Kamis, 09 Juni 2011

Kisah SULTAN MAULANA HASANUDIN

Sultan Maulana Hasanuddin berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Banten. Ia mendirikan Kesultanan Banten sekaligus menjadi penguasa pertama di kerajaan Islam tersebut. Bagaimana sepak terjang Sultan Maulana Hasanuddin dalam menyebarkan Islam di Banten? Ikuti kisahnya dalam cerita Sultan Maulana Hasanuddin berikut ini.


Tersebutlah seorang tokoh penyebar agama Islam di Banten bernama Hasanuddin dengan gelar Pangeran Sabakingkin atau Seda Kinkin. Gelar tersebut pemberian dari kakeknya, Prabu Surasowan, yang menjabat sebagai Bupati Banten. Hasanuddin sendiri merupakan putra kedua dari pasangan Nyi Kawung Anten (putri Prabu Surasowan) dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu dari Sembilan Wali (walisongo).
Ketika Prabu Surasowan wafat, kedudukannya sebagai Bupati Banten digantikan oleh putranya bernama Arya Surajaya atau Prabu Pucuk Umum. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Banten Girang (Banten Hulu), yang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, Prabu Pucuk Umum masih menganut agama resmi Kerajaan Pajajaran yaitu agama Hindu.
Pada masa pemerintahan Prabu Pucuk Umum, Syekh Syarif Hidayatullah harus kembali ke Cirebon untuk menggantikan Pangeran Cakrabuana yang telah wafat sebagai Bupati Cirebon. Sementara itu, Pangeran Hasanuddin lebih memilih menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren di Banten. Sejak itulah, ia dikenal sebagai Syekh Maulana Hasanuddin. Ketenarannya pun telah melampaui kharisma pamannya, Prabu Pucuk Umum, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis.
Meskipun menetap di Banten, Syekh Maualana Hasanuddin sering mengunjungi sang Ayah di Cirebon untuk bersilaturrahmi dan meminta petunjuk. Suatu ketika, ia mendapat tugas untuk melanjutkan tugas sang Ayah menyebarkan Islam di daerah Banten.
�Putraku, Hasanuddin! Kini Engkau sudah dewasa. Pengetahuan agamamu pun sudah cukup mumpuni. Saatnya pengetahuan itu kau sebarkan kepada seluruh rakyat Banten,� ujar Syekh Syarif Hidayatullah.
�Baik, Ayah,� jawab Pangeran Hasanuddin seraya berpamitan kembali ke Banten.
Setiba di Banten, Syekh Maulana Hasanuddin melanjutkan misi dakwah ayahnya. Bersama para santrinya, ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya, mulai dari Gunung Pulosari Gunung Karang atau Gunung Lor, hingga ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon.
Dalam upaya penyebaran Islam ke seluruh daerah Banten, Syekh Maulana Hasanuddin tidak jarang mendapat hambatan. Salah satunya datang dari Prabu Pucuk Umum yang bersikukuh ingin mempertahankan ajaran Sunda Wiwitan (Hindu) sebagai agama resmi Kerajaan Pajajaran. Di lain pihak, Syekh Maulana Hasanuddin menginginkan kegiatan dakwah Islam di Banten dapat berjalan lancar.
Maka, Prabu Pucuk Umum menantang Syekh Maulana Hasanuddin untuk berperang, namun bukan duel di antara keduanya, melainkan beradu ayam jago. Hal ini dilakkukan demi menghindari jatuhnya banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.
�Wahai, Mualana Hasanuddin. Jika kamu ingin menyebarkan Islam di daerah Banten, kalahkan dulu ayam jagoku! Jika kamu berhasil memenangkan pertarungan ini, jabatanku sebagai Bupati Banten Girang akan kuserahkan kepadamu. Tapi ingat, jika kamu yang kalah, maka kamu harus menghentikan dakwahmu itu,� kata Prabu Pucuk Umum.
�Baiklah, kalau itu yang Prabu inginkan. Hamba menerima tantangan itu,� jawab Maulana Hasanuddin.
Tempat adu kesaktian ayam jago itu akan dilaksanakan di lereng Gunung Karang karena dianggap sebagai tempat yang netral. Pada hari yang telah ditentukan, kedua pihak pun menuju lereng Gunung Karang. Prabu Pucuk Umum dan Maulana Hasanuddin tidak hanya membawa ayam jago, tetapi juga membawa pasukan bersenjata untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Selain itu, Prabu Pucuk Umum tampak membawa golok yang terselip di pinggang dan tombak di genggamannya. Syekh Maulana Hasanuddin hanya membawa sebilah keris pusaka warisan Wali Songo.
Setiba di arena pertarungan, Prabu Pucuk Umum mengambil tempat di tepi utara arena dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, rambut gondrong sampai leher, dan mengenakan ikat kepala. Sementara itu, Syekh Maulana Hasanuddin tampak berdiri di sisi selatan arena dengan mengenakan jubah dan sorban putih di kepala.
Sebelum pertarungan dimulai, kedua ayam jago dibawa ke tengah arena. Kedua ayam jago tersebut masih berada di dalam kandang anyaman bambu. Ayam jago milik Prabu Pucuk Umum telah diberi ajian otot kawat tulang besi dan di kedua tajinya dipasangi keris berbisa. Sementara ayam milik Maulana Hasanuddin tidak dipasangi senjata apapun, tapi tubuhnya kebal terhadap senjata tajam. Ayam itu telah dimandikan dengan air sumur Masjid Agung Banten. Pada saat ayam itu dimandikan, dibacakan pula ayat-ayat suci Alquran.
Konon, ayam jago milik Maulana Hasanuddin adalah penjelmaan salah seorang pengawal sekaligus penasehatnya yang bernama Syekh Muhammad Saleh. Ia adalah murid Sunan Ampel dan tinggal di Gunung Santri di Bojonegara, Serang. Karena ketinggian ilmunya dan atas kehendak Allah, ia mengubah dirinya menjadi ayam jago.
Di pinggir arena, kedua belah pihak tampak tegang. Syekh Maulana Hasanuddin bersama rombongannya yang terdiri dari para ustadz dan santri larut dalam doa memohon pertolongan dari Allah. Sementara itu, pihak Prabu Pucuk Umum yang terdiri dari ratusan ajar (pendeta) dan punggawa (panglima) juga terlihat komat-kamit membaca mantra.
