah tersedia di sini?� kata mereka kepada kapten.

Kapten masih tidak percaya kepada para wanita cantik itu. Ia pergi ke bagian utara pulau. Di sana ia melihat sebuah menara batu yang tinggi. Dari dalam menara itu terdengar suara orang merintih.

Kapten memanjat sebuah pohon yang sangat tinggi. Dari puncak pohon itu ia dapat melihat ke dalam menara. Orang-orang terkurung di sana. �Kami adalah para pedagang. Kapal kami karam di dekat pulau ini. Kami didatangi wanita-wanita cantik yang mengajak kami tinggal di desa mereka. Tapi ketika sampai di desa, mereka berubah menjadi raksasa. Mereka akan memakan kami semua,� kata seorang dari tawanan itu.

�Pergilah! Selamatkan dirimu,� kata tawanan yang lain. �Terbanglah sejauh-jauhnya dari pulau ini.�
"Terbang?� tanya kapten. �Kami bahkan tidak punya kapal lagi.�
�Pergilah ke padang pasir emas yang mengelilingi kolam biru dan padang rumput hijau. Kau harus melalui jalur sempit untuk dapat sampai di sana,� kata para tawanan, menjelaskan ke mana kapten harus melarikan diri.

Kapten segera menyusul kawan-kawannya ke desa para raksasa. �Kalian harus ikut denganku besok malam,� kata kapten. �Kita harus melarikan diri.�

Besok malamnya kapten membawa teman-temannya ke padang pasir emas. Di sana, tiba-tiba datanglah Balaha, raja kuda raksasa yang melayang turun dari langit. �Naiklah ke punggungku,� kata Balaha. �Aku akan membawamu pulang. Tapi tutup matamu dan jangan melihat ke belakang.�

Kapten dan para pedagang naik ke punggung Balaha. Kuda raksasa itu segera melesat ke angkasa. Para raksasa terbangun dan melihat tawanannya melarikan diri. Mereka berlari ke pantai dan memanggil, �Jangan pergi, di sini kami dapat memberikan apa saja yang kalian yang inginkan. Kembalilah!� Beberapa pedagang membuka matanya dan menoleh. Seketika mereka terjatuh dari punggung Balaha.

Para wanita cantik sudah tidak ada lagi. Para raksasa sudah melepaskan samaran mereka. Mereka menangkap pedagang yang jatuh dan langsung memakan mereka.

Ketika Balaha sampai di seberang lautan, ia berkata, �Kau bisa turun sekarang.� Kapten membuka matanya dan melihat ia hanya sendirian. Semua kawannya terjatuh karena tidak mematuhi perintah Balaha. Kapten menangis sedih."

�Jangan sedih, � kata Balaha, �Orang-orang itu mati karena tidak mau melepaskan keinginan mereka.�

�Peringatkan keluarga dan teman-temanmu untuk tidak berpegang terlalu teguh pada keinginannya.�

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Kisah Raja Kuda, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Cerita Rakyat Kisah Hungbu dan Nolbu

Dahulu kala hiduplah dua bersaudara di Korea. Yang sulung bernama Nolbu. Ia serakah dan pendendam. Ia juga tidak disukai karena sering membuat masalah dengan para tetangganya. Sementara itu adiknya bernama Hungbu baik hati dan suka menolong orang lain.

Pada suatu hari ayah mereka meninggal dunia. Sebelum meninggal sang ayah berpesan agar harta peninggalannya dibagi dua untuk Nolbu dan Hungbu. Tapi Nolbu justru mengusir adiknya dan mengambil semua hartanya.

Hungbu menjadi sangat miskin. Ia pekerja keras, tapi tetap saja keluarganya selalu berkekurangan. Anak dan isterinya sering kelaparan.

Cerita Rakyat Kisah Hungbu dan Nolbu
Pada suatu hari Hungbu melihat seekor ular menyerang sarang burung walet. Semua burung di sarang itu dimakan ular, kecuali seekor walet muda yang dapat menyelamatkan diri, tapi kakinya tersangkut rumpun bambu dan terluka. Hungbu mengambil burung malang dan membawanya pulang. Ia merawat burung itu. Setelah sembuh burung itu terbang pergi.

Musim semi tiba. Pada suatu hari burung walet itu datang dan menjatuhkan sebutir biji labu di kaki Hungbu sebagai tanda terima kasih. Hungbu memungut biji labu itu dan menanamnya di halaman rumah.

Beberapa kemudian, biji labu itu mulai tumbuh. Dalam waktu singkat, tanaman labu Hungbu tumbuh besar dan menghasilkan lima buah labu raksasa. Ketika labu itu sudah cukup tua, Hungbu mengambil sebuah labu dan membelahnya. Ternyata labu itu berisi beras yang sangat banyak. Isteri Hungbu senang sekali karena sekarang mereka mempunyai persediaan beras yang cukup untuk dimakan berbulan-bulan.

Hungbu mengambil labu kedua dan membelahnya. Dari dalam labu mengalir emas banyak sekali. Hungbu dan isterinya bersuka cita. Sekarang mereka tidak akan kekurangan lagi, bahkan mereka sudah menjadi kaya raya.

Ketika mereka membelah labu ketiga, seorang peri yang cantik muncul. Peri itu mendekati dua buah labu yang tersisa dan berkata, �Ayo keluarlah, botol biru! Kau juga, botol merah!� Kedua labu itu terbelah sendiri dan muncullah botol biru dan botol merah.

Peri itu berkata kepada Hungbu dan isterinya, "Sekarang kamu harus membangun sebuah rumah.� Tiba-tiba keluarlah banyak tukang kayu dari botol biru. Dari botol merah muncul kayu yang banyak sekali. Tukang-tukang kayu itu langsung bekerja. Dengan segera berdirilah sebuah gedung yang besar dan megah.

Setelah pekerjaan mereka selesai, tukang-tukang kayu itu menghilang ke dalam botol biru. Peri juga berubah menjadi segumpal asap putih yang masuk ke botol biru.
Berita bahwa Hungbu kaya mendadak menjadi pembicaraan semua orang di kota itu. Nolbu juga mendengar berita itu. Ia segera mendatangi rumah Hungbu. Hungbu menceritakan burung walet yang terluka dan apa yang tejadi sesudahnya.

Nolbu bergegas pulang ke rumahnya. Ia juga ingin mendapatkan banyak harta seperti adiknya. Ia menangkap seekor burung walet dan dengan sengaja mematahkan satu kakinya. Kemudian Nolbu mengobati burung walet itu dan merawatnya. Burung itu sembuh dan pergi.
Pada musim semi, burung walet kembali dan memberikan sebutir biji labu. Nolbu menanam biji labu itu. Ketika tanaman labu itu berbuah, Nolbu segera membelah sebuah, tak sabar melihat apa yang ada di dalamnya.

Dari labu itu muncul roh-roh mengerikan, masing-masing membawa tongkat yang panjang. �Kau sangat serakah. Kami akan menghukummu.� Mereka memukuli Nolbu dengan tongkat. Setelah itu mereka menghilang.