Dalam suasana tegang, salah seorang Punggawa yang mewakili kedua belah pihak masuk ke tengah arena untuk membacakan pengumuman:
�Yang Mulia Syekh Maulana Hasanuddin dan Prabu Pucuk Umum, perkenankanlah kami membacakan pengumuman sebagai berikut:
Pertama, sebagaimana yang telah disepakati, bahwa apabila Prabu Pucuk Umum kalah, maka pihak Maulauna Hasanuddin akan diberi kebebasan untuk menyebarkan Islam di Banten. Sebaliknya, apabila Prabu Pucuk Umum yang menang, maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan kegiatan dakwahnya di Banten Tengah dan Selatan.
Kedua, pihak yang kalah harus menunjukkan tanda pengakuan dengan menyerahkan senjata kepada pihak yang menang.
Ketika, kepada yang hadir agar dapat menahan diri dan menjaga ketertiban dengan tidak memasuki arena selama pertandingan berlangsung.
Demikian pengumuman ini kami sampaikan.�
Begitu pengumaman selesai dibacakan, gong pun dibunyikan sebagai tanda pertandingan akan dimulai. Kedua ayam jago segera dikeluarkan dari sangkarnya masing-masing. Suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi ramai. Riuh rendah suara penonton pun membahana memberi semangat kepada kedua ayam jago yang akan bertarung.
Di tengah gelanggang, kedua ayam jago saling mendekat. Sesekali keduanya silih berganti berkokok dengan suara menantang. Pada saat berhadap-hadapan dengan jarak sekitar dua meter, keduanya saling menggertak dengan posisi miring sambil berputar-putar membentuk lingkaran. Mata keduanya saling menatap sangat tajam seolah-olah menyimpan dendam.
Selang beberapa saat kemudian, ayam jago Pujuk Umum berhenti lalu mundur setengah meter untuk mengambil ancang-ancang. Dengan kekuatan penuh, ia bergerak maju menyerang sambil mengerahkan tajinya ke arah dada lawannya. Ayam jago Maulana Hasanudian pun menyambut serangan itu. Tak ayal, saat benturan fisik terjadi, keduanya pun terpental ke belakang. Tubuh ayam jago Maulana Hasanuddin tidak mengalami luka sedikit pun.
Pertarungan semakin seru. Kedua ayam jago itu kembali berhadap-hadapan. Ayam jago Pucuk Umum kali ini tampak lebih beringas. Tatapan matanya semakin tajam dan memerah. Sementara ayam jago Maulana Hasanuddin tetap berusaha tenang setelah mendapat serangan pertama. Pertarungan semakin seru, sorak sorai penonton kembali bergemah menyemangati jagonya masing-masing.
�Hidup Prabu Pucuk Umum...! Hidup Syekh Maulana Hasanuddin..!�
Ketika kedua ayam jago itu mulai bertarung lagi, suasana pun kembali mencekam. Dengan gerakan liar, ayam jago Pucuk Umum menyerang lagi dan bermaksud merobek dada musuhnya. Mendapat serangan kedua itu, ayam jago Maulana Hasanuddin berkelit ke kanan dan ke kiri untuk menghindari taji keris berbisa itu. Jago Pucuk Umum pun mulai kehilangan kesabaran. Ia semakin kalap dan menyerang secara membabi buta. Tanpa diduga, tiba-tiba ayam jago Maulana Hasanuddin terbang tinggi ke angkasa. Jago Pucuk Umum pun menyusulnya sehingga terjadilah pertarungan sengit di udara. Semua pandangan penonton tertuju pada kedua ayam jago yang berada di udara.
Tiba-tiba ayam jago Pucuk Umum jatuh terkulai di tanah dan meregang nyawa. Rupanya ayam jago itu terkena tendangan keras ayam jago Maulana Hasanuddin. Para pendudung Pucuk Umum pun menjadi bungkam, sedangkan pendukung Maulana Hasanuddin melompat kegirangan sambil meneriakkan:
�Allahu Akbar! Hidup Maulana Hasanuddin! Hidup Syariat Islam!�
Akhirnya, Syekh Maulana Hasanuddin memenangkan pertandingan adu ayam itu. Prabu Pucuk Umum pun mengaku kalah. Ia kemudian mendekati Maulana Hasanuddin untuk memberi ucapan selamat seraya menyerahkan golok dan tombaknya sebagai tanda pengakuan atas kekalahannya. Penyerahan kedua senjata pusaka juga berarti penyerahan kekuasaannya kepada Maulana Hasanuddin atas Banten Girang.
�Selamat, Maulana Hasanuddin! Sesuai dengan kesepakatan kita, maka kini engkau bebas melakukan dakwah Islam sekaligus menjadi penguasa di Banten Girang,� ujar Prabu Pucuk Umum.
Setelah itu, Prabu Pucuk Umum berpamitan. Ia bersama beberapa pengikutnya kemudian mengungsi ke Banten Selatan, tepatnya di Ujung Kulon atau ujung barat Pulau Jawa. Mereka bermukim di hulu Sungai Ciujung, di sekitar wilayah Gunung Kendeng. Atas perintah Prabu Pucuk Umum, para pengikutnya diharapkan untuk menjaga dan mengelola kawasan yang berhutan lebat itu. Konon, merekalah cikal bakal orang Kanekes yang kini dikenal sebagai suku Baduy.
Sedangkan para pengikut Prabu Pucuk Umum yang terdiri dari pendeta dan punggawa Kerajaan Pajajaran menyatakan masuk Islam di hadapan Syekh Maulana Hasanuddin. Dengan demikian, semakin muluslah jalan bagi Syekh Maulana Hasanuddin dalam menyebarkan dakwah Islam di Banten. Atas keberhasilan tersebut, ia kemudian diangkat oleh Sultan Demak sebagai Bupati Kadipaten Banten. Pusat pemerintahan semula di Banten Girang dipindahkan ke Banten Lor (Surosowan) yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa.
Selanjutnya, karena keberhasilannya memimpin daerah itu dengan membawa kemajuan yang pesat di berbagai bidang, Kadipaten Banten kemudian diubah menjadi negara bagian Demak atau Kesultanan Banten dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultan pertama.
* * *
Demikian cerita Sultan Maulana Hasanuddin dari daerah Banten. Cerita di atas hanyalah sebuah cerita rakyat, bukan cerita yang berdasarkan fakta sejarah. Namun, di balik cerita ini tersimpan pesan-pesan moral yang dapat dipetik, salah satunya adalah bahwa para ulama dahulu menyebarkan agama Islam tidak selalu dilakukan dengan perang yang melibatkan kontak fisik.
Baca selengkapnya

Kisah PUTRI ANAM DAN PUTRI BUSSU

Putri Anam dan Putri Bussu adalah dua orang gadis kakak beradik yang tinggal di sebuah daerah di Kalimantan Barat. Suatu hari, Putri Bussu memperoleh labu berisi emas dari seorang tetangganya. Mengetahui hal itu, Putri Anam juga ingin untuk mendapatkan labu emas seperti adiknya itu. Bagaimanakah kisah selanjutnya? Simak cerita selengkapnya dalam cerita Putri Anam dan Putri Bussu berikut ini.


Alkisah, di suatu tempat di Kalimantan Barat, hiduplah dua gadis kakak beradik. Si sulung bernama Putri Anam, sedangkan adiknya bernama Putri Bussu. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Putri Anam gadis pemalas, serakah, dan tidak sabar, sedangkan Putri Bussu adalah gadis yang rajin, sabar, cerdik, dan luhur budi pekertinya.
Suatu siang yang terik, Putri Bussu sedang duduk di teras rumah sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Tanpa diduga, tiba-tiba kipasnya diterbangkan angin hingga tersangkut di atas pohon jeruk di halaman rumah Pak Rusa�, tetangganya. Maka, cepat-cepatlah ia mengejar kipas itu. Rupanya, kipas itu tersangkut di dahan pohon jeruk yang paling tinggi. Karena ia tidak kuat memanjat, ia pun bermaksud untuk meminta bantuan kepada Pak Rusa�.
�Permisi�! Permisi� Pak Rusa!� teriak Putri Bussu di depan pintu rumah Pak Rusa�.
Tak berapa kemudian, Pak Rusa� pun keluar dari dalam rumahnya.
�Ada apa, Putri Bussu? Ada yang bisa saya bantu?� tanya Pak Rusa� yang baik hati itu.
�Iya, Pak Rusa�. Kipasku tersangkut di atas pohon jeruk itu,� kata Putri Bussu sambil menunjuk ke arah kipasnya, �Bolehkah saya minta tolong diambilkan kipas itu?�
�Tentu, Putri Bussu. Tapi, tolong buatkan aku semangkuk bubur,� pinta Pak Rusa�.
�Baiklah,� jawab Putri Bussu seraya masuk ke dalam rumah Pak Rusa�.
Sementara Putri Bussu membuat bubur, Pak Bissu memanjat pohon jeruk. Lelaki paruh baya itu tidak kesulitan mengambil kipas milik Putri Bussu. Setelah turun dari pohon jeruk, ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menyerahkan kipas itu kepada pemiliknya.
�Terima kasih, Pak Rusa�,� ucap Putri Bussu setelah mendapatkan kembali kipasnya.
Sambil menunggu bubur itu matang, Pak Rusa� duduk-duduk di serambi rumahnya. Tidak lama kemudian, Putri Bussu pun keluar membawakannya semangkuk bubur.
�Ini buburnya, Pak. Silakan dicicipi,� ujar Putri Bussu.
�Terima kasih, Tuan Putri,� ucap Pak Rusa�.
Pak Rusa� tidak langsung menyantap bubur itu karena masih panas. Ia lebih suka menyantap bubur yang sudah dingin. Namun, hingga hari menjelang sore, bubur itu belum juga dimakan. Putri Bussu pun tidak akan kembali ke rumahnya sebelum Pak Rusa� menyantap bubur buatannya. Sambil menunggu dengan sabar, ia pun berbincang-bincang dengan tetangganya itu. Dalam perbincangan itu, Pak Rusa� mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sang Putri.
�Apa yang berbunyi riuh rendah itu, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Itu orang sedang menumbuk emping,� jawab Putri Bussu.
�Apa yang dikipas-kipas, Tuan Putri?� tanyanya lagi.
�Orang sedang menyapu lantai di siang hari,� jawab sang Putri.
�Apa yang terang benderang, Tuan Putri?� Pak Rusa� kembali bertanya.
�Bintang timur merupakan tanda hari akan siang,� jawab Putri Bussu.
�Apa yang bergoyang-goyang, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Daun simpur ditiup angin,� jawab sang Putri.
�Apa yang bergerak-gerak, Tuan Putri?� tanyanya lagi.
�Kayu besar hanyut dari hulu,� jawab Putri Bussu.
�Buburnya sudah matang belum, Tuan Putri?� tanya Pak Rusa�.
�Sudah sejak tadi, Pak Rusa�. Bahkan, buburnya sudah dingin,� jawab Putri Bussu.
Rupanya, Pak Rusa� lupa pada buburnya karena keasyikan mengobrol dengan Putri Bussu. Karena bubur itu sudah dingin, ia pun segera menyantapnya hingga habis.
�Terima kasih, Tuan Putri. Masakan buburmu enak sekali,� ucap Pak Rusa�, �Jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah sebutir buah labu di dapur.�
�Terima kasih, Pak Rusa�,� jawab Putri Bussu seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa�.
Rupanya, di bawah dapur Pak Rusa� terdapat banyak labu dengan ukuran yang berbeda-beda. Karena tidak mau serakah, ia pun mengambil labu yang ukurannya paling kecil. Setelah itu, ia pun berpamitan. Sebelum ia pergi, Pak Rusa� berpesan kepadanya.
�Setelah Tuan Putri sampai di rumah, tutup dulu pintu dan jendela rumah Tuan Putri, lalu masuklah ke dalam kelambu. Setelah itu, baru Tuan Putri membelah labu itu,� pesan Pak Rusa�.
Sesampainya di rumahnya, Putri Bussu menuruti nasehat Pak Rusa�. Alangkah terkejutnya ia setelah membelah labu itu. Ternyata, labu itu berisi emas.
�Oh, Pak Rusa�, terima kasih atas kebaikanmu,� gumam Putri Bussu dengan perasaan gembira.
Sementara itu, Putri Anam yang curiga melihat adiknya masuk ke dalam kelambu di siang bolong segera menghampirinya.
�Hai, Bussu, apa yang kamu lakukan di dalam kelambu?� tanya Putri Anam.
Putri Bussu pun menceritakan perihal labu emas yang diperolehnya dari Pak Rusa�. Mengetahui hal itu, Putri Anam pun berkeinginan untuk memiliki labu seperti milik adiknya.
�Bagaimana caranya kamu mendapatkan labu emas itu dari Pak Rusa?� tanya Putri Anam.
Putri Bussu menjawab jujur dengan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga mendapatkan labu emas itu. Setelah mendengar cerita itu, sang Kakak segera melakukan hal yang sama seperti adiknya. Ia sengaja menerbangkan kipas ke rumah Pak Rusa�. Setelah ia ke rumah Pak Rusa�, lelaki paruh baya itu pun menyuruhnya untuk membuat bubur. Putri Anam segera melaksanakan permintaan itu.
Setelah matang, Putri Anam segera menyajikan bubur itu kepada Pak Rusa�. Seperti biasa, Pak Rusa� itu tidak suka menyantap bubur panas. Maka, ia pun menunggu bubur itu dingin dulu. Namun, karena tidak sabar ingin segera mendapatkan labu emas itu, Putri Anam berbohong kepada Pak Rusa�.
�Silakan dimakan, Pak Rusa�. Buburnya sudah dingin,� kata Putri Anam.
Pak Rusa� pun segera menyantap bubur itu. Pada saat ia memakannya, ternyata bubur itu masih panas. Tak ayal, mulut Pak Rusa� pun terasa terbakar. Bubur yang ada di mulutnya segera dimuntahkan.
�Bubur ini masih panas sekali, Tuan Putri,� tukas Pak Rusa� dengan kesal.
Meskipun Putri Anam berbohong, Pak Rusa� tetap akan memberikan labu emas kepadanya. Maka, Pak Rusa� pun mempersilahkan Putri Anam untuk memilih salah satu labu yang ada di bawah dapurnya.
�Nanti jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah salah satu labu di bawah dapur,� ujar Pak Rusa�.
�Baik, Pak Rusa�,� jawab Putri Anam seraya masuk ke ruang dapur Pak Rusa�.
Ketika sampai di ruang dapur itu, dilihatnya banyak labu. Karena keserakahannya, ia pun memilih labu yang paling besar dan berat.
�Sebaiknya saya pilih labu yang besar ini saja. Pasti emasnya juga banyak,� gumam Putri Anam.
Setelah mengambil labu yang paling besar itu, Putri Anam pun berpamitan. Pak Rusa� tak lupa berpesan kepadanya seperti pesannya kepada Putri Bussu. Setiba di rumahnya, ia pun segera menutup pintu dan jendela rumah serta kelambunya, lalu membelah labu itu. Alangkah terkejutnya ia setelah labu itu terbelah. Labu itu ternyata bukan berisi emas, melainkan puluhan binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lipan. Tak ayal, putri yang serakah itu pun menjerit-jerit ketakutan. Ketika ia hendak melarikan diri, puluhan binatang buas tersebut telah menggigitnya. Ia pun mengerang-ngerang kesakitan.
* * *
Demikian cerita Putri Anam dan Putri Bussu dari Kalimantan Barat. Pesan moral yang dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka berbohong, serakah, dan tidak memiliki sifat sabar akan menanggung akibatnya seperti halnya Putri Anam. Sebaliknya, orang yang baik hati, jujur, dan tidak serakah seperti Putri Bussu akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah yang melimpah.
Baca selengkapnya