Nolbu yang kesakitan segera membelah labu kedua, berharap akan menemukan emas. Tapi yang muncul adalah para penagih hutang. �Beri kami uang. Kalau tidak, kami akan mengambil semua hartamu.� Tanpa menunggu jawaban Nolbu, penagih hutang itu masuk ke rumah Nolbu dan mengambil semua isinya dan pergi.

Belum menyerah, Nolbu membelah labu ketiga. Kali itu keluarlah air yang sangat kotor dari dalam labu. Air yang berbau tajam itu mengotori seluruh rumah Nolbu.

Nolbu lari ke rumah adiknya untuk meminta bantuan. Hungbu menyambutnya dengan hangat. Nolbu menyadari semua perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya. Sejak saat itu ia menjadi orang yang baik. Ia bahkan memberikan setengah hartanya kepada Hungbu. Sekarang Nolbu hidup tenang karena ia sudah tidak mengejar-ngejar harta lagi dan selalu berbuat baik kepada orang lain.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Tentang Kisah Hungbu dan Nolbu, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Burung Gereja dan Kacang Merah yang Hilang

Dahulu kala, ada seekor burung gereja yang sangat rapi dan bersih. Sarangnya bersih sekali. Ia juga selalu membersihkan diri sebelum makan.

Suatu pagi, burung gereja menemukan sebutir kacang merah. Ia sangat gembira karena tidak perlu lagi mencari makanan lagi untuk hari ini. Seperti kebiasaannya, burung gereja pergi ke sungai untuk mandi. Kacang merah itu diletakkannya di atas jembatan.

Burung gereja kembali untuk mengambil kacang merahnya. Tapi kacang merah itu tidak ada di tempat ia meletakkannya tadi. Burung gereja mencari ke mana-mana, tapi kacang merah itu tidak ditemukan.

Burung gereja melihat seorang tukang kayu berjalan di atas jembatan. Burung gereja menghampiri tukang kayu dan berkata, �Pak, aku kehilangan kacang merah. Tolong bantu aku mencarinya.� Tukang kayu itu berkata, �Siapa yang mau mendengarkanmu?� sambil terus berjalan.

Tak lama kemudian seorang prajurit menyeberang jembatan. Burung gereja memohonnya membantu mencari kacang merahnya yang hilang. �Siapa sih yang mau membantu burung gereja?� kata prajurit, tanpa berhenti berjalan

Berikutnya seorang kapten berjalan di jembatan itu, tapi ia juga tidak mau membantu burung gereja. Tak lama, lewatlah seorang menteri. Tapi ia hanya tertawa dan terus berjalan.melanjutkan perjalanannya.

Burung gereja lapar dan putus asa. Kemudian datanglah raja dengan mengendarai gajah. Burung gereja yakin bahwa ia akan mendapat keadilan dari orang paling berkuasa di seluruh negeri. Tapi raja pura-pura tidak mendengar permohonan burung gereja. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Burung gereja duduk di dahan pohon dengan sedih. Seekor semut bertanya, �Ada apa? Apakah kau melihat raja baru saja lewat di sini?

Burung gereja kemudian bercerita bahwa tidak ada seorang pun, dari tukang kayu hingga raja, mau menolongnya. �Jangan kuatir,� kata semut. �Kita akan menemukan kacang itu,�

Semut kemudian memanjat tubuh gajah dan berkata kepadanya, �Katakan kepada raja untuk mencarikan kacang merah milik burung gereja. Kalau tidak, aku akan masuk ke dalam telingamu. Kau tidak mau aku menggigitmu, bukan?�

Gajah sangat ketakutan. �Tuanku,� katanya kepada raja dengan tubuh gemetar. �Tolong tuan membantu burung gereja mencari kacang merahnya yang hilang. Kalau tuan tidak mau melakukannya, aku terpaksa melemparkan tuan dari punggungku.�

Raja kaget bukan main. Ia segera memanggil menteri dan memberi perintah, �Bantulah burung gereja mencari kacang merahnya, atau kau akan kupecat.� Menteri segera memanggil kapten. �Dengarkan apa permintaan burung gereja, atau kau akan menghadapi masalah besar.�

Kapten memanggil prajurit dan memerintahkannya membantu burung gereja. Prajurit memanggil tukang kayu dan berkata,�Ada burung gereja yang kehilangan kacang merah. Pergi cari kacang merah itu. Kalau tidak ketemu, kau akan kuhukum.�

Tukang kayu mencari kacang merah yang hilang itu. Setengah hari berlalu, akhirnya kacang merah itu berhasil ditemukan. Burung gereja akhirnya menikmati makan pagi yang sangat lezat.

***

Jika Anda menyukai Cerita Burung Gereja dan Kacang Merah yang Hilang, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/)
Baca selengkapnya

Full Cerita Rakyat Legenda Pulau Nusa

Dahulu kala hiduplah seorang laki-laki bernama Nusa. Ia tinggal bersama isteri dan adik iparnya. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, Nusa bekerja di sawah dan menangkap ikan.
Suatu ketika terjadi musim kemarau panjang. Sungai dan mata air kering. Tanamanpun layu bahkan sebagian mati. Nusa seperti halnya warga lain mengalami kesulitan mendapatkan air. Tanaman di sawahnya layu dan mati. Sementara itu air sungai surut sehingga ia tidak dapat menangkap ikan.
Nusa memutuskan untuk mengajak isteri dan adiknya pindah ke daerah lain yang masih mempunyai persediaan air. Mereka berangkat menaiki sebuah perahu kecil menuju hilir sungai Rungan.

Di tengah jalan, perjalanan mereka terhambat sebatang pohon tumbang yang melintang di atas sungai. Mereka harus memotong-motong batang pohon itu agar bisa melanjutkan perjalanan. Nusa dan adik iparnya memotong batang pohon itu dengan kapak. Mereka harus bekerja sangat lama karena pohon itu besar sekali. Nusa menjadi lapar sekali. Ia kemudian mengajak adik iparnya mencari makanan di hutan.

Cerita Rakyat Legenda Pulau Nusa
Nusa menemukan sebutir telur besar. Besarnya kira-kira dua kali ukuran telur angsa. Nusa merebus telur itu. Karena isteri dan adiknya tidak mau makan telur itu, Nusa menghabiskannya sendiri, walaupun isteri dan adik iparnya melarangnya makan telur itu.

Tengah malam tiba. Nusa yang sudah terlelap tiba-tiba terbangun karena merasa gatal di seluruh tubuhnya. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah dan sangat gatal. Nusa menggaruk-garuk tubuhnya. Bahkan isteri dan adik iparnya ikut membantu menggaruk, tapi Nusa tetap merasakan gatal tak tertahankan. Adik iparnya pergi mencari bantuan di perkampunga terdekat.
Esoknya, bintik-bintik merah yang memenuhi sekujur tubuh Nusa berubah menjadi sisik-sisik. Tubuh Nusa juga berubah memanjang, seperti seekor naga. Hanya wajah dan dadanya saja yang masih berwujud manusia.