Kisah ASAL MULA DESA TRUNYAN, KEDISAN DAN ABANG DUKUH

Desa Trunyan, Desa Kedisan, dan Desa Abang Dukuh merupakan desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Keberadaan nama ketiga desa tersebut terkait dengan pengembaraan empat orang putra Raja Surakarta ke Bali untuk mencari bau harum yang menyengat. Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Desa Trunyan, Kedisan, dan Abang Dukuh.


Alkisah, Raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta mempunyai empat orang anak, tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang paling bungsu. Suatu hari, tiba-tiba mereka mencium bau harum yang sangat menyengat.
�Hai, bau harum apa itu?� tanya Pangeran Sulung, �Apakah kalian menciumnya juga?
�Iya, Kanda. Bau harum itu amat menyengat,� jawab ketiga adiknya serentak.
Keempat bersaudara itu pun mencari sumber bau harum yang menyengat tersebut.
�Sepertinya bau harum itu berasal dari arah timur, Kanda,� ujar si Putri Bungsu.
�Iya, kamu benar, Adikku,� Kakak sulungnya mengiyakan.
Keempat bersaudara itu amat penasaran dan tertarik pada bau harum itu. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk mencari sumbernya. Setelah menyiapkan segala keperluan dan mendapat izin dari sang Ayah, mereka pun mengadakan perjalanan menuju ke arah timur. Semakin jauh mereka ke timur, bau harum itu kian menyengat.
Setelah berbulan-bulan berjalan dengan menyusuri hutan lebat, menyeberangi sungai, dan Selat Bali, akhirnya mereka tiba di Pulau Bali. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga ke perbatasan Pulau Bali di sebelah timur, yaitu perbatasan antara Desa Ciluk Karangasem dan Tepi yang terletak di dekat Buleleng. Setiba di kaki Gunung Batur sebelah selatan, si Putri Bungsu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
�Ada, adinda? Mengapa berhenti?� tanya Pangeran Sulung.
�Adinda tertarik pada tempat ini, Kanda. Jika diperkenankan, izinkanlah Adinda tinggal di tempat ini,� pinta si Putri Bungsu.
Permintaan Putri Bungsu pun disetejui oleh ketiga kakaknya. Sejak itulah, Putri Bungsu dari Kerajaan Surakarta itu berdiam di tempat tersebut. Namun, ia kemudian pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, tempat Pura Batur berdiri. Selanjutnya, sang Putri diberi gelar Ratu Ayu Mas Maketeg.
Sementara itu, ketiga kakak Putri Bungsu kembali melanjutkan perjalanan. Saat tiba di suatu dataran bernama Kedisan yang terletak di sebelah barat daya Danau Batur, mereka mendengar suara burung yang amat merdu. Saking senangnya, Pangeran Ketiga berteriak kegirangan. Namun, Pangeran Sulung tidak senang mendengar kelakuan adiknya itu.
�Hai, Adikku! Jika kamu senang dengan tempat ini, maka tinggallah kamu di sini,� seru Pangeran Sulung.
�Tidak, Kanda. Adik mau ikut kalian,� tolak sang Adik.
Akan tetapi, Pangeran Sulung sudah terlanjur murka. Maka, ia pun menendang adiknya hingga terjatuh dalam keadaan posisi duduk bersila dan berubah menjadi patung. Hingga saat ini, patung batu Bathara (Dewa) itu itu masih dapat kita temukan di Kedisan dengan posisi duduk bersila. Patung Bathara yang merupakan penjelmaan Pangeran Ketiga Raja Solo itu diberi gelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero dan kini sedang bersemayam (melinggih) di Meru Tumpang Pitu atau bangunan suci dalam pura yang beratap tujuh tingkat di Pura Dalam Pingit, di Desa Kedisan.
Tinggal dua orang pangeran yang tersisa dalam perjalanan itu, yaitu Pangeran Sulung dan Pangeran Kedua. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepi Danau Batur sebelah timur. Ketika sampai di sebuah dataran, mereka bertemu dua gadis cantik. Oleh karena tertarik pada gadis-gadis itu, Pangeran Kedua pun menyapa mereka. Namun, Pangeran Sulung tidak menyukai tindakan adiknya itu.
�Hai, Adikku! Jika kamu senang pada gadis itu, tinggallah kamu di sini!� seru Pangeran Sulung.
�Tidak, Kanda. Dinda ingin bersama Kanda,� jawab Pangeran Kedua.
Sekal lagi, Pangeran Sulung sudah terlanjur naik pitam kepada adiknya. Pangeran Sulung kemudian menyepak adiknya hingga jatuh dalam keadaan tertelungkup. Konon, Pangeran Kedua itu kemudian menjadi kepala desa dan desa itu dinamakan Desa Abang Dukuh. Disebut Abang karena tempat itu merupakan bagian dari Desa Abang, dan dinamakan dukuh karena berasal dari kata telungkup yang dalam bahasa setempat disebut dengan istilah dukuh.
Pangeran Sulung melanjutkan perjalanan seorang diri untuk mencari sumber bau harum itu. Ia kembali menyusuri pinggir Danau Batur yang curam di sebelah timur. Setiba di sebuah dataran, ia mendapati seorang dewi yang cantik jelita sedang duduk sendirian di bawah pohon Taru Menyan. Pangeran Sulung rupanya amat terpesona pada kecantikan sang Dewi dan berniat untuk melamarnya. Ketika ia menghampiri dewi itu, bau harum yang berasal dari pohon Taru Menyan itu semakin menusuk hidungnya.
�Oh, rupanya pohon inilah sumber bau harum itu,� gumam Pangeran Sulung.
Pangeran Sulung pun semakin mantap untuk melamar dewi itu. Lamaran itu ia sampaikan kepada kakak sang Dewi.
�Baiklah. Engkau boleh menjadi suami adikku, tapi dengan satu syarat,� kata kakak sang Dewi.
�Apakah syarat itu?� tanya Pangeran Sulung ingin tahu.
�Engkau harus menjadi pancer jagat (pasak dunia) atau pemimpin desa, � kata kakak si Dewi.
�Baiklah, syarat itu saya terima,� kata Pangeran Sulung.
Akhirnya, pesta perkawinan Pangeran Sulung dan sang Dewi dilangsungkan dengan meriah. Setelah itu, Pangeran Sulung dinobatkan sebagai pemimpin desa yang dikenal dengan nama Desa Trunyan. Nama desa itu diambil dari nama pohon Taru Menyan. Taru berarti pohon dan menyan berarti harum.
Kemudian, setelah menjadi suami sang Dewi, Pangeran Sulung diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat, sedangkan istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Ratu Sakti Pancering Jagat kemudian menjadi dewa tertinggi orang Trunyan, sedangkan istrinya menjadi Dewi Danau Batur yang hingga kini dipercaya sebagai penguasa danau tersebut.
Sejak itulah, Ratu Sakti Pancering Jagat dibantu sang istri memimpin Desa Trunyan dengan arif dan bijaksana. Lama-kelamaan, desa itu pun berkembang menjadi kerajaan kecil. Sebagai raja yang arif dan bijaksana, Ratu Sakti Pancering Jagat menginginkan negeri dan seluruh rakyatnya hidup aman dan tenteram serta terhindar dari serangan luar. Oleh karena itulah, ia pun memerintahkan seluruh rakyat untuk menghilangkan bau semerbak itu.
�Wahai, seluruh rakyatku! Aku perintahkan kalian agar jenazah-jenazah orang Trunyan tidak lagi dikuburkan, tetapi biarkan saja membusuk di bawah pohon Taru Menyan sehingga bau harum itu tidak akan lagi mengundang kedatangan orang luar ke negeri ini!� titah Ratu Sakti Pencering Jagat.
Sejak itulah, setiap ada penduduk Trunyan yang meninggal, jenazah mereka hanya dibiarkan membusuk di atas tanah. Karena bau busuk itulah, Desa Trunyan tidak lagi mengeluarkan bau harum. Demikian pulah sebaliknya, jenazah-jenazah penduduk Trunyan itu juga tidak mengeluarkan bau busuk. Bau harum dan bau busuk tersebut telah saling menetralisir. 

Demikian cerita Asal Mula Desa Trunyan, Kedisan, dan Abang Dukuh, dari Bali. Cerita ini masih dipercayai oleh masyarakat Trunyan sehingga dalam upacara kematian, jenazah orang yang meninggal akan diletakkan di bawah Taru Menyan atau biasa disebut dengan istilah mepasah. Jenazah yang dimakamkan dengan cara ini hanya orang-orang yang matinya secara normal atau tidak mempunyai kesalahan, dalam artian mati bukan karena kecelakaan atau dibunuh.
Mepasah hanya berlaku bagi mayat yang telah berumah tangga, bujangan, dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal. Untuk pemakaman jenazah bayi (sema muda) dan pemakaman orang yang mempunyai kesalahan (sema bantas) dikuburkan di lokasi yang agak jauh dari desa. 