�Isteriku,� kata Nusa. �Telur yang kumakan itu mungkin telur naga. Seharusnya aku mendengar nasihatmu dan tidak memakannya. Tapi menyesalpun tidak ada gunanya. Mungkin sudah takdirku berubah menjadi seperti ini.� Isteri Nusa hanya bisa menangis karena tidak dapat menolong suaminya.
Adik ipar Nusa kembali bersama warga desa yang berniat menolong. Mereka terheran-heran melihat tubuh Nusa sekarang. Mereka juga sedih karena tidak dapat membantu.
Nusa kemudian berpesan, �Malam nanti akan terjadi hujan yang sangat lebat bersama badai. Sungai Rungan akan meluap hingga membanjiri daerah sekitarnya.Kalian semua mengungsilah ke daerah yang aman.�

Nusa mengucapka perpisahan kepada isteri dan adik iparnya. Ia juga berpesan agar isteri dan adik iparnya ikut mengungsi bersama warga. Kemudian ia meminta agar tubuhnya yang sekarang sepanjang tiga kali pohon kelapa digulingkan ke sungai.

Ketika sudah berada di sungai, Nusa berusaha menghindari sinar matahari yang terik dan berenang ke arah muara sungai Kahayan.

Malam harinya turun hujan disertai angin kencang. Petir menyambar-nyambar disertai suara gemuruh. Air sungai Rungan naik dengan cepat hingga terjadi banjir besar. Beruntung, isteri dan adik ipar Nusa dan warga desa sudah mengungsi begitu hujan mulai turun sehingga mereka selamat.
Tubuh Nusa hanyut terbawa banjir hingga tiba di sungai Kahayan. Sebelum mencapai lautan lepas, Nusa menemukan teluk yang dalam. Ia merasa tempat itu cocok sebagai tempat tinggalnya. Apalagi di sana banyak terdapat ikan beraneka jenis.

Karena tubuhnya besar, selera makan Nusa juga sangat besar. Ia makan ikan banyak sekali. Ikan yang hidup di muara itu menjadi cemas. Mereka kemudian berunding agar dapat mencegah Nusa memangsa mereka sampai habis.

Ikan saluang mempunyai rencana yang kemudian disetujui oleh semua ikan. Ikan saluang kemudian diutus untuk menemui Nusa.

�Tuan naga,� kata ikan saluang. �Apakah tuan pernah bertemu dengan naga yang tinggal di laut?�

�Belum pernah,� kata Nusa. �Mengapa kau bertanya begitu�

�Berhati-hatilah, Tuan,� kata ikan saluang �Naga laut itu selalu menantang naga-naga lain, dan ia selalu menjadi pemenangnya.�

�Benarkah?� tanya Nusa. Hatinya geram mendengar cerita ikan saluang. �Apakah naga itu tubuhnya besar? Lebih besar mana dengan diriku?�
Ikan saluang mengamati tubuh Nusa, �Tubuh tuan lebih besar dari dia,� katanya. �Tapi ia sangat cerdik. Sudah banyak naga dari sungai ini dikalahkannya. Ada juga yang mati. Yang masih hidup terpaksa lari ke tempat lain.�

�Di mana naga laut itu?� kata Nusa geram.

�Tadi aku melihatnya berenang ke arah muara sungai ini.�

�Akan kudatangi dia,� kata Nusa.

�Jangan, tuan,� kata ikan saluang. �Lebih baik tuan menunggu di sini, dengan demikan tuan akan dapat menyimpan tenaga sampai naga itu datang.�

�Benar juga,� kata Nusa dalam hati. �Kalau aku pergi ke laut lepas, bisa-bisa aku sudah kehabisan tenaga ketika bertemu dengan naga itu.�

Nusa pun menunggu. Ia berjaga selama berhari-hari. Ia tidak berani tidur karena takut naga laut itu datang ketika ia tidur. Tapi ia tidak dapat terus berjaga, Akhirnya ia mengantuk dan tertidur.
Ketika Nusa sudah pulas tertidur, ikan saluang berteriak di dekat ekor Nusa, �Tuan! Bangunlah! Naga laut itu datang!�

Nusa yang terkejut karena teriakan itu memutar tubuhnya dengan cepat. Akibatnya air sungai bergolak denga hebat. Nusa mengira gerakan air sungai itu karena musuhnya datang. Nusa melihat ekor naga di depannya. Digigitnya ekor naga itu kuat-kuat hingga putus. Nusa sangat kesakitan karena ia menggigit ekornya sendiri sampai putus.

Ikan-ikan sudah bersiap-siap di sekitar Nusa. Ketika mereka melihat Nusa terluka, mereka langsung menyerangnya beramai-ramai. Mereka menggigiti luka Nusa sehingga Nusa tidak berdaya dan kehabisan darah. Akhirnya Nusa tewas.

Jasad Nusa menjadi makanan ikan-ikan hingga tinggal tulang-tulangnya saja. Tulang-tulang itu lambat laun tertimbun lumpur sehingga ditumbuhi pepohonan dan kemudian membentuk sebuah pulau di muara Sungai Kahayan. Warga menyebutnya pulau Nusa.

***

Jika Anda menyukai Cerita Asal Usul Kota Semarang, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).

Baca selengkapnya

Full Asal Usul Kota Semarang

Saat itu di Jawa Tengah berdirilah kerajaan Demak yang merupakan salah satu kerajaan yang bercorak Islam. Hiduplah seorang pangeran yang terkenal bernama Raden Made Pandan. Beliau terkenal sebagai seorang ulama dan seorang bangsawan. Banyak orang yang hormat dan segan terhadap beliau.beliau mempunyai seorang putra yang bernama Raden Pandanarang. Seperti halnya bapaknya Raden Pandanarang ini terkenal sebagai anak yang sopan, ramah, baik hati dan berbakti kepada orang tuanya.

Kemudian Raden Made Pandan mengajak anaknya dan para pengiringnya untuk meninggalkan kesultanan Demak. Mereka pergi kearah barat untuk mencari daerah baru yang akan ditempati. Berhari-hari dalam perjalanan, akhirnya Raden Made Pandan meminta berhenti dan merasa cocok dengan daerah yang dirasa cocok untuk didiami.Hutan itupun dibuka dan didirikan pondok pesantren dan lahan pertanian. Di tempat baru tersebut Raden Made Pandan mengajarkan agama Islam kepada para pengikutnya. Lama kelamaan keberadaan tempat tersebut dan pondok pesantren itu mengundang banyak orang untuk datang menimba ilmu agama di tempat tersebut.

Di tempat inilah Raden Made Pandan merasa senang hati hidup bersama putranya. Beliau berharap sang putra nantinya bisa menggantikanya untuk menjadi guru agama Islam di tempat mereka sekarang.

Sebelum meninggal Raden Made Pandan berpesan kepada putranya Raden Pandanarang agar melanjutkan cita-ita beliau. Raden Pandanarang diminta untuk tidak meninggalkan daerah tersebut. Raden Pandanarang diminta untuk menyebarkan agama Islam di tempat itu serta mengelola tanah pertanian di sekitar derah itu.

Wasiat ayahnya itu benar-benar diperhatikan oleh Raden Pandanarang. Raden Pandanarang menjadi seorang guru agama yang menyampaikan ilmu agama Islam kepada masyarakat sekitar, serta mengelola lahan pertanian. Dari hasil pertanian didapatkan hasil panen bahan pangan yang melimpah. Dengan relatif singkat banyak orang datang untuk belajar ilmu agama Islam.

Suatu hari Raden Pandanarang menggarap lahan pertanian bersama para pengikutnya, tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh. Di antara pohon yang hijau subur itu terdapat beberapa pohon asam yang tumbuh saling berjauhan. Orang-oarang yang melihat hal itu juga heran, mengapa di tanah yang subur itu tumbuh pohon asam yang saling berjauhan?

Demi melihat kejadian itu Raden Pandanarang mengatakan bahwa daerah ini saya beri nama Semarang. Berasal dari kata Asem yang jarang-jarang. Demikianlah asal usul kota Semarang yang kini menjadi kota yang ramai di Jawa Tengah bahkan menjadi ibu kota propinsinya. Karena jasanya membuka dan mendirikan pertama kali kota Semarang, yaitu Raden Pandanarang, maka beliau diangkat langsung sebagai pimpinan serta mendapat gelar Ki Ageng Pandanarang I.

***

Jika Anda menyukai Cerita Asal Usul Kota Semarang, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Cerita Rakyat Putri Serindang Bulan

Cerita rakyat Putri Serindang Bulan berasal dari daerah Bengkulu. Alkisah dahulu kala di Bengkulu hidup tujuh perempuan bersaudara. Mereka merupakan putri Raja Wawang. Dari ketujuh bersaudara, Putri Serindang Bulan merupakan putri paling bungsu. Putri Serindang Bulan juga terkenal paling cantik. Telah banyak laki-laki ingin meminangnya tapi selalu ia tolak dengan alasan tidak ingin melangkahi keenam kakaknya.

Keenam kakaknya sebenarnya berencana menikah setelah Serindang Bulan menikah. Mereka kemudian meminta agar Serindang Bulan Menikah terlebih dahulu.

�Wahai adikku, sudah banyak laki-laki ingin meminangmu. Segeralah menikah. Jangan kuatir, kami semua akan menyusul menikah.� ujar kakak tertua.

�Baiklah kakakku tersayang, Aku akan menikah. Aku berharap kakak semua cepat mendapat jodohnya.� Putri Serindang Bulan menyanggupi.

Raja Wawang kemudian segera menyebarkan berita bahwa putri bungsunya, Serindang Bulan, telah siap untuk menikah. Para pemuda merasa gembira. Tidak lama, seorang Pangeran Tampan datang menemui Raja Wawang untuk melamar Putri Serindang Bulan. Putri Serindang menerima pinangan sang Pangeran Tampan. Kemudian pihak Kerajaan segera menyiapkan pesta pernikahan meriah.

Serindang Bulan Terkena Penyakit Aneh

Tiba-tiba kejadian aneh menimpa Putri Serindang Bulan. Menjelang pernikahan, wajahnya berubah menjadi buruk . badan sang putri juga dipenuhi penyakit kulit.

�Ada apa dengan tubuhmu, wahai Putri? Tubuhmu terkena penyakit kulit.� tanya Sang Pangeran keheranan.

�Aku juga tidak tahu. Saat bangun pagi, tiba-tiba wajahku menjadi buruk, tubuhku dipenuhi penyakit kulit.� ujar Putri Serindang Bulan.

Pangeran menjadi merasa kecewa sehingga memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.

Namun anehnya, setelah Pangeran Tampan tersebut pergi, wajah Serindang Bulan kembali cantik. Tubuh sang putri menjadi sehat seperti sedia kala. Setiap ada laki-laki melamar, maka wajah Serindang Bulan akan berubah menjadi buruk, namun akan kembali cantik apabila pernikahan dibatalkan. Hal ini terus terulang hingga sembilan kali. Pihak keluarga terutama keenam saudarinya merasa malu.

Disingkirkan Oleh Kakak-Kakaknya

ada suatu hari, keenam saudari Serindang Bulan mengadakan rapat rahasia. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa mereka harus menyingkirkan Serindang Bulan karena dianggap sebagai sumber masalah bagi kerajaan. Salah satu dari mereka, yaitu Karang Nio, awalnya menolak untuk menyingkirkan Serindang Bulan. Karang Nio memang paling dekat dengan Serindang Bulan. Namun dengan penolakannya, justru Karang Nio mendapat tugas untuk menyingkirkan Serindang Bulan. Kelima kakaknya meminta bukti berupa setabung darah dan irisan bagian telinga Serindang Bulan, sebagai tanda ia telah menyingkirkannya.

Dengan berat hati, Karang Nio memenuhi permintaan kakak-kakaknya. Pada suatu hari, Karang Nio mengajak Serindang Bulan berjalan-jalan. Awalnya Serindang Bulan tidak curiga namun, lama-kelamaan Serindang Bulan merasa takut karena Karang Nio mengajaknya masuk ke dalam hutan. Karang Nio terlihat sangat gelisah. Akhirnya ia berterus terang kepada Serindang Bulan bahwa ia mendapat tugas untuk menyingkirkannya.

�Kalau memang sudah menjadi keputusan kakak semua, maka lakukanlah tugasmu Kak.� kata Serindang Bulan sedih.

Karang Nio akhirnya memutuskan untuk mengelabui kakak-kakaknya. Ia menyembelih seekor anjing hutan. Darah anjing hutan ia simpan dalam tabung. Kemudian ia melukai kuping Serindang Bulan. Kuping putri serindang akan ia bawa sebagai bukti telah menjalankan tugasnya menyingkirkannya. Karang Nio menyuruh Serindang Bulan pergi menaiki rakit dari sungai Ulau Deus.

Karang Nio segera kembali ke istana. Sesampainya di istana, ia menunjukan bukti setabung darah serta kuping Serindang Bulan pada kakak-kakaknya. Semua kakaknya merasa senang.

Sementara di hutan, Serindang Bulan pergi menaiki rakit di sungai. Ia akhirnya turun di daerah Muara Setahun. Disana, Serindang Bulan memanjat tebing. Di atas tebing, sang putri membuat rumah untuk ia tinggali.

Bertemu Tuanku Raja Alam

Setahun telah berlalu semenjak Serindang Bulan pergi dari istana. Suatu ketika, sebuah perahu milik Raja Indrapura bernama Tuanku Raja Alam melewati Muara Setahun. Sang Raja melihat sinar kemilau dari atas bukit. Karena penasaran, Raja pun menepi kemudian turun dari perahu. Ia kemudian menaiki tebing sumber sinar kemilau tersebut. Setibanya diatas terbing, Raja melihat sebuah rumah. Sang raja mengetuk pintu rumah. Dari rumah tersebut keluarlah Serindang Bulan yang membuat Raja terkejut.

�Wahai gadis jelita, aku tidak menyangka jika cahaya di atas tebing ternyata berasal darimu.� kata Raja.

Setelah berkenalan, putri Serindang Bulan kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya. Cerita Serindang Bulan membuat Raja terharu kemudian mengajaknya untuk tinggal di Kerajaan Indrapura. Serindang Bulan pun menyetujuinya.

Sesampainya di Kerajaan Indrapura, Sang Raja menggelar rapat. Sang Raja menceritakan masalah Serindang Bulan. Raja berkeinginan untuk meminang Serindang Bulan. Para Penghulu Kerajaan mengusulkan untuk melihat situasi selama tiga hari untuk melihat apakah wajah Serindang Bulan akan kembali berubah menjadi buruk. Setelah ditunggu selama tiga hari, ternyata wajah Serindang Bulan tetap cantik. Akhirnya para penghulu menikahkan Raja dengan Serindang Bulan.