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hendaknya kita berbuat kasar kepada saudara sendiri seperti halnya Pangeran Sulung. Akibat kemurkaannya, kedua adiknya pun berubah menjadi patung.
Baca selengkapnya

Kisah ASAL MULA MAKAM IMOGIRI

Makam Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kompleks Makam Imogiri terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Konon, Sultan Agung sudah mempersiapkan makam tersebut sebelum dirinya wafat. Bagaimana kisahnya? Simak selengkapnya dalam cerita Asal Mula Makam Imogiri berikut ini.


Di Kerajaan Mataram Islam, tersebutlah raja bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Ia merupakan raja ke-3 Kerajaan Mataram Islam yang terkenal arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Mataram senantiasa hidup aman, tenteram, dan makmur. Itulah sebabnya, ia sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.
Selain kharismatik, Sultan Agung memiliki kesaktian yang tinggi. Konon, ia mampu ke Mekah secara gaib untuk Shalat Jumat di sana. Karena seringnya ke Mekah, Sultan Agung kenal baik dengan beberapa ulama di sana, baik ulama Arab maupun ulama dari Indonesia yang sedang berada di Mekah. Dari perkenalan itu, mereka pun kemudian menjalin persahabatan dan Sultan Agung sering diajak oleh para sahabatnya untuk berkeliling kota Mekah dan sekitarnya.
Suatu waktu, ketika sedang berjalan-jalan bersama seorang ulama, Sultan Agung sampai pada suatu tempat yang tanahnya berbau harum. Ia amat tertarik pada tempat itu. Maka, timbullah keinginannya agar dimakamkan di tempat itu jika wafat kelak. Niat itu kemudian ia sampaikan kepada sahabatnya. Namun, ulama itu melarangnya.
�Jangan, Sultan!� cegah ulama itu.
�Kenapa, Kyai?� tanya Sultan Agung penasaran.
�Bukankah Sultan tahu sendiri bahwa seluruh rakyat Mataram amat mencintai Sultan. Jika Tuanku dimakamkan di Mekah, tentu mereka tidak bisa mengunjungi makam raja mereka,� ujar ulama itu.
Nasehat ulama itu memang masuk akal. Namun, Sultan Agung tetap bersikeras ingin dimakamkan di tempat tersebut. Melihat sikap Raja Mataram itu, sang Ulama pun mengambil segenggam tanah yang harum itu.
�Ampun, Tuanku! Bawalah tanah ini ke negeri Tuan. Sesampai di sana, lemparkanlah tanah ini ke selatan. Niscaya tempat jatuhnya tanah itu juga akan berbau harum dan di tempat itulah Tuanku akan dimakamkan,� ujar ulama itu.
Sultan Agung pun menerima tanah itu dengan senang hati. Sekembalinya dari Mekah, ia mengambil separuh tanah itu lalu dilemparkan ke arah selatan. Tanah itu jatuh di Bukit Giriloyo, di daerah Bantul. Sultan Agung kemudian memerintahkan abdi dalem (pegawai keraton) untuk membuat makam yang dipersiapkan untuk dirinya.
�Pergilah ke Bukit Giriloyo dan bangunlah sebuah makam untukku,� titah Sultan Agung.
Sendiko dawuh (siap laksanakan), Gusti Prabu,� jawab para abdi dalem.
Sultan Agung mengerahkan seluruh ribuan abdi dalem istana untuk membangun makam tersebut. Rupanya, pembangunan makam itu bukan sekadar menggali lubang, melainkan sebuah kompleks. Itulah sebabnya, pembangunan makam tersebut melibatkan ribuan orang. Untuk mengangkut batu bata dari keraton yang terletak di daerah Pleret ke Bukit Giriloyo, para abdi dalem merantingnya satu per satu dengan cara duduk bersila agar tidak rusak.
Paman Sultan Agung, Gusti Pangeran Juminah, ikut membantu mengawasi jalannya pembangunan makam. Namun, saat itu ia jatuh sakit. Bersamaan dengan pembangunan makam itu selesai, ia pun meninggal dunia. Maka, sang Paman dimakamkan di kompleks makam yang baru selesai dibangun itu. Oleh karena makam tersebut sudah digunakan untuk pamannya, Sultan Agung tidak ingin dimakamkan di tempat itu. Maka, ia pun berkata kepada abdi dalem istana.
�Kelak jika aku wafat, aku ingin pertama kali dimakamkan di pemakaman yang baru dibangun,� ungkapnya, �Selain itu, makam ini terlalu sempit untukku dan keluargaku kelak.�
Setelah pemakaman pamannya selesai, Sultan Agung kembali ke istana. Ia segera mengambil sisa tanah yang berbau harum dari Mekah itu lalu dilemparkannya ke arah selatan. Tanah itu pun jatuh di Bukit Merak, yang masuk ke dalam wilayah Desa Pajimatan, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Itulah sebabnya, Makam Imogiri juga dikenal dengan Makam Pajimatan.
Sultan Agung pun kembali memerintahkan para abdi dalem istana untuk membangun makam yang baru di tempat itu. Ia menginginkan agar makam itu dibangun menjadi beberapa bagian karena makam itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Maka, dibangunlah sebuah makam pada bagian tengah paling atas Bukit Merak. Makam itu kelak akan menjadi makam Sultan Agung. Kemudian, di sekitar makam itu, dibangun pula beberapa makam yang akan digunakan oleh para keluarga sang Sultan.
Singkat cerita, Sultan Agung wafat pada tanggal 6 April 1964. Ia pun dimakamkan di tempat itu yang kemudian menjadi induk makam dan disebut Kasultanangungan. Setelah itu, makam tersebut kemudian menjadi pemakaman seluruh keluarga sang Sultan dan Raja-raja Mataram setelahnya.
Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Makam Imogiri ini menjadi sebuah komplek makam yang luasnya mencapai 10 hektar. Di kompleks inilah sebagian besar Raja-raja Mataram Islam hingga pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dimakamkan. Kompleks makam ini pun dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian sebelah barat dipergunakan sebagai makam Raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan bagian sebelar timur dipergunakan untuk makam Raja-raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 


Demikian cerita Asal Mula Makam Imogiri dari daerah Bantul, Yogyakarta. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa raja yang arif dan bijaksana seperti Sultan Agung akan selalu dicintai dan dikenang oleh rakyatnya hingga akhir zaman. Sampai saat ini, makam Sultan Agung yang berada di kompleks Makam Imogiri selalu ramai dikunjungi oleh peziarah.
Baca selengkapnya

Kisah SI GULAP YANG SABAR

Si Gulap adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang tinggal di sebuah desa di daerah Bengkulu. Suatu ketika, si Gulap dan keenam saudaranya bergantian melamar seorang putri raja karena mereka ingin hidup sejahtera. Namun, lamaran si Sulung hingga saudara yang keenam ditolak karena tidak mampu memenuhi syarat yang diajukan oleh sang Raja. Bagaimana dengan si Gulap? Berhasilkah ia menikahi putri raja itu? Simak kisahnya dalam cerita Si Gulap yang Sabar berikut ini.