Putri Serindang Bulan Kembali Bertemu Keenam Saudarinya

Para Penghulu meminta Raja untuk memberitahu wali Serindang Bulan. Raja kemudian mengirim utusan ke tempat Raja Wawang untuk memberitahu tentang rencara pernikahan Serindang Bulan dengan Raja Alam. Mendengar kabar tersebut, kakak-kakak Serindang Bulan kaget bukan main. Mereka menyalahkan Karang Nio karena dianggap gagal menyingkirkan Serindang Bulan.

�Sudahlah kakak-kakakku. Hentikan pertikaian kita. Sebaiknya mari kita sama-sama pergi menghadiri pernikahan Serindang Bulan.� ujar Karang Nio. Kakak-kakak Karang Nio akhirnya mengiyakan.

Lalu berangkatlah keenam saudari tersebut. Sesampainya mereka di Kerajaan Indrapura, mereka langsung bertemu dengan Tuanku Raja Alam. Keenam saudari meminta mahar berupa emas sebagai syarat menikahi adik mereka, Serindang Bulan.

Raja Alam menyetujui permintaan mahar dari keenam saudari tapi dengan satu syarat, mereka harus mengenali adik mereka sendiri, Serindang Bulan. Jika tidak, maka mereka semua akan dihukum. Raja kemudian menyiapkan enam orang gadis yang didandani dan wajahnya mirip Serindang Bulan. Mereka dihadapkan pada keenam saudari Serindang Bulan. Keenam saudari Serindang Bulan diminta untuk menunjukkan mana Serindang Bulan asli.

Kelima saudari kebingungan karena tidak tahu Serindang Bulan asli. Tapi Karang Nio teringat bahwa ia pernah melukai telinga Serindang Bulan. Dan benarlah, ada satu gadis memiliki bekas luka di telinganya yang berarti dialah Serindang Bulan asli. Akhirnya putri serindang dengan Karang Nio berpelukan sambil menangis melepas rindu.

�Bagus. Berarti kalian masih mengenali Serindang Bulan. Aku akan memenuhi mahar dengan memberikan emas permintaan kalian. Saya anggap tidak ada lagi dendam diantara kalian.� kata Raja.

Akhirnya Tuanku Raja Alam menikahi Serindang Bulan. Sementara Keenam saudari mendapatkan setabung bambu berisi emas. Serindang Bulan sama sekali tidak menyimpan dendam kepada kakak-kakaknya. Meskipun ia telah menikah dan hidup terpisah dari kakak-kakaknya, namun ia masih sering mengirimi mereka hadiah.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Putri Serindang Bulan, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Full Cerita Rakyat Ular Ndaung dan Si Bungsu

Cerita Ular Ndaung berasal dari daerah Bengkulu. Legenda Ular Ndaung menceritakan seorang pangeran yang dikutuk menjadi ular. Namun akhirnya sang pangeran berhasil menghapus kutukan setelah menikahi seorang gadis. Gadis tersebut semula hendak meminta bantuan untuk menyembuhkan ibunya yang tengah sakit. Ulang Ndaung menyanggupi membantunya asal si gadis mau memenuhi syarat untuk menjadi istrinya.

Diceritakan bahwa zaman dahulu hidup seorang ibu beserta ketiga orang anaknya di kaki sebuah gunung di Bengkulu. Kehidupan mereka sangat miskin. Mereka hanya mengandalkan mata pencarian dari sebuah lahan perkebunan sempit.

Cerita Rakyat Ular Ndaung dan Si Bungsu
Pada suatu ketika sang ibu mengalami sakit keras. Hal ini membuat ketiga anaknya menjadi sangat sedih. Para orang pintar di desa menyarankan agar ibu tersebut diobati oleh daun-daun khusus. Daun-daunan tersebut hanya ada di puncak gunung. Daun-daunan tersebut harus direbus oleh bara ajaib yang hanya terdapat di dalam sebuah gua di puncak gunung. Sayangnya, di dalam gua tersebut hidup seekor ular sakti bernama ular N�daung. Menurut para leluhur desa, ular N�daung akan memakan siapa saja yang berada di puncak gunung. Anak-anak ibu tersebut tidak berani pergi ke puncak gunung untuk mengambil bara ajaib kecuali anak bungsu. Si bungsu rela pergi ke puncak gunung demi mengobati ibunya.

�Aku akan pergi ke puncak gunung mengambil bara ajaib untuk mengobati penyakit ibu kita.� kata si bungsu.

�Tapi di puncak gunung hidup ular N�daung sakti adik, nanti kau malah dimakan olehnya.� kata kakak si bungsu.

�Lalu harus bagaimana lagi cara mengobati ibu? aku rela melakukan apa saja demi ibu kita.� kata si bungsu.

�Hati-hatilah kau nak, ular N�daung akan memakan siapapun yang berada di puncak gunung. Kami hanya bisa mendoakanmu.� kata orang pintar di desa tersebut.

Si Bungsu Bertemu Ular Ndaung

Si bungsu segera pergi untuk mengambil bara ajaib di dalam gua di puncak gunung. Sesampainya di puncak gunung, suasana mengerikan mulai terlihat. Di tempat tersebut tumbuh pohon-pohon besar sangat menakutkan. Tiba-tiba saja terdengar suara desis ular sangat mengerikan. Si bungsu ketakutan setengah mati. Si bungsu berusaha bersembunyi di balik pepohonan. Belum sempat ia bersembunyi, ular Ndaung sudah berada tepat di hadapannya. Ular tersebut menatapnya dengan tatapan tajam. Lidahnya menjulur keluar.

�Kau anak manusia berani sekali datang ke puncak gunung. Aku akan memakanmu sekarang.� kata ular N�daung, suaranya mendesis mengerikan.

�Tolonglah wahai ular sakti. Ibuku tengah sakit keras. Aku kemari hendak meminta bara ajaib untuk mengobati ibuku.� si gadis bersimpuh sambil menangis di hadapan ular sakti.

�Jadi engkau mengambil resiko kemari hanya untuk mengobati ibumu?� tanya ular N�daung.

�Benar wahai ular sakti, demi cintaku pada ibuku aku mohon tolonglah kami.� mohon si bungsu.

�Baiklah, aku bersedia memberikan bara sakti padamu, tapi syaratnya engkau harus mau menjadi istriku.� kata ular N�daung.

Si bungsu mengangguk tanda setuju. Ia rela melakukan apa saja demi kesehatan ibunya. Ular N�daung kemudian memberikan bara sakti pada si bungsu.

�Terimakasih ular sakti. Aku akan pulang sebentar untuk memberikan bara sakti kepada keluargaku. Aku akan kembali untuk memenuhi janjiku.� kata si bungsu.

Si bungsu kemudian pulang mengantarkan bara sakti kepada keluarganya. Selanjutnya ia segera kembali ke puncak gunung untuk menikah dengan ular N�daung. Namun sebuah keanehan terjadi. Setelah ular N�daung melakukan pernikahan dengan si gadis bungsu, tiba-tiba saja ular tersebut berubah menjadi seorang pemuda tampan berbadan tegap lagi bersinar. Ternyata ular N�daung sebenarnya adalah Pangeran Abdul Rahman Alamsyah. Sang pangeran ternyata terkena sebuah kutukan.

Sementara di kaki gunung, kedua kakak si bungsu merasa curiga kenapa si bungsu pergi kembali ke puncak gunung setelah mengantar bara. Mereka berdua kemudian menyusul ke puncak gunung karena ingin mengetahui apa yang terjadi.

�Adik kita belum kembali setelah mengantar bara sakti. Mari kita ke puncak gunung untuk mengetahui apa yang terjadi padanya.� kata kakak si bungsu.

Si Bungsu Menikah Dengan Pangeran Abdul Rahman

Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di puncak gunung melihat si adik tengah berduaan dengan seorang pria sangat tampan. Mereka sangat iri melihat adiknya tersebut sehingga timbulah niat jahat untuk memfitnah adiknya. Mereka memasuki gua kemudian membakar kulit ular. Tujuannya agar si pemuda tampan menyangka bahwa si bungsulah pelakunya. Mereka berharap sang pangeran kemudian mengusir si bungsu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, Pangeran Abdul Rahman Alamsyah merasa gembira karena dengan dibakarnya kulit ular tersebut maka kutukannya hilang selamanya. Akhirnya Pangeran tampan bisa hidup bahagia selama-lamanya bersama si bungsu.

***

Jika Anda menyukai Cerita Rakyat Ular Ndaung & Si Bungsu, Anda bisa membagikannya ke Twitter, Facebook, Google+, Pinterest atau ke situs lainnya (tentunya menyertakan link balik ke http://cerita-hikayat-lengkap.blogspot.co.id/).
Baca selengkapnya

Sabtu, 17 Oktober 2015

Full Cerita Rakyat Putri Salju dan Tujuh Kurcaci

Pada pertengahan musim dingin, ketika salju berjatuhan dari langit seperti bulu, seorang ratu duduk menjahit di dekat jendela. Rangka kayu yang digunakan untuk membordir terbuat dari kayu ebony yang hitam pekat. Sambil membordir, sang Ratu menatap salju yang turun dan tanpa sengaja jarinya tertusuk oleh jarum sehingga tiga tetes darahnya jatuh membasahi salju. Saat ia melihat betapa terang warna merahnya, ia berkata kepada dirinya sendiri, "Saya berharap mempunyai anak yang putih seperti salju, merah seperti darah, dan hitam seperti kayu ebony!".

Tidak lama setelah itu, sang Ratu melahirkan seorang putri yang kulitnya putih seputih salju, bibirnya merah semerah darah, dan rambutnya hitam sehitam kayu ebony , dan diberinya nama Putri Salju. Saat sang Putri lahir, sang Ratu pun meninggal dunia.

Setelah setahun berlalu, sang Raja menikah kembali dengan seorang wanita yang sangat cantik, tetapi angkuh dan tidak senang apabila ada yang melebihi kecantikannya. Sang Ratu yang baru memiliki sebuah cermin ajaib, di mana sang Ratu sering berdiri memandang ke dalam cermin dan berkata:

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Dan sang Cermin selalu menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".

Dan sang Ratu pun merasa puas, karena tahu bahwa Cermin ajaibnya tidak pernah berkata bohong.

Putri Salju sekarang tumbuh makin lama makin cantik, dan saat ia dewasa, kecantikannya jauh melebihi kecantikan sang Ratu sendiri. Sehingga suatu hari ketika sang Ratu bertanya kepada cerminnya:

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Sang Cermin menjawab, "Ratu, anda cantik, tetapi Putri Salju lebih cantik dari anda."

1-putri-salju-berlari-diatas-batu-tajam-dan-melewati-duri
Sang Ratu menjadi terkejut dan warna mukanya menjadi kuning lalu hijau oleh rasa cemburu, dan semenjak saat itu, ia berbalik membenci Putri Salju. Semakin lama, rasa cemburunya bertambah besar, hingga dia tidak memiliki kedamaian lagi. Ia lalu memerintahkan seorang pemburu untuk membinasakan Putri Salju.

"Bawalah Putri Salju ke suatu hutan, sehingga saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Kamu harus membinasakannya dan membawa hatinya sebagai bukti kepadaku.

Sang pemburu setuju, membawa Putri Salju ke suatu hutan; akan tetapi saat ia menarik pedangnya, Putri Salju menangis, dan berkata:

"Wahai, pemburu, janganlah membunuhku, saya akan pergi dan masuk ke dalam hutan liar, dan tidak akan kembali lagi."

Pemburu yang menaruh rasa kasihan, berkata:

"Pergilah kalau begitu, putri yang malang;" karena sang Pemburu berpikir bahwa binatang liar di hutan akan memangsa Putri Salju, dan saat ia melepaskan Putri Salju, hatinya menjadi lebih ringan seolah-olah terbebas dari gencetan batu yang berat. Saat itu juga dilihatnya seekor babi hutan berlalu, dan sang Pemburu menangkap babi hutan tersebut lalu mengeluarkan hatinya untuk dibawa ke sang Ratu sebagai bukti.

Putri Salju yang sekarang berada dalam hutan liar, merasa ketakutan yang luar biasa dan tidak tahu harus mengambil tindakan apa saat ketakutan melanda. Kemudian dia mulai berlari, berlari di atas batu-batuan yang tajam dan berlari menembus semak-semak yang berduri, dan binatang liar pun mengerjarnya, tetapi tidak untuk menyakiti Putri Salju. Ia berlari selama kakinya mampu membawa ia pergi, dan saat malam hampir tiba, ia tiba di sebuah rumah kecil. Putri Salju pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Segala sesuatu yang berada di dalam rumah, berukuran sangat kecil, tetapi indah dan bersih. Di rumah tersebut terdapat bangku dan meja yang di alas dengan taplak putih, dan di atasnya terdapat tujuh buah piring, pisau makan, garpu dan cangkir minum. Di dekat dinding, terlihat tujuh ranjang tidur kecil, saling bersebelahan, dan dilapisi dengan seprei putih juga. Putri Salju menjadi sangat lapar dan haus, makan dari tiap-tiap piring sedikit bubur dan roti, dan minum sedikit dari tiap-tiap cangkir, agar ia tidak menghabiskan satu piring saja. Akhirnya Putri Salju merasa lelah dan membaringkan dirinya di satu ranjang, tetapi ranjang tersebut ada yang terlalu pendek, ada yang terlalu panjang, untungnya, ranjang yang ke-tujuh sangat sesuai dengan tinggi badannya; dan ia pun tertidur di tempat tidur tersebut.

Saat malam tiba, pemilik rumah pulang ke rumah dan mereka adalah tujuh orang kurcaci yang pekerjaannya menggali terowongan bawah tanah di pegunungan. Saat mereka menyalakan tujuh lilin yang menerangi seluruh rumah, mereka sadar bahwa ada orang yang telah masuk ke dalam rumah tersebut karena beberapa hal telah berpindah tempat, tidak seperti saat mereka meninggalkan rumah.