Dahulu, di daerah Lampung, hiduplah seorang janda bersama tujuh orang anak laki-lakinya. Anak sulungnya bernama Umar, sedangkan anak bungsunya bernama si Gulap. Sehari-hari keluarga janda itu bekerja di ladang dengan menanam singkong dan sayur-sayuran. Hasilnya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena ladang yang mereka miliki sangat sempit. Keadaan tersebut membuat Umar sering duduk termenung seorang diri. Hatinya gundah gulana memikirkan nasib ibu dan adik-adiknya.
Suatu hari, sepulang dari ladang, Umar duduk menyendiri di bawah pohon di samping rumah.
�Ya, Tuhan. Apakah hidup kami akan terus kekurangan begini?� keluh Umar.
Baru saja Umar selesai bergumam, tiba-tiba ibunya datang menghampiri.
�Umar, anakku. Ibu lihat akhir-akhir ini kamu sering termenung. Ada apa, Nak?� tanya ibunya.
�Umar sedih melihat Ibu dan adik-adik,� jawab Umar, �Umar ingin mengubah nasib kita, Bu.�
�Lalu, apa rencanamu, Anakku?� tanya ibunya.
Umar tidak langsung menjawab pertanyaan perempuan yang telah melahirkannya itu. Sejenak, ia menghela nafas panjang.
�Umar juga masih bingung, Bu. Tapi, Umar harus mencari akal untuk bisa memperbaiki nasib keluarga kita,� kata Umar.
�Baiklah, Anakku. Tapi, jangan sampai memikirkan hal itu lalu kamu lupa makan dan istirahat,� pesan ibunya seraya beranjak dari tempat itu.
�Iya, Bu,� jawab Umar.
Hari sudah sore, Umar masih saja duduk termenung. Ia masih berpikir bagaimana cara bisa mensejahterakan keluarganya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.
�Hmmm� Jika aku bisa menikahi putri raja yang kaya raya itu, nasib keluargaku pasti akan membaik,� gumamnya, �Ya, hanya itu satu-satu jalan yang dapat kulakukan.�
Rupanya, Umar benar-benar berniat ingin melamar putri sang Raja. Malam harinya, ia pun menyampaikan niat itu kepada ibunya.
�Bu, tolong lamarkan sang Putri untukku,� pinta Umar.
Ibunya yang sedang menganyam tikar tersentak mendengar permintaan Umar.
�Sadarkah kamu dengan perkataanmu itu, Anakku?� tanya ibunya dengan terkejut, �Kita ini orang miskin, tidak pantas meminang seorang putri.�
�Umar menyadari itu, Bu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita mencobanya dulu,� jawab Umar.
Meskipun sang Ibu berkali-kali menasehatinya, Umar tetap bersikeras ingin melamar putri raja. Maka dengan berat hati, sang Ibu pun memberanikan diri menghadap sang Raja pada esok harinya. Setiba di istana, perempuan paruh baya itu memberikan sembah hormat kepada sang Raja.
�Mohon ampun Baginda atas kelancangan hamba. Hamba datang menghadap untuk menyampaikan lamaran Umar anak hamba,� lapor ibu Umar.
Sang Raja tahu jika Umar yang akan menjadi menantunya itu berasal dari rakyat biasa. Sebagai seorang raja, tentu ia tidak ingin kewibawaan keluarga kerajaan tercoreng karena memiliki menantu dari kalangan orang biasa. Untuk itulah, ia harus memberikan syarat kepada Umar sebelum menerima lamarannya.
�Baiklah, lamaran Umar aku terima tapi dengan satu syarat,� kata sang Raja.
�Ampun, Baginda. Apakah syarat itu?� tanya ibu Umar.
�Sebelum pernikahan ini dilangsungkan, Umar harus tinggal di istana dalam waktu beberapa hari untuk mengikuti beberapa ujian. Selama tinggal di istana, ia tidak boleh marah sekali saja dengan tugas apa pun yang kuberikan. Jika ia melanggarnya, maka ia akan kujual sebagai budak ke negeri lain. Sebaliknya, jika aku yang marah karena perbuatan Umar, maka akulah yang harus dijual sebagai budak,� jelas sang Raja.
�Baik, Baginda. Syarat ini akan hamba sampaikan kepada anak hamba,� kata ibu Umar seraya mohon diri.
Setiba di rumah, janda itu pun menyampaikan syarat sang Raja kepada Umar. Maka, hari itu juga Umar berangkat ke istana. Setiba di sana, sang Raja pun langsung memberinya tugas.
�Hai, Umar. Aku perintahkan kamu membajak sawahku yang luas itu!� titah sang Raja.
�Baik, Baginda Raja,� jawab Umar.
Umar pun mulai membajak sawah sang Raja. Ketika hari menjelang siang, ia kembali ke istana dengan keadaan haus dan lapar. Namun, setiba di istana, ia tidak diberi minum dan makan sedikit pun oleh sang Raja. Rupanya, Umar tidak tahan dengan perlakuan itu sehingga ia pun menjadi marah.
�Ampun, Baginda. Kenapa hamba tidak diberi makan dan minum? Padahal, hamba sudah bekerja keras membajak sawah Baginda,� kata Umar dengan perasaan kesal di hadapan sang Raja.
�Apakah kamu marah, Umar?� tanya sang Raja.
�Ampun, Baginda. Siapa yang tidak marah jika diperlakukan seperti ini?� jawab Umar.
Mendengar jawab itu, sang Raja pun menyatakan bahwa Umar telah melanggar janji. Ia pun tidak boleh memperistri putri raja. Sialnya lagi, ia dijual sebagai budak ke luar negeri. Ibu dan adik-adik Umar yang mengetahui kabar tersebut menjadi sedih. Namun, hal itu tidak membuat adik-adik Umar berputus asa. Mereka pun mencoba untuk melamar sang Putri. Ketika anak kedua janda itu melamar sang Putri, ternyata dia juga gagal melalui ujian sehingga dijual sebagai budak ke luar negeri. Begitu pula anak ketiga hingga anak keenam janda itu mengalami nasib yang sama.