Yang pertama berkata, "Siapa yang telah duduk di kursi kecilku?"
Yang kedua berkata, "Siapa yang telah makan dari piring kecilku?"
Yang ketiga berkata, "Siapa yang mengambil roti kecilku?"
Yang keempat berkata, "Siapa yang telah memakan buburku?"
Yang kelima berkata, "Siapa yang telah menggunakan garpuku?"
Yang keenam berkata, "Siapa yang telah memotong dengan pisauku?"
Yang ketujuh berkata, "Siapa yang telah minum dari cangkirku?"

Kemudian yang pertama, melihat ke sekeliling rumah dan melihat tanda-tanda bahwa kasurnya telah ditiduri, berteriak, "Siapa yang telah tidur di ranjangku?"

Dan saat yang lainnya juga datang, mereka berkata, "Seseorang juga telah tidur di tempat tidurku!"

2-tujuh-kurcaci-kagum-akan-kecantikan-putri-salju
Ketika kurcaci yang ketujuh melihat ranjangnya, dia melihat Putri Salju yang tertidur di sana, kemudian dia menyampaikan ke kurcaci lain, yang datang tergesa-gesa untuk melihat Putri Salju, dan dalam keterkejutan mereka, mereka masing-masing mengangkat lilinnya untuk melihat Putri Salju dengan lebih jelas.

"Ya Tuhan! kata mereka, "siapakah putri yang cantik ini?" dan karena mereka gembira melihat Putri Salju, mereka tidak tega untuk membangunkannya. Kurcaci yang ketujuh terpaksa tidur bergantian dengan teman-temannya, setiap satu jam, di tiap-tiap ranjang temannya sampai malam berlalu.

Menjelang pagi, ketika Putri Salju terbangun dan melihat ketujuh kurcaci, Putri Salju menjadi ketakutan, tetapi mereka terlihat bersahabat dan bahkan menanyakan namanya dan bagaimana dia bisa tiba di rumah mereka. Putri Salju pun bercerita bagaimana ibunya berharap agar dia meninggal, bagaimana sang Pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia lari sepanjang hari, hingga tiba ke rumah mereka.

Para kurcaci kemudian berkata, "Jika kamu mau membersihkan rumah, memasak, mencuci, merapihkan tempat tidur, menjahit, dan mengatur semuanya agar tetap rapih dan bersih, kamu bisa tinggal di sini, dan kamu tidak akan kekurangan apapun."

"Saya sangat setuju," katan Putri Salu, dan ia pun tinggal di rumah tersebut sambil mengatur rumah. Pada pagi hari para kurcaci ke gunung untuk menggali emas, pada malam hari saat mereka pulang, mereka telah disiapkan makan malam. Setiap Putri Salju ditinggal sendiri, para kurcaci sering memberi nasehat:

"Berhati-hatilah pada ibu tiri mu, dia akan tahu bahwa kamu ada di sini. Jangan biarkan seorangpun masuk ke dalam rumah."

Ratu yang telah melihat bukti kematian Putri Salju yang berupa hati, yang dibawa oleh pemburu, menjadi tenang, berdiri di depan cermin dan berkata:

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Dan sang Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."

3-ratu-yang-menyamar-menjual-pita-ke-putri-salju
Ratu menjadi terkejut saat mendengarkannya, dan ia akhirnya tahu bahwa sang Pemburu telah menipunya, dan Putri Salju masih hidup. Ia pun berpikir keras untuk menghabisi Putri Salu, karena selama ia bukanlah wanita tercantik diantara semua, rasa cemburunya tidak akan bisa membuat ia bisa beristirahat dengan tenang. Akhirnya ia pun mendapatkan rencana, ia menyamarkan wajahnya dan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh wanita tua agar tidak ada yang bisa mengenalinya. Dalam penyamarannya, ia melalui tujuh gunung hingga akhirnya tiba di rumah milik tujuh kurcaci. Ia pun mengetuk pintu dan berkata:

"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"

Putri Salju mengintip dari jendela dan menjawab:

"Selamat siang, apa yang anda jual?"

"Barang bagus," katanya, "Pita berbagai macam warna" dan dia kemudian menyerahkan sebuah pita yang terbuat dari sutera.

"Saya tidak perlu takut untuk membiarkan wanita tua ini masuk," pikir Putri Salju, lalu ia pun membuka pintu dan membeli pita yang indah.

"Betapa cantiknya kamu, anakku!" kata wanita tua, "kemarilah dan biarkan saya membantu kamu untuk memakaikan pita ini."

Putri Salju yang tidak curiga, berdiri di depannya dan membiarkan wanita tua itu memasangkan pita untuknya, tetapi wanita tua itu dengan cepat mencekik Putri Salju dengan pita hingga Putri Salju jatuh dan seolah-olah meninggal dunia.

"Sekarang saatnya kamu berhenti sebagai wanita tercantik," kata wanita tua sambil berlalu pergi.

Tidak lama setelah itu, menjelang malam, para kurcaci pulang ke rumah, dan mereka semua terkejut melihat Putri Salu terbaring di tanah, tidak bergerak; mereka mengangkatnya dan saat mereka melihat pita yang melilit leher Putri Salju, mereka memotongnya dan saat itu Putri Salju bernapas kembali. Saat kurcaci mendengar cerita dari Putri Salju, mereka berkata,

"Wanita tua yang menjadi penjual keliling, pastilah tidak lain dari ratu yang jahat, kamu harus berhati-hati saat kami tidak berada di sini!"

Ketika ratu yang jahat tiba di rumah dan bertanya kepada sang Cermin:

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."

Saat mendengar jawaban tersebut, ia menjadi terkejut karena tahu bahwa Putri Salju masih hidup.

"Sekarang, saya harus memikirkan cara lain untuk membinasakan Putri Salju." Dan dengan sihirnya, ia membuat sisir yang mengandung racun. Kemudian dia menyamar menjadi seorang perempuan tua yang lain. Lalu pergi menyeberangi tujuh gunung dan datang ke rumah tujuh kurcaci. Ia mengetuk pintu dan berkata,

"Barang bagus untuk dijual! barang bagus untuk dijual!"

Putri Salju melihat keluar dan berkata,

"Pergilah, Saya tidak akan membiarkan siapapun masuk."

"Tapi kamu tidak dilarang untuk melihat-lihat," kata si wanita tua sambil mengeluarkan sisir beracun dan memegangnya. Sisir tersebut sangat menggoda Putri Salju sehingga ia akhirnya membuka pintu dan membeli sisir itu, dan kemudian wanita tua itu berkata:

"Sekarang, rambutmu harus disisir dengan benar."

Putri Salju yang malang tidak berpikir akan adanya mara-bahaya, membiarkan wanita itu menyisir rambutnya, dan tidak lama kemudian, sisir pada racun mulai bekerja dan Putri Salju pun terjatuh tanpa daya.

"Ini adalah akhir bagimu," kata si wanita tua sambil berlalu. Untungnya hari sudah hampir malam dan para kurcaci pulang tidak lama setelah kejadian itu. Saat mereka melihat Putri Salju terbaring di tanah seperti telah meninggal, mereka langsung berpikir bahwa ini adalah perbuatan ibu tiri yang jahat. Secepatnya mereka menarik sisir yang masih melekat di rambut Putri Salju dan saat itupun Putri Salju terbangun, lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Para kurcaci memperingatkan ia untuk lebih berhati-hati lagi dan jangan pernah membiarkan orang masuk.