Kini, tinggal si Gulap yang menemani ibunya. Ketika ia berniat untuk melamar Putri raja, sang Ibu melarangnya.
�Jangan, Nak! Tinggal kamulah satu-satunya milik Ibu di dunia ini. Ibu tidak ingin kamu mengalami nasib sama seperti kakak-kakakmu. Lagi pula, Ibu sangat malu kepada Raja,� ujar sang Ibu.
�Tidak, Bu. Gulap tidak akan mengecewakan Ibu. Izinkanlah Gulap untuk mencobanya,� pinta Gulap.
Sang Ibu pun tidak bisa menolak keinginan putra bungsunya. Maka, ia terpaksa menghadap sang Raja lagi. Sang Raja pun bersedia menerima lamaran Gulap. Seperti keenam kakaknya, Gulap pun tinggal di istana. Ketika diperintahkan membajak sawah sang Raja yang luas itu, ia bekerja dengan tekun tanpa mengenal lelah. Meskipun tidak diberi makanan dan minuman, Gulap tetap bersabar menahan rasa lapar. Untuk melepas rasa dahaga, sekali-kali ia meminum air sawah. Akhirnya, pekerjaannya pun selesai saat hari mulai senja. Dengan rasa capai yang begitu berat, Gulap pulang ke istana.
�Hai, Gulap. Kenapa baru pulang? Apakah kamu tidak merasa haus dan lapar?� tanya sang Raja.
�Ampun, Baginda. Sebenarnya hamba sangat lapar, tapi ada orang yang mengirimi hamba makanan,� jawab Gulap dengan tenang.
�Apakah kamu marah, Gulap?� tanya sang Raja.
�Tidak, Baginda,� jawab Gulap singkat.
�Tapi, kenapa wajahmu merah seperti itu?� tanya sang Raja lagi.
�Ampun, Baginda. Wajah hamba merah begini karena terkena terik matahari,� jawab Gulap.
Sang Raja tersenyum lebar. Ia amat puas melihat atas keberhasilan Gulap melalui ujian itu. Namun, hal itu bukan berarti Gulap sudah boleh menikah dengan sang Putri. Masih ada ujian lain yang harus dilaluinya. Keesokan hari, ia diajak oleh sang Raja ke kebun tebu yang amat luas miliknya sang Raja.
�Gulap, bersihkan dan buanglah daun-daun tebu itu!� titah sang Raja.
�Baik, Baginda,� jawab Gulap.
Setelah sang Raja kembali ke istana, Gulap pun mulai bekerja. Namun, baru beberapa batang pohon tebu ia bersihkan tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya.
�Wah, kalau begini terus keadaannya, lama-lama kesabaranku bisa hilang,� gumam Gulap.
Gulap pun berpikir keras bagaimana cara membuat sang Raja marah. Jika hal itu terjadi, tentu sang Rajalah yang akan dijual sebagai budak ke luar negeri.
�Hmmm� aku harus melakukan sesuatu agar sang Raja marah,� gumamnya.
Pemuda cerdik itu pun segera membuat lubang besar untuk pembuangan daun-daun tebu. Setelah itu, ia membersihkan daun-daun tebu itu lalu membuangnya ke dalam lubang yang telah dibuatnya. Setelah selesai, ia kembali ke istana untuk melapor kepada sang Raja.
�Ampun, Baginda. Hamba telah menyelesaikan tugas hamba,� lapor Gulap.
�Bagus, Gulap. Kamu memang pemuda yang tekun dan rajin,� puji sang Raja.
Namun, alangkah murkanya sang Raja ketika memeriksa kebun tebunya. Seluruh tanaman tebunya telah gundul.
�Hai, Gulap. Kenapa kamu menggundul semua tanaman tebuku?� tanya sang Raja dengan kesal.
�Apakah Baginda marah kepada hamba?� Gulap balik bertanya.
�Iya, aku sangat marah. Kamu telah menggundul seluruh tanaman tebuku, padahal belum saatnya dipanen,� jawab sang Raja dengan muka merah.
�Ampun, Baginda. Masih ingatkah dengan janji yang pernah Baginda ucapkan?� tanya Gulap.
Sang Raja pun terdiam. Ia baru sadar bahwa dirinya telah melanggar janji.
�Iya, kamu benar. Aku pernah berjanji bahwa jika aku marah karena perbuatanmu, akulah yang akan dijual sebagai budak,� kata sang Raja, �Tapi, aku mohon jangan jual aku, Gulap! Aku berjanji akan menikahkanmu dengan putriku.�
�Baiklah, Baginda. Tapi, hamba pun mempunyai satu permintaan,� kata Gulap.
�Apa permintaanmu, Gulap?� tanya sang Raja.
�Hamba mohon agar keenam kakak hamba ditebus dan dibawa ke istana,� pinta Gulap.
Sang Raja pun memenuhi permintaan Gulap. Setelah keenam kakaknya dikembalikan ke istana, pernikahaan Gulap dengan sang Putri pun dilangsungkan dengan meriah. Keduanya pun hidup berbahagia. Untuk melengkapi kebahagiaan itu, Gulap memboyong ibu dan saudara-saudaranya untuk tinggal di istana.
Beberapa tahun kemudian, Gulap dinobatkan sebagai raja menggantikan mertuanya yang sudah tua. Sejak itulah, Gulap memimpin kerajaan itu dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup aman, tenteram, dan sejahtera.
* * *
Demikian cerita Si Gulap yang Sabar dari daerah Bengkulu. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang sabar seperti Gulap pada akhirnya akan mendapat kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang suka marah seperti keenam kakaknya akan menerima ganjarannya, walaupun pada akhirnya mereka dibebaskan dari perbudakan.
Baca selengkapnya