Saat ratu tiba di rumah, ia berdiri di depan cermin dan berkata,

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Jawabannya sama dengan sebelumnya, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih cantik."

4-putri-salju-jatuh-setelah-memakan-apel
Ketika ratu mendengar ini, ia menjadi gemetar karena marah, "Putri Salju harus mati, walaupun saya juga harus mati!" Lalu ia masuk ke kamar rahasianya dan di sana ia membuat sebuah apel racun. Apel yang cantik dan menggiurkan, berwarna putih dan merah. Siapapun yang melihatnya pasti tergiur dan siapapun yang memakannya walaupun sedikit, akan mati keracunan. Saat apel itu telah siap, ia pun menyamar kembali dan berpakaian seperti wanita petani, lalu ia menyeberangi tujuh gunung di mana tujuh kurcaci tinggal. Dan ketika ia mengetuk pintu, Putri Salju melongokkan kepala melalui jendela dan berkata,

"Saya tidak berani membiarkan siapapun masuk, tujuh kurcaci sudah melarang saya."

"Baiklah," kata si wanita, "Saya hanya ingin memberikan sebuah apel ini kepadamu."

"Tidak," kata Putri Salju, "Saya tidak berani mengambil apapun."

"Apakah kamu takut akan racun?" tanya si wanita, "lihatlah, saya akan membelah apel ini menjadi dua bagian, kamu akan mendapatkan bagian yang berwarna merah, dan saya bagian yang putih."

Apel tersebut dibuat dengan cerdiknya, sehingga bagian yang beracun adalah bagian yang berwarna merah. Putri Salju menjadi tergiur akan kecantikan apel itu, dan ketika ia melihat si wanita petani memakan apel bagiannya, Putri Salju menjadi tidak tahan lagi, ia mengulurkan tangannya keluar dan mengambil bagian apel yang beracun. Tidak lama setelah ia memakan apel tersebut, ia pun terjatuh dan sepertinya meninggal. Sang Ratu jahat, tertawa keras dan berkata,

"Putih seperti salju, merah seperti darah, hitam seperti ebony! kali ini, kurcaci takkan dapat menghidupkan kamu kembali."

Lalu ia pun pulang dan bertanya kepada cerminnya,

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Cermin menjawab, "Anda adalah yang tercantik dari semuanya".

Hati ratu yang tadinya penuh dengan kecemburuan, akhirnya menjadi tenang dan bahagia.

Para kurcaci, saat pulang di malam hari, menemukan Putri Salju terbaring di tanah, dan tak ada nafas lagi yang keluar dari hidungnya. Mereka mengangkatnya, mencari-cari racun yang membunuh Putri Salju, memotong pitanya, menyisir rambutnya, mencucinya dengan air dan anggur, tetapi semua sia-sia, putri malang itu telah meninggal. Mereka akhirnya menaruh Putri Salju dalam sebuah peti, dan mereka semua duduk mengelilinginya, menangisi kematiannya selama tiga hari penuh. Walaupun meninggal, Putri salju terlihat seolah-olah masih hidup dengan pipinya yang merona. Para kurcaci kemudian berkata,

"Kita tidak akan menguburnya di tanah yang gelap." Lalu merekapun membuat peti yang terbuat dari gelas yang bening sehingga mereka dapat melihat Putri Salju dari segala sisi. Putri Salju dibaringkan di peti tersebut, dan di peti itu ditulislah nama Putri Salju dengan tulisan emas, beserta kisah bahwa ia adalah putri seorang raja. Kemudian mereka meletakkan peti itu di atas gunung, dan salah satu dari mereka selalu tinggal untuk mengawasinya. Burung-burung pun datang berkunjung dan turut berduka, yang datang pertama adalah burung hantu, lalu burung gagak, lalu seekor burung merpati.

Untuk beberapa lama, Putri Salju terbaring di peti gelas itu dan tidak pernah berubah, terlihat seolah-olah tidur. Ia masih tetap seputih salju, semerah darah dan rambutnya sehitam ebony. Suatu ketika seorang pangeran lewat di hutan yang menuju ke rumah kurcaci. Saat ia melihat peti di puncak gunung beserta Putri Salju yang cantik di dalamnya, ia menjadi jatuh cinta, dan setelah ia membaca tulisan yang ada pada peti itu. Ia berkata kepada para kurcaci,

"Biarkan saya memiliki peti beserta Putri Salju ini, saya akan memberikan apapun yang kalian minta."

Tetapi kurcaci menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berpisah dengan Putri Salju walaupun dibayar dengan emas yang ada di seluruh dunia. Tetapi sang Pangeran berkata,

"Saya memintanya dengan amat sangat, karena saya tidak akan bisa hidup tanpa melihat Putri Salju; Jika kalian setuju, saya akan serta merta membawa kalian semua dan menganggap kalian seperti saudaraku sendiri."

5-putri-salju-terbangun-saat-apel-beracun-keluar-dari-mulutnya
Saat sang Pangeran berbicara dengan sungguh hati, para kurcaci menjadi iba dan memberikan sang Pangeran peti yang berisikan Putri Salju, dan sang Pangeran pun memanggil pelayan-pelayannya untuk mengangkat peti tersebut ke istana. Di perjalanan, seorang pelayan terantuk pada semak-semak sehingga peti yang diangkatnya menjadi terguncang dan sedikit miring. Saat itulah apel beracun yang ada pada kerongkongan Putri Salju, keluar dari mulutnya. Putri Salju membuka matanya dan membuka penutup peti, turun dan berdiri dalam keadaan sehat-walafiat.

"Oh, dimanakah saya berada?" tanyanya. Sang Pangeran secepatnya menjawab dengan hati riang, "Kamu aman di dekatku," dan menceritakan semua yang terjadi. Sang Pangeran lalu berkata lagi,

"Saya lebih memilih kamu dibandingkan dengan apapun yang ditawarkan oleh dunia; ikutlah bersama saya menuju istana ayahku dan jadilah pengantinku."

Putri Salju yang baik hati, ikut bersama pangeran dan direncanakanlah pesta perkawinan yang meriah untuk mereka berdua.

Ibu tiri Putri Salju juga ikut diundang menghadiri pesta dan saat berhias di cermin, ia pun bertanya pada cermin ajaibnya:

"Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?"

Cermin menjawab, "Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Pengantin yang baru ini seribu kali lebih cantik."

Sang Ratu menjadi marah dan mengutuk karena kecewa, ia hampir saja membatalkan kehadirannya di pesta pernikahan Putri Salju, tetapi rasa penasarannya membuat ia tetap pergi. Saat ia melihat pengantin wanita, ia menjadi terkejut karena pengantin wanita tersebut tidak lain adalah Putri Salju. Kemarahan serta ketakutan bercampur aduk menjadi satu dan saat itu juga, sang Ratu yang jahat tersedak karena marahnya, terjatuh dan meninggal, sedangkan Putri Salju dan pangeran, hidup bahagia selama-lamanya.

sumber: ceritakecil.com
Baca selengkapnya